Home Seni Budaya Pameran Kartun TELAT NGGUYU-2 Karya Anwar Rosyid dan Kartunis Pakarti

Pameran Kartun TELAT NGGUYU-2 Karya Anwar Rosyid dan Kartunis Pakarti

Oleh Munadi

191
0
SHARE
Pameran Kartun TELAT NGGUYU-2 Karya Anwar Rosyid dan Kartunis Pakarti

Keterangan Gambar : Karikatur Munadi

Kartunis Anwar Rosyid Pulang Kampung? Setelah lama ia merantau ke Jakarta, berburu ide kartun, ngumpul bersama dengan teman-teman kartunis, pelukis yang tinggal diseputaran Jabodetabek, ke mana dan dimana kampung kartunis Anwar Rosyid?

Ya, kabar berita kepergian Anwar Rosyid pulang kampung, kali ini mengejutkan teman-teman kartunis. Anwar Rosyid adalah kartunis senior, pendiri PAKYO ( Paguyuban Kartunis Yogyakarta).

Apakah Anwar Rosyid pulang ke kampung halaman tempat kelahirannya di Yogyakarta? Kendaraan (alat transportasi ) yang digunakan untuk pulang kampung, apakah ia naik pesawat terbang, mobil, motor, apa kereta? Akhirnya kepastian kabar berita, bahwa Anwar Rosyid pulang  kampung sungguh benar terjadi. Kendaraan yang digunakannya sebagai alat transportasi adalah Keranda Jenazah. Sanak-keluarga, tetangga, teman dekat, teman jauh, semua ikut mengantar Anwar Rosyid. Sesampai di pintu gerbang kampung halaman dengan diringi doa, Anwar Rosyid benar-benar pulang ke Kampung Akhirat. Kampung akhirat adalah kampung tujuan terakhir bagi semua orang yang hidup di dunia. Tinggal di kampung dunia hanya sebentar, namun Kampung Akhirat adalah kampung yang kekal abadi, berada dekat dengan pangkuan Tuhan Yang Maha Pencipta. Segala amal kebaikan-kerja manusia menjadi modal untuk bekal di kampung akhirat. Semoga, segala jerih payah dan usaha kerja kreatif Almarhum Anwar Rosyid sebagai kartunis, pelukis sepanjang hidupnya selama 76 tahun, menjadi modal untuk bekal di negeri kampung akhirat yang kekal abadi. Anwar Rosyid lahir pada 7 Desember 1950, dan wafat pada tanggal 7 Mei 2026.

Apakah Anwar Rosyid yang sudah pulang ke kampung akhirat bakal kembali lagi dan ngumpul di tengah-tengah, bersama para kartunis yang tergabung di PAKRTI ( Persatuan Kartunis Indonesia ), dan para pelukis/perupa lainnya yang sering muncul dan ngumpul bersama, antara lain di gedung Balai Budaya Jakarta? Tentu, yang kembali ngumpul di tengah-tengah kita adalah karya kartunnya yang sejak tahun 1970an, 1980an sudah banyak menghiasi halaman koran, majalah. Sosok Anwar Rosyid yang berpenampilan tenang-ngguyu, tidak bakal muncul lagi, yang muncul dan menjadi ingatan kuat di tengah-tengah kita adalah sosok karya-karya kartun dan lukisannya. Sosok hasil karyanya yang terus hidup dan menginspirasi dalam pertumbuhan-perkembangan dunia kartun di Indonesia. Sejatinya, kartun karya Anwar Rosyid sangat menginspirasi para kartunis pemula. Penulis masih ingat ketika masih belajar ngartun pada tahun 1980an, sering kali bolak-balik membuka halaman Majalah Intisari. Pada halaman Majalah Intisari edisi tahun 1980an sering memuat gambar kartun karya Anwar Rosyid. Ide-ide kartunnya sangat segar, kecerdasan imajinasi, intuisi, dan kekuatan ungkapan visual humor ( originalitas )nya sangat kuat, sehingga mampu atau dapat menancap di kepala para pembaca yang mengamati, menyimak karya-karya kartun Anwar Rosyid. Majalah INTISARI, adalah salah satu media cetak yang pada halamannya sering memuat gambar kartun. Untuk dapat dimuat pada halaman Majalah Intisari sungguh tidak mudah, karena redaksi memberlakukan sistem melalui proses seleksi untuk dapat di muat di halaman Intisari. Penulis sendiri merasakan, betapa beratnya untuk bisa dimuat di halaman Majalah Intisari. Sejak tahun 1990an, sudah sering kirim kartun. Namun tahun 2000an tepatnya 2004 baru bisa di muat di halaman Majalah Intisari. Senang dan bangga karena mendapatkan kiriman wesel dan majalahnya, dan yang paling menggembirakan adalah niat kita untuk bekerja menjadi kartunis terus terpacu dan termotivasi untuk terus berkarya.

Era zaman media cetak ( koran, majalah ) seperti sekarang sudah berlalu. Kartunis bekerja perlu meluaskan pandangan kedepan, berani membuka diri pada perspektif wacana dan praktek seni rupa. Kartun adalah salah satu bagian ( bentuk ) karya seni rupa.Karakter kartun yang mendalami sisi ruang media cetak ( koran, majalah ) mempunyai perspektif sendiri, karena media cetak seperti koran, majalah adalah ( alat ) komunikasi/informasi untuk berbagai lapisan masyarakat  menengah, atas, dan masyarakat  bawah, yang tentu tingkat pendidikan atau wawasannya berbeda. Karena hal ini, maka para kartunis dalam membuat kartun untuk dimuat di media cetak perlu mempunyai tingkat wawasan, agar kartun yang dibuatnya bisa dipahami, dimengerti, dan pada akhirnya ide kartun tersebut bisa sampai di benak pembaca, kekuatan unsur humor, ide/gagasan tema karya, dan kekuatan tarikan garis, kesederhanaan bentuk ( visual ) menjadi ukuran Kartunis dalam mengeksekusi karya. Karena gambar kartun yang berada di sudut halaman media cetak perlu memperhatikan karakter media cetak, antara lain media cetak saran bacaan informasi atau bacaan yang cepat untuk disimak dari berbagai lapisan asyarakat pembaca, dan durasi serta isi berita yang disampaikan sudah berbeda untuk hari kedepan atau esok.

Walau demikian, surat kabar / koran, majalah pada penerbitan halamannya biasa mempunyai lembar halaman Opini, seperti rubrik Tajuk Rencana, kolom tulisan para kolumnis dari berbagai pakar, ilmuan, budayawan, akademisi, peneliti, dan berbagai kalangan lainnya untuk mengisi tulisannya di lembar halaman Opini.

 Nah, biasanya pada lembar halaman  Opini, memuat juga Gambar Karikatur, yang mengangkat tema berita aktual selama seminggu. Karikatur pada halaman opini sebelum dimuat, tentu melewati pembahasan, diskusi di meja dewan redaksi agar karya yang dibuat tidak hanya kuat sisi humornya, juga kuat pesan kritikan atau pendapat yang mencerminkan sikap atau pandangan media atau koran/majalah yang bersangkutan untuk menanggapi kondisi atau berita yang sedang hangat dalam bentuk gambar karikatur.

Realitas visual kartun - karikatur terus tumbuh-berkembang mengikuti irama zaman dan kemajuan teknologi. Menjadi kartunis adalah ya, juga sekaligus menjadi pelukis. Kartunis yang kuat daya nalar, majinasi, akan terus membuka diri dalam bekerja. Inilah yang nampak pada diri Anwar Rosyid. Setelah era media cetak mulai tenggelam dan perlahan-lahan melenyap seperti ditelan perjalanan waktu ( zaman ), Mas Rosyid terus berkarya membuat kartun dengan sepenuh hati dan jiwa. Hasilnya sungguh mengejutkan, pada penampilan pameran tunggalnya tahun 2023 di Gedung Balai Budaya, karya kartun Anwar Rosyid banyak yang sudah berubah secara visual  nampak coretan tarikan garis yang semakin liar, warna-warna gambarnya bebas meluncur ke luar seperti air kran lupa ditutup kembali, sehingga 'ngucur' ke luar meluber ke lantai tanpa henti, dan memunculkan bentuk karakter lukisan yang lahir dari kegelisahan, kedalaman jiwa/batin Anwar Rosyid. Namun itu sebenarnya adalah lukisan kartun yang sudah membebaskan diri untuk tidak terikat lagi pada media cetak ( koran, majalah ).

 Jika kita melihat karya lukisan Heri Dono, maka sesungguhnya nampak kekuatan daya humor kartunnya sangat tinggi. Heri Dono di awal tahun 1980an juga membuat kartun, dan kartun karya Heri Dono masuk dalam katalog ( hal.158 ) bersama karya Anwar Rosyid ( hal. 50 ) dalam Pameran CANDA LAGA MANCA NEGARA 1, International Cartoon Festival 1988 di Semarang. Senantiasa, karya Almarhum (Mas ) Anwar Rosyid menginspirasi dan memotivasi kita untuk terus berkarya dan bekerja. "Selamat beristirahat dengan tenang di Kampung halaman Akhirat, Mas Rosyid,"

Pameran Kartun "Telat Ngguyu-2" LIBIDO re mi fa sol, karya Almarhum Anwar Rosyid dan karya kartun-partisipasi anggota PAKARTI ( Persatuan Kartunis Indonesia ) berlangsung: 22-29 Mei 2026, di Gedung Balai Budaya, Jakarta - Pusat. Pameran ini terlaksana atas dukungan dan kerja sama Kampoeng Semar Borobudur, Balai Budaya, dan Pakarti.

                                                  ***

Video Terkait: