
Keterangan Gambar : kolase foto aboe
JAKARTA, parahyangan-post.com- Suasana haru dan juga semangat ’pembebasan’ berkobar dalam acara “Malam Solidaritas dan Doa Kemanusiaan untuk Gaza”, di Graha Granadi, Jakarta, Jumat malam, 22 Mei 2026.
Kegiatan yang diinisiasi Global Peace Convoy Indonesia (GPCI), setidaknya memunculkan dua sisi berlawanan, pertama kebahagiaan serta harapan atas dibebaskannya sembilan relawan Indonesia oleh tantara Israel yang telah menangkap mereka di laut internasional, sejak lebih seminggu lalu.
Yang kedua adalah kemarahan dan kutukan atas kebidaban Israel yang tak pernah henti dan selalu melakukan pelanggaran hukum internasional.
Pada malam itu, dua suasana berbeda itu bercampur dalam aliran testimoni menyentuh oleh keluarga aktivis di Indoensia (isteri-anak-ibu), dan rekan-rekan jurnalis yang ditangkap, yang memantau pergerakan mereka dari balik layar redaksi di kantor masing-masing.
Kehadiran jurnalis dan keluarga aktivis memberikan testimoni membuat suasana malam solidaritas jadi sangat bermakna dan berbeda. Ada harapan dan doa yang selalu mengalir untuk rakyat Palestina yang tertindas.
Bukan Sekadar Doa
Acara dimulai dengan pemutaran slide dan video konvoi motor solidaritas yang telah digelar GPCI di berbagai kota Indonesia. Layar utama menayangkan barisan relawan yang menyuarakan dukungan untuk Gaza, yang dipimpin langsung oleh Ustadz Bachtiar Nasir.
Kemudian slide berisi foto-foto para relawan Indonesia yang ditangkap Israel di atas kapal.
Selain testimoni oleh wartawan dan keluarga jurnalis, panggung utama juga diisi oleh kesaksian dan paparan para aktivis dan tokoh nasional, dan juga dari Malaysia, yang ’geram’ melihat perlakuan tidak manusiawi terhadap aktivis Global Sumud Flotila yang ditangkap angkatan laut Israel.
Koordinator acara yang juga Penasehat GPCI, Ustadz Bachtiar Nasir menegaskan bahwa malam solidaritas tidak boleh berhenti pada solidaritas dan doa semata.
“Kita harus naik kelas. Dukungan moral perlu dikuatkan dengan jalur hukum dan diplomasi. Palestina butuh advokasi yang sistematis, profesional, dan berkelanjutan,” ujarnya.
Untuk merealisasikan gagasannya, UBN, -sapaan akrab Ustad Bachktiar Nasir- bersama pengacara yang banyak menulis buku tentang Palestina, Abdul Chair Ramadhan, menginisisiasi lahirnya Asosiasi Advokasi Nasional untuk kemerdekaan Palestina.
Asosiasi ini nantinya akan menjadi wadah pengacara, aktivis hukum, dan akademisi Indonesia untuk mengawal kasus penahanan relawan kemanusiaan, mengajukan gugatan internasional, serta memperkuat upaya hukum bagi kemerdekaan Palestina di forum PBB dan Mahkamah Internasional.
“Indonesia tidak bisa hanya bersuara. Kita harus hadir dengan kekuatan hukum. Ini saatnya para lawyer bangsa bergerak,” tegasnya.***(pp/aboe)
Sembilan Aktivis GPCI yang dibebaskan:
1. Herman Budianto Sudarsono. (GPCI - Dompet Dhuafa) Kapal Zapyro
2. Ronggo Wirasanu. (GPCI - Dompet Dhuafa) Kapal Zapyro
3. ? Andi Angga Prasadewa - (GPCI - Rumah Zakat) Kapal Josef
4. ASAD ARAS MUHAMMAD - (GPCI - Spirit of Aqso) Kapal Kasr-1
5. Hendro Prasetyo. (GPCI - SMART 171) Kapal Kasr-1
6. ?Bambang Noroyono. (REPUBLIKA) Kapal BoraLize
7. ?Thoudy Badai Rifan Billah (REPUBLIKA) Kapal Ozgurluk
8. ?Andre Prasetyo Nugroho - (Tempo) Kapal Ozgurluk
9. Rahendro herubowo (GPCI - iNewsTV, Berita1, CNN
kapal Ozgurluk






LEAVE A REPLY