Home Opini Islam Mampu Memenuhi Semua Kebutuhan Anak Serta Penjagaannya

Islam Mampu Memenuhi Semua Kebutuhan Anak Serta Penjagaannya

144
0
SHARE
Islam Mampu Memenuhi Semua Kebutuhan Anak Serta Penjagaannya

Oleh: Silvia Casmadi, Mahasiswi Universitas Gunadarma 

Pandemi Covid-19 sampai saat ini masih mengalami kenaikan kasus. Keadaan ini tentu sangat berdampak pada anak-anak berjibaku pergi ke sekolah dan kembali bergaul dengan teman sebayanya. Padahal sebelumnya mereka asyik main di rumah dengan keluarga atau tetangga terdekat saja. Masa transisi mau tidak mau dialami oleh mereka, dan sebanyak 31.7 persen mereka mudah menangis ketika harus bertemu orang baru. Sebanyak 31.5 persen orang tua menganggap anaknya belum terbiasa berinteraksi dengan orang lain. Sebanyak 14.8 persen orang tua menyebut anaknya mengalami keterlambatan berbicara. 

Selain itu ada 13 persen orang tua lainnya mendapati anaknya tak punya kemampuan untuk merespon orang lain. Survei ini dilakukan terhadap 1.232 orang tua yang mengalami kendala saat mendampingi sang anak dalam memasuki masa transisi. Pandemi beberapa tahun ini memaksa anak harus berdiam diri di rumah dengan alasan demi kesehatan namun mereka kehilangan waktu untuk berinteraksi dengan dunia luar. 

Melalui fakta-fakta yang ada, peringatan HAN pada 23 Juli 2022 lalu diharapkan menjadi momentum mewujudkan negara ramah anak dan mengangkat kepedulian serta partisipasi entitas komponen bangsa Indonesia untuk lebih peduli dan menjamin pemenuhan hak-hak terhadap anak agar mereka memiliki tumbuh kembang sebagaimana mestinya. 

Banyak harapan yang ditumpukan kepada anak-anak Indonesia bahwa mereka adalah calon pemimpin bangsa. Mereka diharapkan menjadi generasi emas yang cerdas, sehat, unggul, berkarakter. Namun calon pemimpin bangsa tersebut harus dihadapkan dengan berbagai kasus atau tindak kriminal yang terjadi akhir-akhir ini. 

Salah satunya, kasus ibu kandung yang menganiaya bayi usia lima bulan hingga tewas di Surabaya, Jawa Timur. Hingga kasus terbaru bullying terhadap anak SD hingga trauma dan berujung kematian di Tasikmalaya, Jawa Barat. Kasus tersebut hanya contoh dari banyaknya kasus yang menimpa anak Indonesia.

Jika ditelaah lebih dalam, penyebab kasus-kasus yang menimpa anak-anak karena sistem demokrasi-kapitalis di negeri ini yang berasaskan pemisahan agama dengan sistem kehidupan atau sekularisme. Mengapa sekularisme menjadi kambing hitamnya? Sistem tersebut telah mengikis fitrah hingga kewarasan seorang ibu. Pemahaman dan pemikiran orang tua terutama ibu akhirnya terbebani dengan pandangan segalanya berorientasi pada materi yang menuntun manusia berpikir secara instan dan mengesampingkan agama demi menjunjung tinggi hak kebebasan. Akbiatnya keluarga kehilangan ruhiyah dan perannya menjadi pincang.

Belum lagi kenaikan harga bahan pokok yang menunjang kehidupan primer masyarakat, menjadikan orang tua harus bekerja dengan keras, hingga perhatian kasih sayang terhadap anak berkurang dengan beralaskan untuk memberikan fasilitas terbaik kepada anak. Nyatanya masih banyak di luar sana anak-anak yang terlantar karena kemiskinan. 

Selain itu, terdapat sebanyak 797 korban kekerasan seksual terhadap anak sepanjang Januari 2022. Data bersumber dari laporan Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (Simfoni PPA) (kompas.com, 04/03/2022).

Pandangan sekuler ini mengarahkan mereka dalam pemenuhan kebutuhan pokoknya tidak memedulikan halal dan haram, bahkan melalaikan kewajiban lainnya semisal pengasuhan anak. Di sisi lain sistem demokrasi di negara Indonesia tidak menjalankan peran dan fungsinya sebagai penyangga keluarga. Sistem tersebut melepaskan tanggung jawab pemenuhan kebutuhan pokok dan jaminan kesejahteraan diserahkan kepada masing-masing individu. Akibatnya hal tersebut membuat kewarasan masyarakat terutama ibu terganggu sehingga perannya tidak maksimal dalam mendampingi tumbuh kembang anak.

Pada akhirnya munculah turunan permasalahan dari kecacatan sistem demokrasi yang berakidah sekuler ini. Secara langsung maupun tidak langsung anak-anak menjadi korbannya, dari orang tua yang mengalami penurunan pendapatan bahkan hilangnya pekerjaan tentu sangat memengaruhi pola asuh mereka kepada anak-anak, tindak kekerasan oleh orang tua yang kewarasannya terganggu oleh tuntutan pemenuhan hidup, korban bullying teman-temannya, hingga kekerasan ataupun pelecehan seksual oleh orang terdekat maupun orang asing di sekitarnya.

Penampakan sistem demokrasi yang mengusung kapitalisme-sekular ini semakin nyata dari cara pemerintah dalam mengambil kebijakan, termasuk pengabaian penguasa terhadap masyarakatnya. Tidak hanya di Indonesia, melainkan di seluruh dunia mengambil konsep penanganan pandemi Covid-19 berbasis herd immunity dengan mengandalkan sistem kekebalan tubuh. Upaya vaksinasi sebagai booster kekebalan tubuh terus dilakukan kepada masyarakat, namun anehnya vaksinasi yang diserukan kepada masyarakat tidak didukung dengan pembatasan mobilisasi manusia dari area yang terkontaminasi wabah. Tentu virus akan tetap ada bahkan terus bermutasi.

Inilah akibat yang bisa dirasakan jika mengabaikan cara Islam dalam penanganan pandemi Covid-19. Padahal sejak wabah ini muncul di akhir 2019, Indonesia sama sekali bersih dari virus Covid-19. Namun terlihat dari kebijakan yang diambil, seolah-oleh kesehatan masyarakat bukan masalah yang seserius kepentingan korporasi dan kenyamanan kaum elit sehingga tidak ada kebijakan yang benar-benar memutus mata rantai virus tersebut. Faktanya ratusan juta jiwa di seluruh dunia dipertaruhkan keselamatannya, termasuk menjadikan anak-anak kehilangan orang tua mereka. 

Penjagaan Anak dengan Sistem Islam 

Dalam Islam, negara sebagai pengurus, penjaga dan pelindung rakyatnya. Khususnya kepada anak-anak, Islam memberi perhatian penuh. Anak bukan sekadar aset negara, Islam memandang anak sebagai karunia yang mahal harganya karena ia adalah amanah yang diberikan oleh Allah SWT. Karenanya mereka wajib dijaga oleh orang tua, masyarakat dan negara.

Perlindungan dalam Islam meliputi fisik, psikis, intelektual, moral, ekonomi dan lainnya. Hal ini dapat dipahami dalam bentuk pemenuhan semua hak-haknya, jaminan terhadap sandang dan pangannya, penjagaan nama baik, martabat dan kesehatannya. Selain itu pemilihan teman bergaul yang baik serta penjagaan dari kekerasan, pelecehan dan tindakan buruk lainnya.

Islam menyediakan tiga pihak yang berkewajiban menjaga dan menjamin kebutuhan anak-anak. Pertama, keluarga sebagai madrasah utama. Orang tua harus bersinergi mendidik, mengasuh dan mencukupi gizi anak, serta keimanan dan ketakwaannya kepada Allah SWT.

Kedua, masyarakat sebagai pencipta lingkungan yang kondusif bagi tumbuh kembang anak. Masyarakat berperan sebagai pengontrol perilaku anak dari kejahatan dan kemaksiatan.

Ketiga, negara sebagai periayah utama yang berfungsi memberikan pemenuhan kebutuhan pokok anak berupa sandang, pangan, papan, pendidikan kesehatan dan keamanan setiap anak.

Seperti itulah sistem Islam kaffah (menyeluruh) dalam memenuhi semua kebutuhan anak serta penjagaannya. Tentunya mendidik dan membentuk generasi cemerlang haruslah berlandaskan dengan sistem yang berasaskan syariat Islam, yaitu dengan Daulah Khilafah Islamiah.(*)