Home Seni Budaya Perempuan Tangguh, Indonesia Tumbuh: Perempuan Berdaya dan Kebangkitan Nasional

Perempuan Tangguh, Indonesia Tumbuh: Perempuan Berdaya dan Kebangkitan Nasional

237
0
SHARE
Perempuan Tangguh, Indonesia Tumbuh: Perempuan Berdaya dan Kebangkitan Nasional

DENMARK - Parahyangan Post - Perhimpunan Eropa untuk Indonesia Maju (PETJ) menyelenggarakan ngobrol online melalui Zoom, mengangkat judul ”Perempuan Tangguh, Indonesia Tumbuh” pada Minggu, 23 Mei 2022 pukul 10 hingga 12 waktu Eropa Tengah atau pukul 15 hingga 17 Waktu Indonesia Barat. Narasumber ngobrol online ini ialah Dewi Savitri Wahab, Duta Besar Denmark dan Lithuania; MY Esti Wijayati, Komisi VIII DPR RI dan Mardiyah Chamin, jurnalis senior dan mantan Direktur Tempo Institute. 

Kegiatan bertema Perempuan Berdaya dan Kebangkitan Nasional ini dalam rangka memperingati  Hari Perempuan Internasional 8 Maret, Hari Kartini 21 April, Hari Pendidikan Nasional 2 Mei dan Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei. Kegiatan ini sekaligus mengumumkan pemenang Lomba Menulis Terinspirasi Surat Kartini bagi masyarakat umum sejak 17 April hingga 22 Mei 2022. Saat lomba ditutup, panitia menerima 315 karya dari seluruh pelosok Indonesia maupun manca negara.

”Semakin terbuka peluang bagi perempuan Indonesia menunjukkan kemampuannya di bidang-bidang yang dulu dianggap didominasi oleh kaum pria seperti dunia diplomat yang saya jalani ini. Ibu Retno Marsudi, Menteri Luar Negeri RI kini adalah perempuan, bahkan menjabat dua periode. Beliau sangat peduli untuk membuka kesempatan bagi perempuan berkarya di dunia diplomat. Lima tahun terakhir, sekitar 70% yang melamar di Kementerian Luar Negeri ialah perempuan. Harapannya di masa depan, lebih banyak perempuan berkiprah sebagai diplomat yang mumpuni, mewakili Indonesia di luar negeri,” kata Dewi Savitri Wahab, Duta Besar Denmark dan Lithuania.

”Kiprah perempuan Indonesia di berbagai lapisan masyarakat di Tanah Air pun tak kalah hebatnya. Meskipun terkadang kurang terdengar gaungnya. Banyak perempuan berwirausaha lewat Usaha Mikro, Kecil, Menengah (UMKM), mengajak masyarakat setempat melindungi lingkungan alam di sekitar tempat tinggalnya, bahkan dipercaya menjadi juru runding konflik adat dan sosial, misalnya di Aceh dan Poso. Juga ada Sakdiyah Ma’ruf, stand-up komedian perempuan Indonesia, yang mengajak masyarakat berpikir kritis akan isu-isu penting seputar perempuan dan muslimah lewat lontaran gurauan segarnya,” ungkap Dewi Savitri Wahab yang pernah menjabat sebagai Konsulat Jenderal perempuan pertama di Melbourne, Australia.

”Peran perempuan Indonesia di luar negeri juga sangat signifikan. Baik yang masih menjadi Warga Negara Indonesia (WNI) maupun memilih menjadi Warga Negara Asing (WNA) di negara tempat domisilinya. Misalnya membuka pintu rumahnya bagi para mahasiswa Indonesia yang baru datang untuk studi di luar negeri, membuka akses informasi penting terkait kehidupan di luar negeri, menyediakan makanan tradisional Nusantara untuk mengobati rasa rindu kampung halaman, melestarikan dan mempromosikan aneka ragam budaya Nusantara di luar negeri kepada dunia dan berbagai peran penting lainnya,” ungkap Dewi Wahab, salah satu dari empat perempuan Indonesia yang kini menjabat sebagai Duta Besar di Eropa. ”Saya sangat apresiasi peran perempuan Indonesia di luar negeri yang memastikan perbedaan sebagai kekayaan dan keanekaragaman sebagai kekuatan bangsa Indonesia. Berbeda pendapat dan kepentingan itu wajar, namun bukan untuk memecah belah  dan menimbulkan keributan. Kerukunan sebagai satu keluarga besar masyarakat Indonesia yang tinggal di luar negeri mutlak perlu dijaga. Berkiprah sesuai bidangnya masing-masing. Bekerja sama, berkontribusi bagi Tanah Air,” tambahnya.

Sedangkan MY Esti Wijayati, Anggota Komisi VIII DPR RI, menceritakan pengalamannya dalam mengawal Rancangan Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (RUU TPKS) disahkan menjadi UU pada 12 April 2022. Selama bertahun-tahun, RUU TPKS mengalami gejolak pro dan kontra, baik di masyarakat maupun di antara anggota dewan. ”Jejaring aktivis perempuan sangat serius memberikan masukan dalam memperjuangkan disahkannya UU TPKS. UU ini sangat penting sebagai payung hukum, perlindungan bagi korban kekerasan seksual yang mayoritas adalah perempuan dan anak. Korban kekerasan seksual bagai fenomena gunung es. Satu dibuka, muncul lebih banyak kasus lain. Jika tidak ada payung hukum, korban tidak berani melapor karena takut mendapat pelecehan di ruang-ruang yang seharusnya memberikan perlindungan,” tegasnya. ”Para perempuan di Badan Legislatif, Panitia Khusus Pembahasan RUU TPKS, sepakat memperjuangkan disahkannya UU TPKS, tanpa mempermasalahkan beda partai. Apalagi didukung oleh Ketua DPR RI kini juga perempuan. Hal ini serupa dengan perjuangan sebelumnya, dimana perempuan bersama memperjuangkan kepastian keterwakilan 30% perempuan bakal calon legislatif. Koordinasi perempuan lintas partai ini sangat perlu untuk mengawal disahkannya peraturan dan program yang berhubungan dengan kepentingan perempuan,” tambahnya. 

Mardiyah Chamim, penulis senior, berbagi pengalaman mengumpulkan cerita perempuan dari berbagai pelosok Indonesia dan manca negara dalam : www.puanindonesia.com yang dikelolanya, selepas 21 tahun berkarya di Tempo. ”Perempuan Indonesia punya kemampuan di berbagai bidang, namun kadang meredupkan cahayanya sendiri, merendahkan kemampuannya sendiri. Padahal mereka telah melakukan banyak hal yang penting dan bermanfaat bagi lingkungan dan masyarakat misalnya. Perlu ditumbuhkan kepercayaan diri serta lingkungan pergaulan yang sehat dan mendukung perempuan berani menunjukkan kemampuannya di berbagai bidang,” tegasnya. 

PETJ rutin menggelar ngobrol online Serius Santai, Bertukar Pengalaman, Berbagi Harapan (SARAPAN) untuk menyebarkan berita baik tentang individu, komunitas, lembaga yang terbukti beraksi nyata membangun Indonesia Maju di berbagai bidang. Selain itu juga membuka wawasan, memotivasi dan menginspirasi untuk berkontribusi positif mendorong Indonesia Maju. PETJ menghimpun masyarakat Indonesia di 19 negara di Eropa untuk mengawal pemerintahan yang sah mewujudkan Indonesia Maju dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

(rd/ant/pp)