Jakarta, parahyangan-post.com- Indonesian Council on World Affairs (ICWA) memenuhi undangan Wapres Indonesia ke 10 dan 12 HM Jusuf Kalla di kediamannya, Kamis 12 Maret 2026.
Dalam kesempatan tersebut mereka bertukar fikiran secara mendalam tentang masalah-masalah internasional. Beberapa isu penting yang disampaikan oleh ICWA pada diskusi tersebut adalah sebagai berikut:
Timur Tengah.
- Konflik di Timur Tengah, khususnya konflik Israel-Palestina, memiliki akar sejarah yang kompleks, yaitu : (a). Persaingan wilayah dan sumber daya. Konflik atas wilayah dan sumber daya alam, seperti air dan minyak, telah berlangsung selama puluhan tahun, (b). Pendudukan yang dilakukan Israel atas wilayah Palestina sejak 1967 dan pembangunan permukiman Yahudi di wilayah tersebut (c). Proses perdamaian yang gagal dan kurangnya kepercayaan antara kedua belah pihak telah memperburuk situasi. Berbagai insitatif telah dilakukan antara lain melalui perjanjian Camp David, Persetujuan Oslo, inisiatif Arab dan sebagainya. Namun, inisiatif-inisiatif tersebut gagal karena beberapa alasan, antara lain kekuatan politik yang tidak seimbang.
Board of Peace (BoP).
- Pembentukan Board of Peace (BoP) oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald J. Trump telah menimbulkan berbagai polemik pada tingkat internasional dan dalam negeri serta beberapa masalah yang muncul menyangkut: misi dan tujuan BoP; tingkat keterwakilan anggota BoP; peranan ketua seumur hidup (diemban Presiden Trump); misi dan ”rules of engagement” BoP; dan iuran anggota. Rencana pengiriman 8.000 personil TNI ke Gaza dalam rangka International Stabilization Force (ISF) tanpa ”rules of engagement” yang jelas, tanpa komando/mekanisme PBB sebagaimana lazimnya berlaku bagi suatu ”peace keeping force” serta tanpa suatu mekanisme evaluasi akan mengandung risiko yang membahayakan Pasukan TNI dan tidak dapat dibenarkan.
- Merujuk butir 2, ICWA merekomendasikan agar Pemerintah Indonesia segera mengambil keputusan untuk keluar dari BoP. Hal ini kiranya perlu segera ditempuh agar posisi dan reputasi Indonesia di kancah internasional tetap terjaga sesuai dengan Politik Luar Negeri Bebas Aktif yang menjadi landasan diplomasi Indonesia.
Serangan Israel didukung AS terhadap Iran
- Kondisi di kawasan Timur Tengah semakin memprihatinkan dengan serangan Israel yang didukung AS terhadap Republik Islam Iran yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Seyyed Ali Khamenei dan ratusan penduduk sipil lainnya serta merusak stabilitas kawasan. Akibat serangan Israel dibantu AS terhadap Iran telah berdampak besar terhadap keamanan dan perekonomian regional dan internasional. Perang berkepanjangan di Timur Tengah bisa membuat perekonomian lebih buruk dari masa Covid-19, menurut analis.
- Terkait keinginan Presiden Prabowo Subianto bahwa Indonesia bermaksud menjadi juru damai (mediator) dalam konflik Israel + AS vs Iran, ICWA sepakat dengan Bapak Jusuf Kalla bahwa kedudukan mediator dengan pihak yang bersengketa harus sama. Dalam kasus ini Indonesia adalah berada dibawah (tekanan) AS.
Langkah Indonesia di dalam diplomasi Timur Tengah
- Indonesia kiranya perlu secara aktif melakukan koordinasi dengan Palestina dan negara-negara like-minded anggota berbagai forum multilateral, termasuk Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) dan Gerakan Non-Blok (GNB), guna mengukuhkan sikap politik Indonesia dalam memperjuangkan kepentingan Palestina. Indonesia sebagai anggota BoP perlu menjadi "game changer", mempunyai "leading role" dalam mengkoordinasikan posisi negara-negara yang sehaluan di BoP, dan berani secara konsisten menyuarakan kepentingan negara dan bangsa Palestina secara terbuka dalam proses pengambilan keputusan di BoP.
- Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Darurat Gerakan Non-Blok (GNB) tentang Palestina. Sebagai salah satu pendiri GNB pada tahun 1961, Indonesia memiliki pengalaman dan kredibilitas dalam memimpin organisasi internasional.
Langkah-langkah dalam negeri.
- ICWA berpandangan bahwa Pemerintah Indonesia perlu terus menyatakan secara jelas langkah dan kebijakan Indonesia sesuai dengan politik luar negeri dan prinsip perdamaian dunia sesuai konstitusi UUD 1945. Indonesia juga perlu menjelaskan ke forum internasional langkah-langkah kolektif dari semua negara untuk tetap menjadikan PBB sebagai satu-satunya forum multilateral yang legitimate bagi kemerdekaan, keamanan, kepentingan dan kedaulatan negara Palestina.
Dalam pertemuan itu, Bapak Jusuf Kalla mengharapkan agar partisipasi Indonesia dalam forum internasional seperti Board of Peace (BoP) hendaknya dapat ikut aktif mendorong terciptanya perdamaian dalam konflik geopolitik, dan yang lebih penting adalah tindakan riil BoP di lapangan.
“Ternyata setelah ditandatangani di Davos, 10 hari kemudian Israel didukung oleh Amerika Serikat menyerang Iran. Bagaimana bisa kita menilai bahwa BoP itu sesuai dengan tujuannya kalau demikian?,” tanya Bapak Jusuf Kalla.
Bapak Jusuf Kalla juga mengatakan bahwa konflik yang melibatkan Iran, Israel dan Amerika Serikat membawa dampak ekonomi global, termasuk bagi Indonesia.
Situasi yang tidak kondusif di Timur Tengah dapat mempengaruhi kehidupan ekonomi, sosial, dan politik di kawasan lain termasuk di Indonesia. Sebagai mantan Wakil Presiden RI, Bapak Jusuf Kalla menyatakan bahwa ketegangan di Timteng ini akan berdampak pada beberapa aspek, seperti ekonomi, sosial dan politik
- Ekonomi: Harga minyak dunia dapat naik, yang dapat mempengaruhi inflasi dan pertumbuhan ekonomi di Indonesia.
- Sosial: Konflik di Timur Tengah dapat memicu sentimen keagamaan dan mempolarisasi masyarakat.
- Politik: Situasi di Timur Tengah dapat mempengaruhi keamanan dan perdamaian internasional dan hubungan negara-negara di kawasan termasuk Asia Tenggara.
“Efeknya ke mana-mana, termasuk subsidi, logistik, nilai tukar rupiah, sampai saham,” pungkas Bapak Jusuf Kalla.
Diakhir pertemuan, seraya menyampaikan terima kasih atas kehadiran ICWA melalui undangan yang disampaikan hanya beberapa hari sebelumnya, Bapak Jusuf Kalla juga mengapresiasi ide-ide, gagasan dan rekomendasi tentang masalah internasional yang dibicarakan.
Ketua ICWA, Duta Besar Al Busyra Basnur menyampaikan ucapan terima kasih telah diundang dan ICWA siap berkontribusi secara substantif sejalan dengan prinsip-prinsip politik luar negeri yang bebas aktif dan amanah UUD 1945.
Hadir dalam pertemuan tersebut Dubes Makarim Wibisono (Watap/Dubes RI untuk PBB di New York dan Pelapor Khusus PBB tentang Hak Asasi Manusia di wilayah Palestina, 2014-2016), Dubes Nazaruddin Nasution (Dubes RI di Kamboja, 2000- 2003), Dubes Imron Chotan (Dubes RI di Tiongkok 2010-2013 dan Australia 2003-2005), Dubes Hamzah Thayeb (Dubes RI di Australia 2005-2009 dan Inggris 20112015), Dubes Bunyan Saptomo (Dubes RI di Bulgaria 2012-2016), Dubes Dr. A.M. Fachir (Dubes RI untuk Arab Saudi, Maret – Oktober 2014 dan Dubes RI untuk Mesir 2007-2011), Dubes Hamid Awaluddin (Dubes RI untuk Russia dan Belarus, 20082011), dan Dubes RI untuk Mesir Dubes Lutfi Rauf (Dubes RI di Thailand 2012-2016 dan Mesir 2020-2025), Dr. Dinna Prapto Raharja (Founder, Synergy Policies/Dosen HI Universitas Binus), Dubes Adiyatwidi Adiwoso (Dubes RI di Spanyol 2010-2014 dan Slowakia 2017-2021), Dubes Al Busyra Basnur (Dubes RI untuk Ethiopia 2019-2025 yang juga Ketua ICWA), Dubes Dr. Mohamad Hery Saripuddin (Dubes RI di Nairobi 2020-2025 dan Wakil Ketua ICWA).***(pp/aboe/sp-icwa)
------
Indonesian Council on World Affairs (ICWA) adalah organisasi kemasyarakatan nirlaba yang bersifat terbuka, independen dan berkedudukan di Indonesia. ICWA didirikan sebagai wahana guna menampung aspirasi para pakar, akademisi dan politisi yang mempunyai minat terhadap masalah hubungan luar negeri/internasional. Contact person: Duta Besar Al Busyra Basnur, Ketua Dewan Eksekutif ICWA (WA: 0815-8602-0066).






LEAVE A REPLY