
Keterangan Gambar : Foto : (sumber diolah dengan AI/Gemini/PP)
Oleh : Mikhail Adam
Peneliti Ekopol di Nusantara Centre
Merayakan Indonesia dan membuatnya menjadi “raya serta jaya.” Inilah tema program Nusantara Centre pada bulan juni-juli ini (2026). Program yang disusun untuk menyambut kemerdekaan ke-81. Dan, cara kami merayakannya adalah membuat kelas jenius pikiran para pendiri republik, membukukannya, memfilemkannya dan menyebarkannya dalam semangat “kedaulatan berbangsa dan kesentosaan bernegara.” Wage Rudolf Supratman, adalah tokoh kesembilan dari tujuhbelas tokoh yang terpilih. Mari kita baca, teliti dan teladani.
Ialah nalar puitik dan pemberontak nusantara. Pada suatu pagi, jauh sebelum kata merdeka menjadi milik jutaan orang, seorang pemuda membawa biola berjalan menyusuri jalan tanah yang basah karena sisa hujan semalam. Hembusan angin pelabuhan membawa aroma garam dan bau besi tua kapal-kapal kolonial. Di tangan kirinya, ia menggenggam biola yang sudah mulai pudar pernisnya. Di tangan kanannya, ia membawa buku catatan lusuh berisi coretan-coretan ganjil yang kelak akan mengguncang sebuah tatanan.
Itulah W.R. Supratman. Seorang wartawan muda, pemikir gelisah, musisi yang percaya bahwa nada bisa menjadi letusan pertama bagi sebuah bangsa. Tidak ada pagi itu orang yang menduga, lelaki yang tampak pendiam itu tengah menyusun sesuatu yang akan melampaui perjalanan hidupnya sendiri: Lagu Kebangsaan Indonesia Raya.
Lagu yang dari judulnya saja sudah cukup untuk membuat penjajah gelisah dan gentar. Lagu yang membangunkan kehendak sejarah sebuah bangsa untuk merdeka.
Di zaman ketika suara harus dibisikkan lewat celah-celah ketakutan, Supratman justru memilih menciptakan sebuah lagu yang berbicara lebih lantang daripada pidato mana pun. Lagu itu sederhana, hanya beberapa baris nada, tetapi kelak akan menjadi jantung yang memompa darah perjuangan sebuah bangsa.
W.R. Supratman tumbuh dalam sebuah masa yang penuh luka: Indonesia belum bernama Indonesia, rakyat belum bernama warganegara, dan kebebasan masih sekadar angan dalam kepala-kepala muda.
Sebagai wartawan Pewarta Surabaya, ia menyaksikan betapa kata-kata bisa memotong rantai penindasan. Tetapi ia tahu ada bahasa yang lebih dalam dari tulisan: bahasa musik, bahasa yang tidak memerlukan penjelasan tetapi mampu memukul langsung ke relung hati terdalam.
Dalam sunyi malam, di bawah lampu minyak yang berkerlip seperti nafas terakhir sebuah rezim, ia mengguratkan nada-nada untuk negeri yang bahkan belum merdeka. Kala itu ia seperti tidak hanya menciptakan lagu melainkan merapalkan doa kolektif.
Supratman memahami sesuatu yang dahulu terlalu dini bagi banyak orang: bahwa kemerdekaan bukan hanya soal mengusir penjajah, tetapi soal membangun kesadaran. Kesadaran bahwa bangsa ini layak merdeka. Kesadaran bahwa rakyat ini mampu menentukan nasibnya.
Kesadaran bahwa kemerdekaan harus dimulai dalam pikiran sebelum bisa diwujudkan dalam kenyataan. Dan ia memilih musik sebagai alat untuk membentuk kesadaran itu.
28 Oktober Tahun 1928, di Kongres Pemuda II, Supratman bertugas meliput pertemuan yang kelak disebut Hari Sumpah Pemuda. Alih-alih menulis berita, ia mengambil inisiatif untuk menyanyikan lagu ciptaannya, Lagu Kebangsaan Indonesia Raya.
Lagu itu hadir di ruang dalam dua wajah penuh keresahan dan harapan. Ketika “Indonesia Raya” dimainkan untuk pertama kali, para pemuda terdiam sejenak seperti sedang mendengar petir yang menggelegar di dalam hati mereka sendiri. Di antara mereka ada yang mencatat dalam hati: “Ini bukan lagu. Ini deklarasi politik.”
Di sudut ruangan, Supratman menghayati lagu ciptaannya. “Indonesia Raya” katanya, “adalah pernyataan politik yang tak bisa dibungkam.” Dalam pelataran sejarah, nada-nada Indonesia Raya seperti gejolak kemerdekaan yang mencari jalannya. Kata-katanya seperti seruan masa depan yang mendesak masa kini untuk mempercepat langkahnya.
‘Indonesia Raya’ membangunkan imajinasi bangsa. Ia membelah dunia menjadi dua: Satu dunia kolonial yang membusuk dan satu dunia yang seperti tunas bangsa yang sedang bertumbuh. Lagu ciptaannya tumbuh menjadi akar utama dari identitas nasional. Untuk pertama kalinya, Indonesia terasa dekat. Untuk pertama kalinya, Indonesia terasa mungkin.
Lagu ini kelak berubah menjadi milik jutaan manusia yang bahkan belum dilahirkan. Ia mungkin tidak tahu bahwa suatu hari nada-nada itu akan dinyanyikan oleh anak-anak di sekolah, oleh prajurit di medan pertempuran, oleh atlet yang mengharumkan nama bangsa, oleh hati mereka yang yakin untuk menjadi bagian dari perjuangan dan membangun Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur.
Supratman wafat pada 17 Agustus 1938, tepat tujuh tahun sebelum proklamasi. Ia tidak sempat melihat tanah air menyebut dirinya “merdeka.” Tetapi barangkali, di saat-saat akhir hidupnya, ia sudah melihat kemerdekaan itu lebih jelas daripada siapa pun. Karena ia tahu bahwa kemerdekaan sejati dimulai ketika sebuah bangsa berani membayangkan dirinya merdeka. Dan ia adalah arsitek imajinasi nasional itu.
Wage Rudolf Supratman menghembuskan nafas terakhir dalam kesederhanaan, namun meninggalkan sesuatu yang tak tak ternilai: identitas dan imajinasi. Supratman seperti berkata kepada generasi setelahnya: “Lanjutkanlah perjuangan ini, sempurnakanlah.” Tentu ia tak mati. Ia hanya berselancar ke dunia selanjutnya. Buktinya, sudah lebih dari 80 tahun kita menyanyikan lagu-lagunya.(*)






LEAVE A REPLY