Home Edukasi Ngintip Mahasiswa UIA PPL di SMP 24 Kota B ekasi (4)

Ngintip Mahasiswa UIA PPL di SMP 24 Kota B ekasi (4)

Kelas yang solid, pelajar yang cerdas, kritis dan demokratis

178
0
SHARE
Ngintip Mahasiswa UIA PPL di SMP 24 Kota B ekasi (4)

Sebanyak 14 Mahasiswa Program Perkuliahan Karyawan (P2K) Universitas Islam As-Syafi'iyah (UIA) melakukan Praktik Pengenalan Lapangan (PPL) di SMPN 24 Kota Bekasi, Jawa Barat, selama 3 bulan, mulai Agustus hingga Oktober 2026. Salah seorang mahasiswa yang juga jurnalis  menceritakan pengalaman mengajarnya.

Bekasi, parahyangan-post.com- Keorganisasian di dalam kelas merupakan salah satu elemen pembelajaran yang membuat  suasana belajar menjadi aman, nyaman dan berprestasi. Dengan organisasi yang solid siswa dapat bersaing dengan fair menjadi yang terbaik di dalam kelas, maupun di luar  kelas, dalam lingkup sekolahan. Baik dibidang akademik, olah raga maupun bidang lain.  Ketua Kelas sebagai pemegang tongkat komando bisa menjadi motor penggerak yang memungkinkan kelas tersebut menjadi The Best (yang terbaik).

https://parahyangan-post.com/berita/detail/ngintip-mahasiswa-uia-ppl-di-smp-24-bekasi-3

Mahasiswa PPL mencoba mengamati  efektifitas organisasi ini. Dari pengamatan ditemukan bahwa sistem pemilihan Ketua Kelas  sudah dilakukan dengan demokratis dan transparan. Di kelas 9, pemilihan dilakukan secara langsung dengan sistem one man one vote. Sementara di kelas 7 ditemukan ada yang melalui kesepakatan, tetapi tetap dengan suara yang terbanyak.

Di kelas 9 (seperti yang mereka ceritakan, karena mahasiswa PPL datang jauh setelah  pemilihan dilakukan), para calon  terlebih dahulu diberi kesempatan memaparkan visi dan misi di hadapan teman-temannya. Setelah itu, mereka  menentukan pilihannya melalui pemungutan suara.

https://parahyangan-post.com/berita/detail/ngintip-mahasiswa-uia-ppl-di-smp-24-bekasi-2

Mahasiswa PPL melakukan semacam pengujian terhadap  pilihan pelajar tersebut dengan meminta ketua kelas terpilih menyampaikan pidato sekitar lima menit mengenai tema atau persoalan aktual.

Salah seorang pelajar mengusulkan topik mengenai program Makan Bergizi Gratis (MBG). Topik ini disetujui oleh seluruh pelajar.

Ketua kelas kemudian maju ke depan, berorasi menyampaikan pandangannya tentang MBG.  Dalam orasinya, ia sepertinya   mendukung program tersebut karena dinilai memberikan manfaat bagi pelajar dan membantu pemenuhan kebutuhan gizi. Ia  menceritakan teman-temannya sangat terbantu dan senang adanya program tersebut dan minta program tersebut dilanjutkan.

Orasi tersebut mendapat sanggahan dari pelajar lain. Seorang pelajar, yang tadi mengusulkan tema itu,  membantah argumentasi sang ketua kelas. Ia menyatakan bahwa pelaksanaan MBG tidak sepenuhnya berhasil karena banyak yang keracunan dan menunya kurang layak. Informasi tersebut, menurut pelajar  itu, diketahuinya melalui pemberitaan dan media sosial.

Menariknya, ketua kelas tidak langsung mengalah. Ia tetap mempertahankan argumentasinya. Maka terjadilah adu argumen yang seru. Menurutnya, adanya kejadian tersebut tidak serta-merta menghilangkan manfaat MBG secara keseluruhan. Ia menilai kasus tersebut merupakan bagian kecil yang perlu dievaluasi, sementara manfaat program tetap  besar.

Diskusi tersebut mendapat aplaus yang rius dari seluruh pelajar di kelas itu. Argumentasi Sang Ketua Kelas mendapat pembenaran dan dukungan pelajar lain.

Perdebatan sederhana tersebut justru menjadi bagian menarik dari proses pembelajaran. Para pelajar menunjukkan bahwa mereka tidak hanya menerima informasi, tetapi juga mampu mempertanyakan, memberikan tanggapan dan mempertahankan pendapat berdasarkan informasi yang mereka ketahui.

Mahasiswa PPL sangat terkesan dengan dinamika tersebut. Ternyata remaja usia SMP sudah mempunyai daya kritis dan argumentasi dalam berorasi. Fakta ini  menunjukkan pentingnya memberikan ruang kepada siswa untuk mendiskusikan persoalan aktual. Pemilihan ketua kelas juga tidak semestinya dipandang sebagai kegiatan administratif semata, melainkan dapat menjadi media pendidikan karakter dan keterampilan sosial.

Mahasiswa PPL kemudian menanyakan kepada seluruh siswa, ”Apakah pilihan kalian kepada Ketua Kelas ini sudah benar dan apakah kalian puas dengan  kepemimpinannya?” Seluruhnya menjawab puas dan bahkan ada yang menambahkan dengan yel-yel, lanjutkan...lanjutkan!!.

Di kampus, mahasiswa PPL mempelajari bahwa keorganisasaian di dalam kelas dapat  dimanfaatkan sebagai bagian dari Bimbingan Kelompok. Siswa belajar bagaimana menentukan pemimpin, menghargai pilihan bersama, menyampaikan pendapat, mendengarkan pandangan orang lain, menghadapi perbedaan dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab.

Proses itu juga sejalan dengan pemikiran psikolog Amerika Serikat, Bruce Tuckman, yang pada 1965 memperkenalkan model perkembangan kelompok yang dikenal sebagai Tuckman's Ladder.

Tuckman menjelaskan perkembangan kelompok melalui lima tahap, yakni forming, storming, norming, performing, dan adjourning.

Forming merupakan tahap pembentukan ketika anggota kelompok mulai berkumpul dan saling mengenal. Storming ditandai munculnya perbedaan pendapat atau konflik. Selanjutnya norming, ketika aturan dan kebersamaan mulai terbentuk. Pada tahap performing, kelompok mampu bekerja secara produktif. Adapun adjourning merupakan tahap ketika tugas kelompok berakhir dan dilakukan evaluasi.

Tes ombak yang dilakukan oleh mahasiswa PPL merupakan bagian dari rahapan-tahapan ala Tuckman itu. Yang  dengan munculnya perbedaan. Namun perbedan yang ditemukan tidak terlalu tajam karena keduanya sepakat bahwa orasi  Sang Ketua Kelas diterima  dengan berbagai perbaikan.

Mahasiswa PPL belum  bisa melakukan tahap akhir atau evaluasi, karena masa kepengurusan Ketua Kelas dan perangkatnya masih lama, sementara waktu mahasiswa PPL di sekolah terbatas, yakni sampai Oktober.*** (BERSAMBUNG)