
Keterangan Gambar : “Perdamaian bukan hanya warisan untuk dikenang, tetapi tanggung jawab untuk diteruskan,” ujar Princess Natasha Dematra. (sumber foto : ist/pp)
YOGYAKARTA - Parahyangan Post — Tujuh tahun setelah pertama kali dideklarasikan di Yogyakarta pada 3 September 2019, Hari Perdamaian Nusantara (Nusantara Peace Day) kembali diperingati dengan semangat baru. Peringatan tahun ini berlangsung di tiga lokasi berbeda, melibatkan ratusan anak dan generasi muda dalam rangkaian kegiatan yang membawa pesan perdamaian, toleransi, persaudaraan, keberagaman, dan kemanusiaan.
Salah satu momentum utama peringatan tersebut adalah Pembacaan Ikrar Hari Perdamaian Nusantara. Princess Natasha Dematra memimpin ratusan anak dan generasi muda untuk bersama-sama menyuarakan komitmen mereka dalam menjaga dan meneruskan semangat perdamaian.
Hari Perdamaian Nusantara pertama kali dideklarasikan pada 3 September 2019 di Yogyakarta, bersama dengan perwakilan internasional, tokoh adat, serta berbagai kalangan masyarakat. Hari tersebut digagas oleh mendiang Prince Dr. Damien Dematra, tokoh perdamaian internasional yang dikenal sebagai Sang Pangeran Perdamaian (Prince of Peace).
Sejak awal, Hari Perdamaian Nusantara membawa pesan bahwa keberagaman agama, suku, budaya, ras, maupun latar belakang bukanlah alasan untuk terpecah, melainkan kekuatan untuk membangun persaudaraan dan perdamaian.
Pada peringatan tahun ini, semangat yang lahir dari deklarasi tersebut kembali diperkuat melalui keterlibatan langsung generasi muda.
Dalam Ikrar Hari Perdamaian Nusantara yang dibacakan secara bersama-sama, mereka menyatakan:
“Kami percaya bahwa perdamaian dimulai dari diri kami sendiri.”
Mereka juga berikrar:
“Kami berikrar untuk menjaga persaudaraan dalam keberagaman, memilih dialog daripada kebencian, memilih pengertian daripada prasangka, dan memilih perdamaian daripada kekerasan.”
Pembacaan ikrar tersebut menjadi simbol bahwa Hari Perdamaian Nusantara tidak hanya menjadi sebuah peringatan tahunan, tetapi juga sebuah komitmen untuk menerjemahkan nilai-nilai perdamaian menjadi tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
“Perdamaian bukan hanya warisan untuk dikenang, tetapi tanggung jawab untuk diteruskan,” ujar Princess Natasha Dematra.
Peringatan Hari Perdamaian Nusantara 2026 juga menjadi momentum untuk mengenang dan mendoakan mendiang Prince Dr. Damien Dematra, Sang Pangeran Perdamaian, atas dedikasi dan perjuangannya dalam membangun perdamaian, toleransi, kemanusiaan, dialog lintas agama dan budaya, serta keterlibatan generasi muda dalam gerakan perdamaian.
Meskipun Sang Pangeran Perdamaian telah berpulang, visi dan semangat yang ditanamkannya terus hidup melalui generasi yang meneruskan perjuangan tersebut.
Princess Natasha Dematra menekankan bahwa perdamaian tidak selalu dimulai dari tindakan besar, tetapi dapat tumbuh melalui pilihan-pilihan sederhana dalam kehidupan sehari-hari: menghormati mereka yang berbeda, memilih memahami daripada menghakimi, serta tidak membalas kebencian dengan kebencian.
Rangkaian Hari Perdamaian Nusantara 2026 di tiga lokasi diisi dengan berbagai kegiatan bertema perdamaian, pembacaan sejarah Hari Perdamaian Nusantara, penghormatan dan doa bagi Sang Pangeran Perdamaian, atraksi perdamaian, serta puncak kegiatan berupa Pembacaan Ikrar Hari Perdamaian Nusantara oleh generasi muda.
Melalui peringatan tahun ini, Hari Perdamaian Nusantara kembali membawa pesan bahwa generasi muda bukan hanya pewaris perdamaian di masa depan, tetapi juga memiliki peran untuk menciptakan perdamaian mulai hari ini.
Semangat yang pertama kali dideklarasikan di Yogyakarta pada 2019 dan dirintis oleh Sang Pangeran Perdamaian kini terus hidup dan digaungkan melalui suara generasi berikutnya. - (rat/pp)






LEAVE A REPLY