Home Profil Muslim Nasution, Ketum Alwashliyah Setengah Jalan: Memutus Mata Rantai Sekretariat Ruko

Muslim Nasution, Ketum Alwashliyah Setengah Jalan: Memutus Mata Rantai Sekretariat Ruko

Oleh Ismail Lutan

101
0
SHARE
Muslim Nasution, Ketum Alwashliyah Setengah Jalan: Memutus Mata Rantai Sekretariat Ruko

Keterangan Gambar : dok pb al-wahliyah

Ormas Islam terbesar dari Sumatera, Al Washliyah, yang lahir tahun 1930 di Medan, akan menyelenggarakan Muktamar ke-23 di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, 7-10 Juli 2026. Artikel ini menampilkan profil Ketua Umum periode 2010-2012,   Prof. Dr. H. Muslim Nasution, MA

Masa khidmat Prof. Dr. H. Muslim Nasution, MA sebagai Ketua Umum Pengurus Besar (PB) Al Jam’iyatul Washliyah periode 2010–2012 memang terhitung singkat akibat panggilan Ilahi yang menjemputnya pada Agustus 2012. Kendati demikian, dalam kurun waktu kurang dari dua tahun, sang profesor berhasil menorehkan tinta emas dan membawa perubahan paradigma yang sangat mendasar bagi organisasi Islam yang lahir di Sumatera Utara tersebut. Terpilih secara aklamasi pada Muktamar ke-20 di Jakarta, beliau hadir membawa angin segar dan menjawab ekspektasi besar warga Washliyah untuk mengembalikan marwah organisasi ke jalur khitah perjuangannya.

Baca: H. Aziddin, Ketum Al Washliyah di Masa Reformasi: Jembatan Transisi

Muslim Nasution lahir di Kampung Firdaus, Kecamatan Sungai Rampah, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara pada 1 Januari 1953. Pada akhir 1973, mendapatkan beasiswa untuk belajar di Irak. Muslim merupakan lulusan terbaik di Fakultas Ushuluddin, Universitas Al-Imam Abu Hanifah di Baghdad

Prof. Muslim Nasution dikenal sebagai akademisi dan dikukuhkan sebagai Guru Besar di Fakultas Syariah dan Hukum, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Belaiu juga pernah mengabdikan diri sebagai Kepala Bidang Urusan Haji di Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Jeddah, Arab Saudi.

Akademisi Tegas

Prof. Muslim Nasution membawa warna baru dalam peta kepemimpinan Islam kontemporer. Sebagai seorang Guru Besar di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, beliau memadukan kedalaman ilmu spiritual ulama tradisional dengan ketajaman berpikir seorang akademisi modern. Gaya kepemimpinannya dikenal sangat terstruktur, objektif, dan berbasis solusi. Beliau menolak pendekatan emosional dalam menyelesaikan konflik internal, melainkan mengedepankan dialog ilmiah dan keorganisasian yang sehat.

Di sisi lain, pengalaman birokrasinya sebagai Kepala Bidang Urusan Haji di KJRI Jeddah, Arab Saudi, membentuk karakter kepemimpinan yang berwibawa, karismatik, sekaligus akomodatif terhadap berbagai faksi di dalam organisasi. Beliau mendengarkan arus bawah, namun tetap tegas dalam mengambil keputusan strategis demi kemaslahatan umat.

Mengakhiri Era "Kantor Sewa"

Gebrakan paling monumental dan paling membekas dari kepemimpinan Prof. Muslim adalah keberaniannya memutus rantai ketergantungan properti organisasi di Ibukota. Sejak kantor pusat PB Al Washliyah pindah ke Jakarta pada tahun 1982, organisasi besar ini belum memiliki gedung sekretariat sendiri. Selama lebih dari seperempat abad, aktivitas kepengurusan pusat selalu berpindah-pindah dari satu ruko sewaan ke ruko lainnya. Bagi Prof. Muslim, kondisi ini merupakan hambatan besar bagi wibawa dan independensi sebuah organisasi setingkat nasional.

Dengan komitmen yang kuat, beliau menginisiasi pencarian dan langsung mengeksekusi pembelian sebidang tanah strategis di Jakarta untuk dijadikan Kantor Pusat Permanen PB Al Washliyah. Walau sempat dihadapkan pada keterbatasan dana, keteguhan sikapnya membuat proses pembebasan lahan berhasil disepakati sebelum beliau wafat. Langkah berani ini langsung menaikkan posisi tawar dan kehormatan Al Washliyah di tingkat nasional, sekaligus menjadi fondasi utama pembangunan gedung Al Washliyah modern yang berdiri kokoh saat ini.

Baca: Ridwan Ibrahim Lubis, Ketum Al Washliyah (1986-1997) : Pindahkan Kantor Pusat ke Jakarta

Restorasi Khitah

Selain pembangunan fisik, prestasi non-fisik Prof. Muslim yang tidak kalah penting adalah keberhasilannya merestorasi identitas gerakan (sibghah) Al Washliyah. Beliau dengan tegas menarik organisasi keluar dari pusaran politik praktis yang sempat menjebak kompas gerakan pada periode-periode sebelumnya. Beliau memosisikan kembali Al Washliyah sebagai mitra kritis pemerintah yang fokus penuh pada tiga pilar utamanya: pendidikan, dakwah, dan amal sosial.

Bermodal jaringan internasional yang luas di Timur Tengah, beliau juga merevitalisasi kerja sama luar negeri. Beliau membuka kembali keran beasiswa bagi kader-kader muda Al Washliyah untuk melanjutkan studi ke universitas-universitas ternama di Baghdad, Mesir, dan Arab Saudi guna mencetak kader ulama masa depan yang berwawasan global.***