Home Profil Ridwan Ibrahim Lubis, Ketum Al Washliyah (1986-1997) : Pindahkan Kantor Pusat ke Jakarta

Ridwan Ibrahim Lubis, Ketum Al Washliyah (1986-1997) : Pindahkan Kantor Pusat ke Jakarta

Oleh: Ismail Lutan

169
0
SHARE
Ridwan Ibrahim Lubis, Ketum Al Washliyah (1986-1997) : Pindahkan Kantor Pusat ke Jakarta

Keterangan Gambar : K.H. M. Ridwan Ibrahim Lubis (foto dok pb al-washliyah)

Ormas Islam terbesar dari Sumatera, Al Washliyah, akan menyelenggarakan Muktamar ke-23 di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, 7-10 Juli 2026. Artikel ini menampilkan profil Ketua Umum ke-5 periode 1986-1997, K.H. M. Ridwan Ibrahim Lubis

Sebelum tahun 1986, Al Washliyah sangat identik sebagai kekuatan Islam lokal yang berpusat di Sumatera Utara, berkantor pusat di Jalan Sisingamangaraja, Medan. Gebrakan terbesar dan paling berani dalam sejarah kepemimpinan K.H. M. Ridwan Ibrahim Lubis adalah memindahkan Kantor Pusat PB Al Washliyah  ke Ibu Kota Negara, Jakarta.

Baca: H. Bahrum Jamil, SH., Ketum Al Washliyah Pendiri UISU

Langkah strategis ini bukan sekadar perpindahan administrasi, melainkan sebuah lompatan besar, yang diputuskan dalam Muktamar 16. Pemindahan kantor pusat adalah keputusan politik-organisatoris yang berani, karena melepas identitas Medan sebagai “kandang” Al Washliyah demi ekspansi nasional. Keputusan itu terbukti membuka ruang bagi Al Washliyah untuk tumbuh sebagai ormas Islam yang memiliki jaringan hingga luar negeri seperti Mesir, Malaysia, Yaman, Britania Raya, dan Thailand.

Tujuannya utama pemindahan markas itu adalah menasionalisasikan organisasi. Yakni keinginan untuk membawa Al Washliyah sejajar dan berinteraksi langsung di episentrum kebijakan nasional bersama ormas besar lain seperti NU dan Muhammadiyah.

Tujuan lainnya adalah, perjuangan menembus keterbatasan. Proses migrasi ini penuh tantangan dan perjuangan. Karena masih ada sejumlah tokoh yang tidak rela melepaskannya. Di Jakarta, awalnya, PB Al Washliyah menumpang di kediaman tokoh senior Yunan Helmi Nasution di Tomang, sebelum akhirnya menyewa ruko di kawasan Roxy (Jalan Biak) dan berlanjut ke Jalan Garuda, Jakarta Pusat. Kini Al Washliyah bermarkas di Jl. Ahmat Yani, Jakarta Timur. Kantor sudah milik sendiri.

Semangat Modernisasi

Kepimpinan, K.H. Ridwan Ibrahim Lubis dikenal membawa semangat modernisasi kelembagaan tanpa meninggalkan basis ulama dan tradisi Ahlussunnah wal Jamaah. Ia memperkuat tiga amal usaha utama Al Washliyah, yakni  pendidikan, dakwah, dan sosial.

Sebagai seorang ulama murni sekaligus akademisi yang meraih gelar Doktor,Pemikiran Islam, K.H. Ridwan Ibrahim Lubis memberikan sumbangsih intelektual yang mendalam bagi organisasi. Prestasi terbesarnya dalam memperkokoh jati diri kader termaktub dalam perumusan konsepsi "Shibghah Al Washliyah".

Melalui buku sakunya yang legendaris itu, dia menelurkan gagasan penting mengenai arah gerak organisasi di tengah kerasnya tekanan politik Orde Baru ketika itu.

Arah politik tersebut adalah menjaga independensi organisasi. Al Washliyah, secara organisatoris, menurutnya,  harus independen dan tidak boleh melebur atau mengikatkan diri ke dalam partai politik maupun kekuatan luar tertentu.

Kemudian menjaga prinsip silaturrahmi. Terinspirasi dari esensi kata Al Washliyah yang berarti "menghubungkan", Beliau melahirkan jargon bahwa kader Al Washliyah harus menjadi jembatan perdamaian, gemar bersilaturahmi, serta terbuka bekerja sama dengan ormas maupun parpol mana pun demi kemaslahatan umat Islam. Anggota dibebaskan berpolitik secara pribadi asalkan tidak menunggangi nama institusi.

Warisan Monumental

Kepemimpinan K.H. Ridwan Ibrahim Lubis berhasil mempertahankan dan meningkatkan pilar utama Al Washliyah, yaitu bidang pendidikan dan dakwah. Di bawah arahannya, jaringan madrasah, sekolah, dan perguruan tinggi Al Washliyah terus berkembang dan mampu bersaing dengan tuntutan zaman modern.

Beliau adalah nakhoda yang membawa kapal besar Al Washliyah keluar dari zona nyaman regional menuju panggung nasional. Legacy-nya berupa keberanian memindahkan pusat organisasi ke Jakarta, buku panduan falsafah Shibghah Al Washliyah, serta teladan kepemimpinan yang teduh namun berprinsip kokoh akan selalu hidup dalam ingatan warga Al Washliyin dan Al Washliyaat sepanjang zaman.***