Home Opini Maaak ,... Aku Mau Sekolah..!?

Maaak ,... Aku Mau Sekolah..!?

851
0
SHARE
Maaak ,... Aku Mau Sekolah..!?

Keterangan Gambar : Foto : ilustrasi (sumber foto : ist/pp)

Oleh : Indri Retno P
Mahasiswi Fak Hukum, Universitas Islam As-Syafi'iah 

Anti seorang wanita paruh baya duduk termenung ditepian sungai yang membelah timurnya Jakarta. Ucapan anaknya masih terngiang di telinga nya.

"Mak, aku mau sekolah". Kata itu terus menerus terdengar bak jarum jam yang baru ganti batre, lantang dan tak mau berhenti. 

Semua itu berawal ketika hari pendaftaran sekolah dimulai, Anti sengaja memilih jalur domisili karena dia beranggapan bahwa sekolah yang di tuju anaknya ada di seberang rumahnya. Hanya 70 m jaraknya. Dengan penuh percaya diri Anti pun menemani anaknya daftar sekolah secara daring. Tapi bak disambar petir di siang bolong. Anti kecewa ketika nama anaknya tidak masuk dalam daftar seleksi. 

Bukan karena anaknya bodoh, bukan. Masalahnya ada yang lebih pintar dari anaknya yang nilainya lebih banyak. Anti pun terdiam mencoba untuk menjadi bijaksana didepan anaknya.

"Apa yang harus aku katakan pada anakku, bahwa aku tidak sanggup menyekolahkannya di sekolah swasta", ujarnya lirih, seraha termenung.

Dengan sisa harapan bak api lilin yang sudah mau mati, Anti pun menyempatkan bertanya ke pihak sekolah.

" Assalamualaikum Bu", katanya kepada wanita berhijab, petugas di sekolah itu, yang dia temui.
" Waalaikumsalam" balas petugas wanita itu.
" Apa ada yang bisa saya bantu Bu?", kata wanita itu.
" Iya Bu" jawab Anti.

"Saya ingin menanyakan jalur domisili yang sebenarnya itu bagaimana? . Kebetulan rumah saya kan di depan sekolahan, jaraknya hanya sekitar 70 m, kenapa anak saya terpental dan tidak lolos" kata Anti menjelaskan.

"Oo, ibu belum tau ya. Sekarang ini domisili plus nilai Bu, jadi meskipun ibu rumahnya di depan sekolah, kalo nilainya kurang,ya nggak bisa daftar" jawab wanita itu.

"Tapi Bu. Ini kan jalur domisili, bukan prestasi, harusnya sesuai dengan tempat tinggal terdekat, bukan nilai yang terbanyak" kata Anti tidak mau kalah.

"Iya Bu, memang sudah menjadi peraturannya seperti itu, "jawab wanita itu.

"Peraturan siapa?,  Siapa yang membuat peraturan sesuai domisili tapi yang dilihat nilainya?

Saya nitip tolong sampaikan ke si pembuat peraturan, tolong bedakan antara jalur nilai, prestasi dan domisili, sampaikan juga bahwa dengan adanya jalur domisili yang tidak tepat sasaran ini akan membuat kecurangan semakin besar" kata Anti sengit.

Pikirannya yang dihantui dengan sekolah swasta sudah di depan mata. Akhirnya Anti pamit meninggalkan petugas wanita di sekolah itu dengan berbagai jawaban yang bagaikan uap, sebentar hilang ditiup angin.

Langkah gontai Anti menggiringnya kesebuah sekolah swasta, yang kecil tapi dilengkapi dengan berbagai fasilitas yang di perlukan untuk belajar anak-anak. Anti suka dengan sekolahan ini, dengan membawa sisa-sisa harapan, dia pun melangkah masuk.

"Selamat siang Bu?" sapa Security.
"Selamat siang Pak" balas Anti.
"Apa ada yang bisa saya bantu Bu?", kata Security.
"Iya Pak, saya mau menanyakan perihal pendaftaran sekolah" jawab Anti.
"Ooo silahkan Bu, mari saya antar menemui petugasnya", jawab Security semangat.

Setibanya di ruang pendaftaran, Anti tampak gugup. Hati kecilnya berbisik, buat apa aku kesini kalo akhirnya aku tidak bisa bayar uang gedungnya pikirnya. Akhirnya Anti pun menanyakan perihal pendaftaran kepada petugasnya.

" Dengan wajah ceria dan ramah ibu petugas pun menjelaskan tentang sekolah tersebut. Dalam hati Anti berkata, ramah sekali ibu ini, iya lah. Agar aku tertarik menyekolahkan anakku disini,setelah masuk dan mereka tahu aku tidak bisa bayar, pasti sumpah serapah yang akan mereka lontarkan padaku, seperti waktu anakku yang kedua di usir keluar kelas oleh gurunya, karena belum bayar uang kas 3 bulan, ooohh...sampai kapan aku seperti ini ya Allah" batin Anti berontak. 

Setelah merasa penjelasannya sudah lengkap, ibu petugas pun beralih menjelaskan tentang biaya masuknya. Inilah yang Anti takutkan. Iya, bukan sekedar juta lagi, tapi belas juta. Anti mengelus dadanya. Untuk makan dia dan anak-anaknya saja kadang makan kadang tidak. Bagaimana dia bisa membayar biaya sekolah yang sampai belasan juta ini, pikirnya. 

Anti pun buru-buru pamit setelah mendapat jawaban dari sekolah itu. Sepanjang jalan dia berpikir bagaimana ,bagaimana, bagaimana, dan bagaimana? Terbayang raut wajah anaknya, yang ceria ketika tahu dia akan mendaftar di sekolah swasta itu.

Tapi, Nak., Bagaimana cara emak membayar sekolahnya...bagaimana????, Anti masih termenung di tepian Banjir Kanal Timur.

Anganya terbang melayang ke angkasa, seolah ia kembali mendengarkan berita lewat televisi, pidato menteri pendidikan, gubernur, bupati,  kepala dinas pendidikan yang begitu nyaring, tentang alokasi anggaran 20 persen dari APBN yang wajib dialokasikan untuk sektor pendidikan, sesuai amanat UUD 1945. Juga berita tentang pendidikan gratis untuk rakyat, pendidikan yang berkualitas dan bermutu, agar anak anak bisa bersekolah.

Tetapi realitanya, tidak seindah apa yang diucapkan oleh para pejabat itu, dan kami bertanya, pendidikan itu sejatinya untuk siapa..??. Entahlah...!!!  (*)