Home Opini Kita Perlu Terus Meningkatkan Literasi Kesiapsiagaan Menghadapi Bencana

Kita Perlu Terus Meningkatkan Literasi Kesiapsiagaan Menghadapi Bencana

230
0
SHARE
Kita Perlu Terus Meningkatkan Literasi Kesiapsiagaan Menghadapi Bencana

Oleh : W. Suratman 
Sekjend Persaudaraan Jurnalis Muslim Indonesia (PJMI) 

Gempa Bumi yang mengguncang Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat dengan magnitudo (M) 5,6 pada Senin (21/11/2022) menyebabkan korban jiwa dan kerusakan yang cukup masif. 

Berdasarkan data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sampai hari Sabtu (26/11/2022), korban meninggal dunia sebanyak 318 orang, dan 73.693 jiwa mengungsi yang tersebar di 207 titik pos pengungsian. Sebanyak 14 orang hilang, 595 orang luka berat, jumlah rumah rusak mencapai 58.049  rumah, sebanyak 14 unit fasilitas kesehatan rusak, 144 unit tempat ibadah rusak, 368 unit fasilitas pendidikan rusak dan 16 kantor dan gedung rusak. 

Dalam kondisi seperti itu, kita semua tentu prihatin dan ikut bela sugkawa yang mendalam kepada para keluarga korban dan warga yang terdampak akibat gempa tersebut. Empati dan rasa solidaritas atas musibah yang menimpa saudara-saudara kita di Cianjur tersebut terus berdatangan dari berbagai pihak, pemerintah secara nyata terlihat hadir disana. 

Bersatu padunya pemerintah bersama elemen masyarakat yang lain dalam menangani dampak Gempa Bumi di Cianjur, menunjukan bahwa bencana merupakan urusan bersama. 


Pentingnya Simulasi dan Berlatih Kesiapsiagaan Menghadapi Bencana 

Ramai pasca kejadian Gempa Bumi tersebut, terkait pemberitaan mengenai salah satu anggota DPR RI pada saat Rapat Kerja Komisi V DPR RI bersama Basarnas dan BMKG, bertepatan saat kejadian Gempa Bumi di Cianjur tersebut. 

Sebagaimana dilansir Kompas.com (22/11/2022), Wakil Ketua Komisi V DPR RI Roberth Rouw membantah menertawakan Kepala BMKG, terkait video viral yang menarasikan bahwa dia tertawa melihat aksi Kepala BMKG Dwikorita Karnawati yang spontan berlindung di bawah meja saat rapat bersama, ketika diguncang gempa. Ia menjelaskan sempat mencari keberadaan Dwikorita yang tiba-tiba menghilang. Roberth mengatakan mayoritas di dalam rapat tidak ada yang berlindung saat gempa, termasuk dari anggota BMKG dan Basarnas. 

“Yang saya tertawain itu kita, karena saya cari Ketua BMKG di mana? Ternyata beliau di dalam di bawah kursi. Tapi saya lihat, di semua ini tidak turun juga, dari Basarnas tidak ada, dari BMKG dibelakang semua di atas ya kan. Apalagi dari anggota kami tidak tahu,” kata Roberth saat rapat kerja Komisi V DPR RI bersama BMKG dan Basarnas, Selasa (22/11/2022). 

Karena tidak semua para hadiri rapat mengikuti apa yang menjadi SOP, Roberth kemudian meminta hal tersebut menjadi evaluasi bagi semua pihak, terutama anggota BMKG, untuk selalu menerapkan SOP yang didapat dalam kehidupan sehari-hari. 

Dari kejadian tersebut diatas, menjadi pembelajaran yang sangat berharga bagi kita semua bahwa kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana menjadi begitu penting, terkadang kita masih suka lupa, karena belum terbiasa untuk melakukannya. 

Ibarat kita belajar naik sepeda atau  belajar berenang, semakin kita sering melakukan latihan, maka secara otomatis kita akan semakin mahir dalam mengendarai sepeda mupun berenang.   

Begitu juga dalam hal kesiapsiagaan menghadapi bencana, semakin kita sering melakukan latihan, simulasi,  secara otomatis secara reflek kita akan melakukannya saat terjadi bencana, dan tentunya ini juga harus dibarengi dengan pengetahuan terkait kebencanaan itu sendiri, melalui upaya tersebut diharapkan bisa meminimalisir jumlah korban akibat dampak dari bencana. 


Tidak bisa dipungkiri bahwa kita hidup di wilayah yang dikenal ‘Ring of fire’, Cicin Api Pasifik daerah yang sering mengalami gempa bumi dan letusan gunung berapi yang mengelilingi cekungan Samudra Pasifik. Berdasarkan Wikipedia, daerah ini berbentuk seperti tapal kuda dan mencakup wilayah sepanjang 40.550 km, daerah ini juga sering disebut sebagai sabuk gempa Pasifik. 

Sadar akan posisi dan keberadaan kita, yang berada di wilayah rawan bencana tersebut, menarik ungkapan dari Petra Nemcova, salah seorang korban yang selamat dari tsunami di Tahiland tahun 2004, di lansir dari (Lombok Post, 2020). Nemcova yang juga pendiri organisasi untuk kebencanaan “Happy Heart Fund” mengungkapkan, “Kita tidak bisa menghentikan bencana, akan tetapi kita dapat mempersenjatai diri dengan ilmu pengetahuan.” 

Pernyataan Nemcova tersebut telah memberikan refleksi penting tentang kejadian bencana yang tak mengenal ruang dan waktu.  Akan tetapi, melalui kesadaran dan pengetahuan yang baik tentang bencana, sesungguhnya kita dapat mengelola dan mengurangi risiko dari bencana itu sendiri. 

Persoalanya, apakah pemahaman dan pengetahuan masyarakat kita sudah cukup memadai saat bencana terjadi. Dengan risiko bencana yang sedemikian besar, bagaimana seharusnya pemahaman dan pengetahuan masyarakat tentang  bencana dapat dikembangkan.  Hal ini menjadi penting untuk mengenali sejauh mana tindakan dan kemampuan masyarakat dlam merespon ketika terjadi bencana. 

Tidak ada salahnya kita belajar dari negeri Sakura, Jepang yang dikenal sebagai salah satu negara yang berhasil membangun sistem mitigasi bencana yang cukup baik. Sejarah menunjukan bahwa Jepang memiliki pengalaman kebencanaan yang begitu panjang di masa lalu. 


Tahun 1923, Jepang pernah diguncang gempa berskala 7,9 SR dengan jumlah korban mencapai 100.000 jiwa.  Pada tahun 1995, Jepang mengalami gempa dengan skala 7,3 SR. Tahun 2011, Jepang diguncang gempa berkekuatan 9,0 SR yang diikuti tsunami dengan jumlah korban mencapai 19.000 jiwa (sumber : m.kbr.id, 2019). Berbagai pengalaman bencana di masa lalu telah mendorong Jepang untuk melakukan studi-studi mendalam, terkait gempa dan tsunami. 

Hasilnya, Jepang kemudian melakukan mitigasi  baik secara struktural dan non-struktural. Mitigasi struktural dilakukan melalui pembangunan rumah tahan gempa, tanggul pantai, pemanfaatan sistem peringatan dini gempa dan tsunami di posnel pintar, dan menggunakan transportasi shinkansen yang dapat berhenti saat terjadi gempa. 

Secara non-struktural, Jepang menerapkan mitigasi melalui kurikulum kebencanaan di sekolah-sekolah dan memaksimalkan peran media dalam memberikan informasi ketika bencana terjadi. Menariknya, berbagai upaya mitigasi bencana yang dilakukan oleh Jepang merupakan pelajaran penting dari sejarah di masa lalu. 

Bagaimana dengan kontek masyarakat kita? Nampaknya jejak bencana di masa lalu di masyarakat kita hanya sebetas cerita tanpa makna. Maka sudah saatnya gerakan literasi bencana harus menjadi salah satu agenda penting guna meningkatkan kesiapsiagaan dan kewaspadaan masyarakat dalam menghadapi bencana di masa mendatang. 


Budaya Sadar Bencana, Siap Untuk Selamat 

Sejak tahun 2017, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah menginisiasi lahirnya Hari Kesiapsiagaan Bencana, untuk mengajak semua pihak meluangkan waktu satu hari untuk melakukan latihan kesiapsiagaan bencana secara serentak pada setiap tanggal 26 April. 

Inisiasi BNPB menjadikan tanggal 26 April sebagai Hari Kesiapsiagaan Bencana, bertujuan untuk membudayakan latihan secara terpadu, terencana dan berkesinambungan guna meningkatan kesadaran, kewaspadaan dan kesiapsiagaan masyarakat menuju Indonesia Tangguh Bencana. 

Kegiatan utama pada Hari Kesiapsiagaan Bencana, adalah dilaksanakannya latihan atau simulai serentak di seluruh wilayah Indonesia, mulai dari latihan evakuasi mandiri, simulasi kebencanaan, uji sirine peringatan dini, uji sehelter pengungsian dan lainnya. 

Harapan dari latihan dan simulasi ini untuk memberikan pengetahuan kepada kita mengenai di mana posisi kita, serta risiko apa yang ada di sekitar kita, lalu apa solusinya dalam merespon risiko bencana tersebut. 

Dari tahun ketahun sejak dicanangkannya Hari Kesiapsiagaan Bencana tersebut, terus dilakukan dengan melibatkan berbagai instansi, komunitas, akademisi serta warga masyarakat luas lainnya. Dua tahun terakhir sejak pandemi pandemi Covid-19 (tahun 2020 – 2021), kegiatan Hari Kesiapsiagaan Bencana tetap dilaksanakan,  walaupun secara terbatas  dan daring dengan tetap menerapkan protokol kesehatan secara ketat. 


Beberapa instansi pemerintah, swasta, sektor pendidikan, juga ikut ambil bagian melakukan simulasi, latihan kesiapsiagaan bencana dalam rangka Hari Kesiapsiagaan Bencana.

Kita butuh  leader, para tokoh, pemimpin disetiap institusi, tokoh masyarakat, untuk ikut berpartisipasi dan  mempromosikan betapa pentingnya melakukan simulasi dan latihan kesiapsiagaan ini. 

Untuk itu, tidak ada salahnya pada 26 April, tahun 2023 mendatang dalam memperingati Hari Kesiapsiagaan Bencana, bisa di pusatkan di gedung MPR/DPR RI, Senayan, tanpa terkecuali seluruh penghuni gedung wakil rakyat harus ikut teribat aktif dalam kegiatan simulasi dan latihan kesiapsiagaan bencana. Dengan demikian para anggota dewan nantinya wajib ikut mensosialisasikan, arti pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana ini, kepada kosntituen di daerah pemilihannya masing-masing. 


Kalau ini bisa terwujud, tentu akan menjadi moment penting yang cukup dahsyat, bukankah melindungi segenap tumpah darah Indonesia, merupakan salah satu dari beberapa tugas negara yang merupakan amanat sebagaimana termaktub dalam Pembukaan UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945.  Semoga. (*)