
Keterangan Gambar : Foto : ilustrasi (diolah dan dibuat dengan AI/Gemini/PP)
Oleh : Mikhail Adam
Peneliti Ekopol di Nusantara Centre
MERAYAKAN - Indonesia dan membuatnya menjadi “raya serta jaya.” Inilah tema program Nusantara Centre pada bulan juni-juli ini (2026). Program yang disusun untuk menyambut kemerdekaan ke-81. Dan, cara kami merayakannya adalah membuat kelas jenius pikiran para pendiri republik, membukukannya, memfilemkannya dan menyebarkannya dalam semangat “kedaulatan berbangsa dan kesentosaan bernegara.” Kasimo, adalah tokoh kedelapan dari tujuhbelas tokoh yang terpilih. Mari kita baca, teliti dan teladani.
Di antara kabut tipis pagi Yogyakarta pada awal abad ke-20, lahir seorang anak lelaki yang kelak mengajarkan Indonesia bahwa kemerdekaan bukan hanya soal pengibaran bendera, tetapi juga soal ketersediaan pangan sampai ke piring rakyat.
Anak itu bernama Ignatius Joseph Kasimo Hendrowahyono, tetapi sejarah kelak hanya membutuhkan dua huruf dan satu nama panggilan: I.J. Kasimo. Seorang putra abdi dalem keraton yang sejak kecil memahami bahwa kekuasaan hanya layak dihormati jika ia melayani.
Muntilan, di kaki gunung yang gemar memeluk embun, adalah tempat di mana Kasimo menghabiskan masa kecilnya. Muntilan adalah tanah yang penuh perjumpaan antara agama, budaya, dan gagasan-gagasan yang berani, perpaduan itulah yang membentuk seorang I.J. Kasimo.
Di sekolah yang dirintis Romo van Lith, Kasimo remaja menyaksikan bagaimana pendidikan bukan sekadar ruang kelas, tetapi sebuah pintu untuk memahami martabat manusia. Dari sekolah kecil itu ia membawa dua bekal yang ia bawa sepanjang hidupnya: akal sehat dan hati nurani.
Bogor tempat ia melanjutkan pendidikan menengah menjadi tempat spesial dalam perjalanan intelektual Kasimo. Di sana, ia bertemu bukan hanya dengan Jong Java, tetapi energi kolektif bangsa Indonesia. Perjalanan Kasimo seperti puzzle yang saling mengisi dan memperkuat; Muntilan mengasahnya. Bogor mengeraskannya. Jong Java membesarkannya. Dan, rasa cinta pada tanah air menyempurnakannya.
Ketika teman-teman seusianya bermimpi menjadi priyayi dengan gelar kebangsawanan, Kasimo justru memilih jalan yang sunyi: jalan pikiran, jalan organisasi, dan jalan yang dipenuhi perdebatan tentang masa depan Indonesia.
Pada tahun 1923, Kasimo mendirikan Pakempalan Politik Katolik Djawi (PPKD), yang kemudian berkembang menjadi Partai Politik Katolik Indonesia (PPKI). Meskipun berasaskan Katolik, PPKI adalah partai yang sangat nasionalis. “Keberagaman agama adalah kekuatan,” katanya suatu sore, “bukan sekadar statistik minoritas.” Tahun 1931. Kasimo menjadi anggota Volksraad, ruang politik kolonial yang lebih sering menjadi pajangan daripada forum rakyat. Di sana Kasimo berdiri sebagai podium moral yang menggetarkan seperti doa yang dikirim untuk masa depan.
“Suku-suku bangsa Indonesia berhak mengatur negaranya sendiri,” katanya bening dan nyaris teatrikal, “untuk mencapai kesejahteraan yang sesuai kebutuhan bangsanya.” Di ruangan itu, banyak anggota dewan menatapnya seolah ia sedang menawarkan utopia. Yang tak mereka tahu, Kasimo sedang menabur benih masa depan.
Kasimo berjalan dalam dunia pergerakan dengan cara yang jarang dipilih orang muda: tanpa teriakan, tanpa slogan, tanpa caci maki. Ia memilih jalan sunyi, jalan yang hanya diisi oleh pikiran bening dan keberanian intelektual yang tak bisa ditawar.
Setiap tulisannya adalah api unggun kecil. Setiap pidatonya adalah sembilu yang membelah gelap kolonial. Seolah ia tahu bahwa republik nanti akan butuh lebih dari sekadar keberanian berteriak; ia akan butuh kemampuan untuk merawat.
Setelah proklamasi dikumandangkan, negara berdiri dalam keadaan rapuh. Republik yang baru seumur jagung masih menggigil seperti bayi yang baru keluar dari rahim sejarah. Kasimo dipanggil bukan untuk beretorika, tetapi untuk memikirkan yang paling sederhana namun paling vital: bagaimana rakyat makan esok hari?
Ia beberapa kali menjabat sebagai Menteri: Menteri Muda Kemakmuran, Menteri Persediaan Makanan Rakyat (pangan), Menteri Perdagangan, hingga Menteri Pertanian dalam berbagai kabinet awal republik.
“Jika kemerdekaan adalah api,” tulis Kasimo pada suatu malam, “maka kita memerlukan bahan bakar yang tak mudah padam: pendidikan, pangan, dan keberanian berpikir.”
Dan, lahirlah sebuah rancangan yang kelak dikenal sebagai Kasimo Plan: satu upaya strategis untuk menata pertanian dengan intensifikasi, ekstensifikasi, dan ketahanan pangan. Di masa revolusi yang penuh letusan senjata, Kasimo datang dengan jawaban yang berbeda: Kemerdekaan tidak boleh lapar.
Kasimo mengerti bahwa kemerdekaan bukanlah pidato, melainkan nasi di piring rakyat. Dan revolusi pertama sebuah bangsa adalah revolusi pangan. Tentu, tak banyak politisi yang menganggap pangan sebagai strategi geopolitik. Kasimo justru melihatnya sebagai jantung republik. Baginya, kemajuan bangsa mesti dibangun dari ladang, dari petani, dari tanah yang disiram keringat rakyat. Tak ada pagelaran megah dari sebidang sawah, tetapi di sanalah republik menemukan pijakan paling manusiawi.
Kasimo adalah anomali dalam politik: orang yang tidak pernah meninggikan suara, tetapi bobot kata-katanya lebih berat dari mereka yang berteriak setiap hari. Ia menolak untuk menjadi fanatik, karena fanatisme, katanya, “adalah racun yang bisa merusak republik bahkan sebelum ia lahir.”
Di dunia pergerakan, ia bukan tokoh yang berteriak lantang. Ia lebih menyerupai lentera kecil di tikungan sejarah yang gelap. Ketika tokoh-tokoh lain berlutut di altar ideologi besar; nasionalisme, sosialisme, Islamisme, marxisme. Kasimo berdiri di tengah, memungut serpihan kearifan dari semua arah seperti seorang penyair yang merawat kata-kata.
Sebagai pendiri partai Katolik yang nasionalis, ia tidak mengajarkan bahwa agama saling membedakan manusia, justru sebaliknya. Ia menjadikan keyakinan sebagai sumber empati dan kasih sayang, bukan alat pembenaran.
Dalam pergaulannya, ia bersahabat dengan tokoh-tokoh Islam. Mohammad Natsir dan Prawoto Mangkusasmito pentolan Masyumi menyebut Kasimo sebagai pribadi yang jujur, tenang, dan penuh empati. Tak hanya itu, Kasimo turut bekerja sama dengan kalangan nasionalis sekuler dan berjalan bersama siapapun yang menempatkan rakyat sebagai tujuan politik.
Di masa politik yang kerap keruh oleh intrik dan ambisi, Kasimo menjadi semacam kompas. Ia tegak, sederhana, tidak banyak bicara, tetapi selalu hadir sebagai suara yang menyejukkan sekaligus mampu tegas dalam prinsip. Ia adalah bukti bahwa moralitas dapat hadir tanpa harus berkhotbah, melainkan dalam teladan. “Politik haruslah melayani,” kata Kasimo jernih dan puitis, “bukan merampas.” Mereka yang mengenalnya mengatakan bahwa Kasimo hidup tanpa kemewahan. Rumahnya bersahaja. Ia berjalan kaki ke gereja. Ia memisahkan tegas mana milik negara dan mana milik pribadi.
“Hidupnya sangat sederhana,” kata politisi kawakan Krissantono memberikan kesaksian tentang Kasimo, “semua orang sudah tahu itu.” Kasimo bukan orang yang menyembunyikan harta, karena ia tak mengumpulkannya sejak awal. Kesederhanaan baginya bukan gaya hidup, tetapi bagian dari keadaban.
I.J. Kasimo mewarisi spirit yang senantiasa hidup; bahwa keberagaman, bukan ancaman, tetapi kekuatan republik; bahwa politik harus dibangun oleh prinsip dan kesadaran etis, bukan siasat dan tipu muslihat; bahwa kemerdekaan bukan slogan, tetapi peningkatan kualitas hidup dan kesejahteraan rakyat; bahwa pangan adalah pilar kemerdekaan; dan bahwa kesederhahaan bisa menjadi bentuk paling tinggi dari kekuatan moral.
“Salus populi suprema lex esto,” kata Kasimo seperti khotbah panjang yang nyaris melodramatis, “kepentingan rakyat adalah hukum tertinggi.” Kasimo memegang dengan teguh prinsip yang terdengar klasik, tetapi diakuai sebagai nilai dan etika politik tertinggi.
Pada akhirnya, yang membuat Kasimo dikenang bukanlah kehebatannya berpidato atau posisi yang pernah ia duduki, melainkan sesuatu yang lebih sunyi namun lebih dalam: integritas dan teladan moral.
Ia pergi dengan tenang pada 1986, dan dimakamkan sebagai Pahlawan Nasional. Tetapi lebih dari itu, ia meninggalkan sesuatu yang tak bisa diperjualbelikan dalam politik: kepercayaan. Ia tidak meninggalkan monumen besar. Tidak meninggalkan slogan yang keras. Tidak meninggalkan buku tebal yang dielu-elukan. Tetapi ia meninggalkan republik yang lebih siap berdiri.
Ignatius Joseph Kasimo Hendrowahyono nama lengkpanya, seperti doa kecil yang tak pernah selesai diucapkan: bahwa sebuah bangsa hanya akan selamat jika ia belajar rendah hati, pada tanahnya, pada rakyatnya, dan pada suara hati nuraninya sendiri.(*)






LEAVE A REPLY