Home Opini Kapitalisme Produksi Anak Durhaka

Kapitalisme Produksi Anak Durhaka

408
0
SHARE
Kapitalisme Produksi Anak Durhaka

Oleh: Nabillah Syifa,
Alumni Universitas Gunadarma 


Sepekan terakhir, viral di media massa, berita yang sangat memilukan dan menyayat hati yaitu kisah 'pembuangan' orang tua yang dilakukan oleh anak-anaknya sendiri. Teganya seorang anak telah menitipkan ibunya yang sudah renta ke panti jompo. Seperti kisah seorang ibu bernama Trimah (65), warga Magelang, Jawa Tengah, dititipkan ke sebuah panti jompo, Griya Lansia Husnul Khatimah, Malang, Jawa Timur. Dalam wawancara dengan tvOne, Minggu (31/10/ 2021), ia mengatakan alasan dititipkan ke panti jompo, yaitu karena anak-anaknya tidak mampu membiayai orang tua (31/10). 

Trimah menuturkan anaknya baik laki-laki maupun perempuan sekarang menjadi tukang ojek. Meskipun sekarang dititipkan ke panti jompo, dia tetap berharap hati anak-anaknya suatu saat terbuka. "Mudah-mudahan kebuka pintu hatinya, masih sayang sama kita, masih nengokin kita, sewaktu-waktu," kata dia. 

Fenomena anak menelantarkan dan menitipkan orang tua di panti jompo masih terus beredar dan semakin merajalela. Seorang anak sangat tega menelantarkan bahkan membiarkan orang tuanya sendiri dengan berbagai macam alasan. Dari alasan ekonomi maupun alasan keterbatasan waktu yang menyebabkan anak-anak tidak mampu merawat orang tuanya. 

Sungguh miris melihat fakta bahwa sekarang ini anak kurang memuliakan orang tua dan seolah-olah merawat orang tua dianggap sebuah beban hingga tidak ada lagi rasa peduli anak untuk membalas jasa-jasa para orang tua yang sudah mengandungnya 9 bulan, menyapihnya, membesarkannya. 

Anak durhaka sudah sangat nyata dan menjadi kebiasaan. Sungguh membuat hati teriris. Tidak mudah menjadi seorang ibu, ketika perjuangan dan pengorbanan besar diberikan bahkan nyawa taruhannya, tetap jasa tak bisa terbayarkan. Itulah sebabnya, seorang ibu sangat dimuliakan. Sebagaimana pada hadits berikut ini: “Seseorang datang kepada Rasulullah SAW dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakan aku harus berbakti pertama kali?’. Nabi SAW menjawab, ‘Ibumu’. Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’, Nabi SAW menjawab ‘Ibumu’. Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’, beliau menjawab ‘Ibumu’. Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi menjawab ‘Kemudian ayahmu’” (HR Bukhari dan Muslim). 

Namun menyedihkan, bukti bakti anak terhadap orang tua sekarang sulit ditemukan. Dalam hal ini terlihat jelas negara belum bisa bertanggung jawab dalam mengurusi rakyatnya. Sistem sekarang ini hanyalah sistem yang menghasilkan anak-anak durhaka, bertindak semena-mena kepada orang tua. Padahal orang tua dahulu dengan susah payah membesarkan kita, memberikan yang terbaik kepada anaknya namun ketika sudah beranjak dewasa tidak bisa merawat orang tua sendiri. Negara gagal mencetak generasi yang berbakti, malah menghasilkan anak yang sudah tidak punya hati nurani. 

Inilah produk dari sistem kapitalisme. Kapitalisme adalah jalan hidup yang menyesatkan. Tujuan hidupnya hanya mencari sebuah manfaat dan materi. Ketika sudah tidak ada manfaat atau materi maka disingkirkan, dibuang jauh-jauh. Begitulah kapitalisme. Sehingga dari sini terlihat jelas ketika ada orang tua renta yang sudah tidak bisa berbuat apa-apa maka akan dibuang dan disingkirkan. Astaghfirullah. 

Anak yang taat, patuh, berbakti terhadap orang tua akan dihasilkan dari sistem Islam. Hanya Islam mampu mencetak generasi berbakti, dan menghapuskan kedurhakaan. Dalam Islam diajarkan bagaimana memuliakan manusia, termasuk orang tua. Perintah tentang birrul walidain (berbakti kepada orang tua) merupakan bagian dari syariah Islam. Sehingga akan terbentuk generasi yang menghormati orang tua, menyayangi orang yang lebih muda, serta menghargai sesama manusia. 

Dalam sistem Islam akan melahirkan insan yang memahami tanggung jawab merawat orang tua. Karena mereka memahami dengan baik, bahwa orang tua ialah pintu tengah surga yang paling indah. Seperti Rasul SAW sampaikan, “Orang tua merupakan pintu surga yang paling pertengahan, jika engkau mampu, jagalah pintu tersebut” (HR Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban). 

Untuk itu, kita membutuhkan sistem Islam yang bisa menjadikan generasi yang memiliki tanggung jawab dan wajib memuliakan orang tua. Karena ridha Allah tergantung ridha kedua orang tuanya dan murka Allah tergantung murka keduanya. Semoga umat makin sadar kebaikan sistem Islam dan berjuang mewujudkannya demi kehidupan sejahtera dan diberkahi Allah SWT. Aamiin. Wallahu a’lam bishshawab.[]