Home Seni Budaya Wisata Sastra, Menyusuri Jejak Cerita dan Sejarah Kota Hujan

Wisata Sastra, Menyusuri Jejak Cerita dan Sejarah Kota Hujan

49
0
SHARE
Wisata Sastra, Menyusuri Jejak Cerita dan Sejarah Kota Hujan

Keterangan Gambar : Wisata Sastra, Rekreasi Mengitari Kota Bogor, Menelusuri Jejak Sejarah dan Sastra, dipandu oleh : Bujanga Manik Society (sumber foto : ratman/pp)

BOGOR - Parahyangan Post— Pekan Sastra Bogor 2026 kembali hadir menyapa para pencinta literasi dan sejarah melalui rangkaian acara menarik. Salah satu agenda yang paling diminati warga adalah rekreasi mengitari Kota Bogor atau Wisata Sastra yang digelar pada hari pertama, mengajak peserta menyusuri jejak-jejak cerita dan sejarah kota hujan. 

Kegiatan susur kota ini dipandu langsung oleh Bujangga Manik Society, sebuah komunitas yang aktif merawat narasi kebudayaan dan literasi lokal. Mengusung konsep berjalan santai, para peserta diajak melihat sudut-sudut Kota Bogor dari kacamata literatur dan teks-teks klasik. 

Hadir sebagai narasumber utama, Taufiq Hasunna selaku Ketua Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Bogor yang membagikan wawasan mendalam mengenai keterkaitan antara lanskap Kota Bogor dengan karya-karya sastra yang pernah mencatatnya. Sepanjang  perjalanan, beliau memaparkan bagaimana ruang publik, bangunan bersejarah, hingga sudut jalanan Bogor menjadi inspirasi bagi para pujangga dari masa ke masa. 

Di Kota Bogor, menurut Taufiq ada sekitar lima ratusan (500) benda cagar budaya yang mencakup berbagai situs, bangunan bersejarah dan artefak. 

“Wisata Sastra ini bukan sekadar jalan-jalan biasa, melainkan cara kita membaca kembali Kota Bogor melalui lembaran sejarah dan karya literasi,” ujar salah satu perwakilan Bujangga Manik Society di sela-sela acara. 

Para peserta memulai perjalananya dari lokasi acara Pekan Sastra Bogor 2026 di Perpustakaan Kota Bogor, menuju ke tempat-tempat bersejarah yang ada di Kota Bogor,yaitu : 


Hotel Salak Heritage : 

Hotel Salak Heritage yang berlokasi di Jl.Ir. H.Juanda No.8 Kota Bogor, lokasi ini biasa disebut juga sebagai titik 0 kilometer Kota Bogor yang berhadapan langsung dengan Istana Bogor. Hotel ini dibangun pada masa Kolinial Belanda pada tahun 1856 dengan nama Bellevue Dibbets Hotel. Hotel ini milik keluarga Gubernur Jendral Hindia Belanda Albertus Jacobus Duymaer van Twist, yang pada masa itu dikhususkan untuk tamu-tamu elit, pejabat istana, serta tempat rapat pengusaha perkebunan. 

Dalam kesempatan tersebut Tim Bujangga Manik Society dan Taufiq Hasunna, juga menerangkan keberadaan Hotel Salak ini dengan jejak sastra. Menurut kedua narasumber, sastrawan Iwan Simatupang pernah tinggal cukup lama di Hotel Salak ini, tepatnya di Kamar 52, dan dari sinilah lahir karya-karya Iwan Simatupang yang cukup terkenal dalam khasanah sastra Indonesia. 


Berdasarkan data dan catatan sejarah beberapa karya satra Iwan Simatupang yang lahir dari Hotel Salak ini, Merahnya Merah (1968), Ziarah (1969), Kering (1969) dan Kooong (1975). Selain itu di Hotel Salak ini juga, Iwan Simatupang pernah didatangi oleh penyair muda saat itu, Taufiq Ismail yang membawa tumpukan puisi, dan Iwan Simatupang meramalkan lahirnya seorang penyair besar. 

Kantor Balaikota Bogor & Gedung Kemuning Gading 

Kantor Balaikota Bogor yang terletak di Jl.Ir H. Juanda No.10 awalnya dibangun pada tahun 1868 pada masa kolonial Belanda. 

Bangunan ini dirancang dengan gaya Indische Empire yang memiliki ciri khas bentuk segi empat, dinding cat putih, serta pilar-pilar rampirng yang kokoh, mencerminkan arsitektur era kolonial abad ke-19. 

Menurut Ketua Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Taufiq Hasunna, ada dua bangunan yang berbeda antara Kantor Balaikota Bogor dengan gedung sebelahnya, yang dikenal dengan Gedung Societeit.   

Berdasarkan catatan sejarah dan arsitektur, bangunan utama di sekitar area ini awalnya erat kaitannya dengan societeit, atau tempat perkumpulan/klub sosial elit bagi kaum sosialita Belanda pada masa itu. 

Dari bangunan utama Balaikota menuju ke bangunan sebelahkanya ada semacam lorong yang menghubungkannya, yaitu ke Gedung Kemuning Gading yang konon dibangun pada tahun 1960 dan untuk arsiteknya dirancang oleh Ir. F.X Silaban yang juga sebagai arsitek Masjid Istiqlal pada masa itu. 

Gedung Kemuning Gading di Kota Bogor, saat ini kondisinya sangat mengenaskan, didepan terdapat papan bertuliskan ‘Dewan Kesenian Kota Bogor’ dan beberapa lembaga lainnya. Menurut beberapa sumber, bahwa sejak pertama kali dibangun pada tahun 1960 hingga saat ini, gedung tersebut belum pernah menjalani proses renovasi dan revitalisasi. 

Padahal pada masanya dulu, Gedung Kemuning Gading ini difungsikan sebagai pusat kegiatan pertunjukan seni, para seniman Bogor memanfaatkannya untuk pementasan teater, music, kesenian tradisional, dan acara -acara sereminial lainya. 

Namun kini kondisinya sangat mengenaskan dan tidak terawat, kerusakan fisik bangunan yang cukup berat, dari depan tampak plafon yang sudah banyak terkoyak, bolong-bolong, tembok terlihat rapuh dan sebagian berlumut karena rembasan air hujan. Sebuah asset budaya yang terbengkali di Kota Bogor. 


Stasiun Bogor 

Stasiun Bogor pada zaman dulu dikenal seagai Satation Buiternzorg pertamana kali beropreasi pada 31 Januari 1873 ole perusahaan swasta Belanda, Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NIS). 

Pada 5 Oktober 1881, perusahaan kereta api negara milik kolonial Belanda, Staatsspoorwegen (SS) membangun gedung stasiun yang lebih besar guna menampun lonjakan volume penumpang dan memperluas jalur ke arah selatan Sukabumi dan Bandung. 

Jalur kereta api yang menghubungkan Batavia (Jakarta) dan Buitenzorg (Bogor) untuk mempermudah mobilitas elit kolonial serta pengangkutan hasil bumi. Pada masa Hindia Belanda, Stasiun Bogor menjadi salah satu stasiun termegah karena letaknya yang dekat dengan Istana Bogor, tempat peristirahatan resmi Gubernur Jenderal Belanda. 


Jembatan Merah 

Lokasinya yang berada di Kelurahan Panaragan, Kecamatan Bogor Tengah, membuat kawasan ini sering dijadikan tempat wisata sejarah, berburu kuliner legendaris (seperti soto mie dan toge goreng), serta jalur pejalan kaki bernuansa tempo dulu. 

Jembatan ini dibangun pada tahun 1881 sebagai bagian dari proyek insfrastruktur dan jalur militer serta jalur kereta api di tas aliran Sungai Cipakancilan. 


Sejak awal didirikan dicat dengan warna merah, jembatan ini melekat di hati masyarakat dengan nama "Jembatan Merah" (Roode Brug). Walaupun sempat mengalami pergantian warna pada masa orde tertentu, warga tetap konsisten menyebutnya ‘Jembatan Merah’. 

Warna merah pada Jembatan Merah bukan hanya estetika, tetapi juga mengandung filosofi. Merah melambangkan keberanian, semangat, dan perjuangan. Hal ini mencerminkan semangat masyarakat Bogor dalam menghadapi berbagai tantangan dan rintangan di masa lampau. 


Terdapat Patung Kapten Muslihat yang tampak kokoh di ujung Jembatan Merah dan berada di tengah pertigaan Jl. Merdeka dan Jl. Kapten Muslihat, Kota Bogor. 

Tangan kiri patung Kapten Muslihat tampak menunuk ke arah Stasiun dan Istana Bogor. Dikisahkan bahwa lokasi ini menjadi lokasi terdekat dengan posisi Kapten Muslihat tewas ditembak pasukan Ghurka yang menyerang Kota Bogor. 

Jembatan Merah adalah warisan sejarah dan budaya yang berharga bagi Kota Bogor. Keberadaannya menjadi pengingat akan masa lampau dan sekaligus menjadi penyemangat bagi masyarakat untuk terus maju dan berkembang. 

Museum Perjuangan Bogor 

Museum Perjuangan Bogor didirikan pada 10 November 1957 atas prakarsa para tokoh pejuang Karesidenan Bogor untuk mewariskan semangat nilai-nilai 45 kepada generasi penerus. Berlokasi di Jl.Merdeka No.56, Ciwaringin, Kec.Bogor Tengah, Kota Bogor. 

Pada tahun 1879 gedung ini pertama kali dibangun oleh pengusaha Belanda bernama Wilhelm Gustaf Wissner. Bangunan ini juga sempat menjadi tempat pergerakan nasional, yaitu Gedung Persaudaraan (PARINDRA) pada tahun 1935, lalu dialih fungsikan menjadi gudang tantara Jepang (1942). 

Pada masa kemerdekaan (1945), gedung ini membantu persiapan kemerdekaan oleh Soekarno – Hatta dan kaum muda saat itu, serta menjadi Kantor berita surat kabar Gelora Rakyat. 

Pada tahun 1958, Umar Bin Usman Albawahab sebagai pemilik terakhir, menghibahkan gedung ini untuk dikelola sebagai museum. 

Sebagaimana museum lainya, koleksi yang ada di museum ini cukup lengkap dan menurut keterangan dari pemandu dan petugas museum sendiri bahwa koleksi benda-benda yang ada di museum ini seperti senjata, granat, ranjau serta senjata tradisional, dan berbagai koleksi benda-benda bersejarah lainya, rata-rata milik para pejuang yang diserahkan langsung oleh pemiliknya ke museum ini. 

Selain peralatan perang di museum ini juga menyimpan baju-baju para pejuang yang masih bernoda darah, serta ada juga mesin ketik, alat cepat surat kabar dan alat komunikasi, dll. Selain itu juga ada diorama yang menampilkan kisah pertempuran di Bogor seperti Bojong Kokosan, Maseng dan Kota Paris. 

Para pengujung diperbolehkan mendokumentasikan koleksi benda-benda bersejarah yang ada di museum ini. Saat tim Wisata Sastra mengunjungi ke museum ini banyak anak-anak muda, para pelajar yang sedang berkunjung ke museum ini, petugas dengan penuh antusias menerangkan sejarah perjuangan para tokoh pejuang yang ada di Kota Bogor saat itu. 

Namun sayangnya kondisi museum kurang begitu terawatt, dari fisik bangunan gedungnya sudah mulai banyak yang rusak, atap plafon sudah banyak yang terkelupas. Satu lagi asset sejarah di Kota Bogor yang perlu mendapat perhatian dari kita semua. 


Melalui kegiatan ini, Pekan Sastra Bogor 2026 berharap dapat menumbuhkan kecintaan masyarakat—khususnya generasi muda—terhadap ruang kota dan warisan sastra, serta sejarah yang ada di Kota Bogor dan sekitarnya. Rangkaian Pekan Sastra Bogor sendiri berlangsung selama dua hari, Sabtu – Minggu, 19 – 20 September 2026, dengan berbagai agenda diskusi, pameran, dan panggung rekreatif, serta screening film. – (ratman/pp)