Home Nusantara Serangan di Siang Bolong

Serangan di Siang Bolong

38
0
SHARE
Serangan di Siang Bolong

Keterangan Gambar : Lima calon kepala desa, Desa Sumberjaya, Kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi : H. Dulloh Syafe'i, Fajar Wiranata (Wirnata), Oji Daroji, Fajar Shodik, dan Joko Mulyono (sumber foto : diolah dengan AI/PP)

BEKASIParahyangan Post -  Sehari menjelang pencoblosan, suhu politik Desa Sumberjaya, Kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, terasa semakin meninggi. Lima calon kepala desa masih berada dalam arena kontestasi: H. Dulloh Syafe'i, Fajar Wiranata (Wirnata), Oji Daroji, Fajar Shodik, dan Joko Mulyono. Masing-masing bergerak dengan jaringan, pendekatan dan basis dukungannya sendiri.? 

Bukan lagi soal siapa yang paling ramai memasang atribut atau siapa yang paling banyak menggelar pertemuan. Sehari menjelang warga memasuki bilik suara, perebutan dukungan bergerak semakin terbuka. Serangan di siang bolong menjadi metafora yang tepat untuk menggambarkan suasana hari terakhir: politik desa tidak lagi bergerak dalam senyap, tetapi berlangsung terang-terangan di ruang-ruang sosial tempat warga menentukan pilihan.? 

Dari dinamika yang terlihat pada Sabtu terakhir, dua nama tampak lebih sering menjadi perhatian dalam percakapan dan pergerakan politik lapangan, yakni Fajar Shodik dan H. Dulloh Syafe'i. Namun, itu tidak berarti kontestasi hanya berlangsung di antara keduanya. Fajar Wiranata (Wirnata), Oji Daroji, dan Joko Mulyono tetap menjadi bagian penting dari konfigurasi lima calon yang akan diuji melalui suara warga pada hari pencoblosan. Kelima calon hadir dengan pendekatan yang tidak sepenuhnya sama.? 

Fajar Shodik datang dengan narasi perubahan tata kelola, digitalisasi pelayanan, transparansi dan penguatan ekonomi warga. H. Dulloh Syafe'i lebih terlihat mengandalkan kekuatan silaturahmi, pendekatan langsung kepada tokoh masyarakat dan jaringan sosial di tingkat lingkungan. Sementara Fajar Wiranata, Oji Daroji dan Joko Mulyono juga bergerak membangun dukungan melalui jaringan masyarakat dan pendekatan masing-masing kepada pemilih.? 

Dalam politik desa, peta seperti itu tidak selalu mudah dibaca dari keramaian di jalan. Banyak keputusan politik justru berlangsung dalam percakapan kecil di rumah, lingkungan keluarga, komunitas, RT dan RW. Karena itu, apa yang tampak di permukaan belum tentu sepenuhnya menggambarkan pilihan yang tersimpan di balik pintu rumah warga. Di sinilah “serangan di siang bolong” menemukan maknanya.? 

Terlihat pula, sejak pagi petugas KPPS membagikan undangan pemilihan kepada warga, suasana menjelang pencoblosan berubah. Tak lama kemudian, tim-tim pendukung mulai bergerak dari rumah ke rumah. Tidak selalu dengan pengerahan massa besar. Justru sebaliknya, pergerakannya lebih personal: mengetuk pintu, menyapa warga, berbicara dari rumah ke rumah dan berusaha memastikan dukungan menjelang hari penentuan. Itulah wajah politik desa yang sesungguhnya. Dekat, personal dan hampir tanpa jarak antara kandidat, tim pendukung dan pemilih.? 

Namun, politik Sumberjaya tidak sesederhana lima nama yang sedang memperebutkan suara. Berdasarkan data BPS, jumlah penduduk Sumberjaya telah mencapai sekitar 90 ribu jiwa, menjadikannya desa dengan jumlah penduduk terbesar di Kecamatan Tambun Selatan. ? 

Sementara data yang berkembang dari pihak desa/kelurahan menyebut jumlah penduduk telah berada pada angka yang lebih tinggi. Perbedaan angka dapat dipengaruhi oleh periode dan basis pendataan. Tetapi angka mana pun yang digunakan, skalanya tetap menunjukkan satu kenyataan: Sumberjaya bukan lagi desa dalam pengertian sosial yang sederhana. Ia adalah desa urban dengan persoalan pemerintahan yang semakin menyerupai kawasan perkotaan.? 

Pertumbuhan perumahan membawa konsekuensi terhadap kepadatan penduduk, kebutuhan pelayanan administrasi, infrastruktur, lingkungan, keamanan, ekonomi masyarakat dan tata ruang. Di sisi lain, persoalan pertanahan juga tidak bisa dilepaskan begitu saja dari perkembangan wilayah yang semakin padat dan bernilai ekonomi tinggi.? 

Siapa pun yang memperoleh mandat pada 20 September tidak hanya menerima kemenangan politik. Ia menerima pekerjaan rumah yang besar: bagaimana membuat pemerintahan desa bekerja lebih transparan, pelayanan lebih mudah, administrasi lebih tertib, pembangunan lebih terukur dan hubungan antara pemerintah desa dengan warganya lebih terbuka.? 

Hari ini warga tidak sekadar memilih seseorang untuk duduk sebagai kepala desa. Mereka memilih arah pengelolaan Sumberjaya untuk beberapa tahun ke depan. Setelah serangan di siang bolong berakhir, seluruh atribut kampanye akan dilepas. Lima calon akan kembali menjadi warga Sumberjaya. Suara akan dihitung. Yang menang akan menerima mandat. Yang belum berhasil harus menerima keputusan warga.? 


Pada saat itulah politik berhenti menjadi perebutan suara dan berubah menjadi pertanggungjawaban. Sebab Sumberjaya tidak hanya membutuhkan seorang pemenang. Sumberjaya membutuhkan pemerintahan yang mampu bekerja. - (Makmun/PP)