Home Seni Budaya Wawancara dengan Ananda Sukarlan Di Hari Kebangkitan Nasional

Wawancara dengan Ananda Sukarlan Di Hari Kebangkitan Nasional

169
0
SHARE
Wawancara dengan Ananda Sukarlan Di Hari Kebangkitan Nasional

Keterangan Gambar : Ananda Sukarlan, adalah Pianis dan Komponis asal Indonesia yang Menetap di Jakarta dan Spanyol. (Sumber Foto : ist/dok pribadi/pp)

Dalam rangka Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei ini, W.Suratman dari  Parahyangan Post mewawancarai komponis dan pianis Ananda Sukarlan. Komponis yang dianugerahi penghargaan sipil tertinggi dari kerajaan Spanyol "Real Orden de Isabel la Catolica" dan juga bintang kesatriaan "Cavaliere Ordine della Stella d'Italia" dari Presiden Sergio Mattarella ini sedang berada di rumahnya di Spanyol dan merespons via WhatsApp. Berikut petikanya : 

Parahyangan Post (PP) : Menurut Anda, peran dan pesan apa yang dibawa musik klasik Indonesia yang sangat relevan di dunia yang semakin terpecah belah saat ini di Hari Kebangkitan Nasional?

Ananda Sukarlan (AS) : Saya ingin menjawabnya bukan hanya dari konteks Harkitnas, tapi juga perayaan lain yang diperingati dunia setiap tahun di hari berikutnya karena tema diskusi kita sangat berkaitan. UNESCO telah menetapkan 21 Mei sebagai perayaan World Day for Cultural Diversity for Dialogue and Development atau Hari Keanekaragaman Budaya untuk Dialog dan Pembangunan Sedunia. Ini menyoroti tidak hanya kekayaan budaya dunia, tetapi juga peran penting dialog antarbudaya untuk mencapai perdamaian dan pembangunan berkelanjutan.

Tahun lalu United Nations menuliskan di website-nya bahwa 89% dari semua konflik saat ini di dunia terjadi di negara-negara dengan dialog antarbudaya yang rendah. Berarti, untuk menjalin kerja sama yang efektif dan mempertahankan perdamaian, penguatan dialog antarbudaya harus menjadi prioritas.

Menurut data UNESCO tahun lalu, sektor budaya dan kreatif merupakan salah satu mesin pembangunan paling kuat di seluruh dunia. Sektor ini – hampir setengahnya dipegang oleh perempuan – menyumbang 6,2% dari semua lapangan kerja yang ada dan 3,1% dari PDB global. Sektor ini juga merupakan sektor yang mempekerjakan dan menyediakan kesempatan bagi sebagian besar kaum muda di bawah usia 30 tahun. Nah, pemuda-pemudi kita bisa bangkit lagi melalui seni, khususnya musik! 

PP: Apa arti "diplomasi budaya" bagi Anda secara pribadi, dan kapan pertama kali Anda menyadari bahwa musik  dapat berfungsi sebagai bentuk diplomasi?

AS : Ini saya lakukan dengan "profesi dobel" saya: sebagai pianis dan sebagai komponis. Sebagai pianis, sampai saat ini ada sekitar 200 karya telah ditulis / didedikasikan untuk saya oleh lebih dari 100 komponis dari berbagai negara. Contoh yang mungkin paling signifikan mungkin adalah setelah bom Bali, 12 Oktober 2002. Beberapa komponis mengirim fax ke saya, selain ucapan dukacita, juga keinginan mereka untuk menulis karya untuk memperingati atau mengekspresikan rasa duka (atau rasa apapun itu: kemarahan, kekecewaan dll.) dan menanyakan apa saya tertarik untuk memainkan karya mereka. Mereka antara lain komponis Denmark Per Nørgård, pendiri International League of Women Composers Nancy van de Vate, banyak komponis Australia dan New Zealand seperti Gareth Farr, Peter Sculthorpe, Betty Beath dan sekitar 20-an lainnya dari beberapa negara lain. 

Karya-karya yang memperingati Bom Bali 2002 memang ditulis untuk saya, tapi saya anggap (dan saya sampaikan kepada para komponisnya) bahwa itu ditulis untuk Indonesia sebagai tanda persahabatan dan simpati rasa dukacita. Saya hanya alat untuk membuat partitur mereka berbunyi. Selain itu, saya mempersilakan para komponis itu untuk langsung menerbitkannya sehingga memberi kesempatan kepada pianis-pianis lainnya untuk memainkannya, karena saya menganggap bahwa kejadian ini penting untuk terus diingat di seluruh penjuru dunia dan kalau ada pihak-pihak yang ingin menghapus / mengubah kejadian ini dari sejarah, dunia musik sudah mendokumentasikannya.

PP: Dari berbagai pertunjukan atau proyek internasional Anda, mana yang Anda anggap paling signifikan dalam hal pertukaran budaya, dan mengapa?

AS : Nah di sini peran saya sebagai komponis. Antara lain, saya menuliskan Rapsodia Nusantara untuk piano solo yang menggunakan elemen-elemen etnik Nusantara, dan saat ini (44 nomor) sudah dimainkan oleh pianis dari berbagai kebangsaan sehingga secara tidak langsung mengenalkan Indonesia ke audiensnya. Ini praktis, karena piano ada di semua gedung konser, dan para pianis membutuhkan karya baru yang berbeda dan dapat menawarkan elemen pianistik yang baru untuk konser mereka. Saya juga menulis beberapa karya yang menyatukan dua elemen latarbelakang yang berbeda, misalnya "I wish Pavarotti Had Known Marzuki" yang menggabungkan melodi Puccini, "Nessun Dorma" dengan melodi Ismail Marzuki, "Melati di Tapal Batas", atau di karya baru saya pesanan dari kementrian luar negeri Austria, "The Curious Coincidence of a Tune Appearance in Austria & Scotland in the Night-Time" yang menunjukkan melodi yang sama dari lagu rakyat Skotlandia dan Austria. 

PP : Bagaimana Anda menggunakan lokakarya, masterclass, atau program pendidikan di luar negeri untuk memperkenalkan musik dan budaya Indonesia?

AS : Dulu saat saya kuliah, saya tidak memiliki aset untuk memperkenalkan budaya Indonesia. Saya "curhat" kepada komponis alm. Yazeed Djamin, dan dialah yang ingin membuatkan saya "Rapsodia Nusantara", karya yang dapat menunjukkan kemampuan teknik dan musikalitas pianis tapi dengan elemen Indonesia. Sayang sekali saat menuliskannya dia wafat (2001), dan 5 tahun kemudian saya ambil ide itu dan sampai sekarang saya bersyukur bisa menggunakan elemen dari hampir semua provinsi, tinggal Bengkulu saja yang belum ada karena saya memang belum menemukan lagu etnik / tradisional dari Bengkulu. Nah, Rapsodia ini kan sudah dimainkan oleh ribuan pianis, dan saya sering diundang menjadi "composer in residence" oleh institusi beberapa negara, jadi saya selain bisa memberi masukan kepada para pianis untuk memainkan Rapsodia Nusantara, saya juga bisa menjelaskan latar belakang, menganalisa dan memperkenalkan bunyi aslinya musik Indonesia tersebut. 

PP : Jenis umpan balik atau reaksi apa yang Anda terima dari audiens atau musisi asing ketika mereka pertama kali mengenal musik klasik Indonesia? Adakah sesuatu yang mengejutkan Anda?

PP : Bagaimana karya Anda membantu menantang stereotip tentang Indonesia atau membentuk kembali persepsi internasional tentang negara ini?

AS : Dua pertanyaan ini saya jawab jadi satu ya. Banyak negara yang masih menganggap bahwa musik Indonesia hanyalah gamelan, dan sistem tangganadanya pentatonik. Dengan Rapsodia Nusantara, saya menunjukkan penggunaan ritme, melodi, harmoni yang beragam dan sama sekali berbeda dengan gamelan Bali dan Jawa. Juga karya-karya saya yang lain seperti karya orkes The Voyage to Marege' , yang diminta oleh pemerintah Australia dan Darwin Festival untuk merayakan kedatangan pelaut Makassar dan Bugis ke Australia sebagai imigran pertama, dan juga bagaimana mereka menetap, berkeluarga dengan suku Aborigin sehingga bahasa Aborigin banyak yang mengambil perbendaharaan kata Makassar, saya menggunakan lagu tradisional Makassar, Ammac Ciang : pentatonik tapi beda sekali dengan yang di Bali atau Jawa.

PP : Apakah Anda melihat dampak yang terukur — seperti peningkatan minat pada budaya Indonesia atau perubahan kebijakan — yang dihasilkan dari upaya diplomasi Anda?

AS : Oh ya tentu saja, kini para musisi klasik dari berbagai negara lebih "aware" tentang musik Indonesia, banyak yang malah mengunjungi Indonesia. Pemerintah Perancis sejak 2014 memberikan beasiswa kuliah musim panas ke pemenang Ananda Sukarlan Award (ASA) lewat Institut Francais d'Indonesie, dan sejak tahun lalu Australian Institute of Music juga memberi beasiswa 1 tahun kepada pemenang ASA yang sudah berusia 18 tahun ke atas, dan kami sedang tahap finalisasi kerjasama dengan berbagai institusi di negara-negara lain. Para pemerintah negara tersebut ingin memperkenalkan budaya mereka ke para musikus kita, dan berharap musikus kita juga memperkenalkan budaya Indonesia saat mereka ke negara pemberi beasiswa tersebut. ASA didirikan oleh Pia Alisjahbana tahun 2008, tapi kemudian saya sendiri mendirikan Kompetisi Piano Nusantara (KPN) tahun 2016, dan setelah vakum selama pandemi, saya tambahkan kata "plus" (KPN+ ) untuk membuatnya menjadi kompetisi untuk semua instrumen dan vokal. ASA pun sejak 2023 ditujukan kepada semua instrumen dan vokal, dan saya menghubungkan KPN+ dengan ASA, dengan cara memberikan golden ticket kepada para pemenang KPN+ untuk langsung ke babak final ASA tanpa melalui babak penyisihan, untuk kemudian dapat memenangkan berbagai beasiswa tersebut. 

PP : Bagaimana mempermudah / memfasilitasi promosi budaya Indonesia ini kepada para pelaku seni dan kemudian publik internasional? 

AS : Sebagai komponis musik klasik, saya selalu menggunakan instrumen yang "standar", artinya tersedia di semua negara dan dipakai di konser-konser musik klasik, baik instrumen senar (piano, harpa, gitar) atau yang digesek ataupun alat tiup. Nah, materialnya adalah elemen-elemen musik tradisional Indonesia, tapi diaplikasikan ke instrumen "Barat" tersebut sehingga bisa dimainkan oleh para musisi manapun, cukup dengan membaca partitur saya. Bahkan orkes pun, seperti The Voyage to Marege' , dimainkan di orkes manapun dengan mudah karena instrumennya semua standar.

Biasanya para solois atau chamber music group konsultasi untuk interpretasi dan detail tambahan, mereka menghubungi saya lewat Instagram saya, apalagi jika mereka menggunakannya untuk penelitian atau disertasi / tesis kuliah mereka. Selain itu ada yang membutuhkannya menjadi bahan presentasi di konferensi internasional. Bulan ini kita bisa lihat prestasi Dr. Edy Panjaitan yang presentasi di konferensi bergengsi American Musicological Society di New York University, dan Dr. Karen Yong (Malaysia) di International Piano Professionals Association di konferensi daring (online) yang diselenggarakan IPPA setiap 2 tahun sekali. Ada beberapa pianis remaja yang telah memenangkan kompetisi IPPA, mereka menggunakan Rapsodia Nusantara sebagai repertoire yang sangat membantu mereka dalam membedakan kualitas dengan para peserta negara-negara lain yang tangguh.

PP : Bagaimana pemerintah dan lembaga budaya Indonesia dapat lebih mendukung seniman yang terlibat dalam diplomasi budaya?

AS : Wah kalau soal pemerintah, saya tidak tahu dan tidak mau terlibat. Pemerintah punya kebijakan sendiri. Saya ingin bekerja secara independen. 

PP : Jika Anda dapat menyampaikan satu pesan kepada pemuda Indonesia yang menggeluti musik klasik, apa pesan itu?

AS : Seni berperan penting dalam diplomasi yang menentukan posisi Indonesia di mata dunia. Produk budaya Indonesia sudah seharusnya memiliki potensi mengingatkan posisi strategis negara Indonesia dalam jalur perdagangan dunia. Sebagai negara terbesar di Asia Tenggara, produk budaya Indonesia berpotensi mendorong perekonomian negara. Akan tetapi, pertanyaannya ada pada bagaimana produk budaya Indonesia diperkenalkan lebih luas. Di sinilah para seniman memegang peranan penting, bukan hanya dari segi teknik, tapi juga dari karakter dan identitas yang kuat. Berkarir bukan hanya bertumpu pada kemampuan teknik dan ilmu anda, tapi bagaimana anda menggunakannya untuk memapankan identitas anda yang akhirnya bisa berkontribusi pada sesama. - (rat/pp)