Oleh : Samianto
Presiden Forum Kebangsaan
Ia bernama Indonesia. Di usia 81, ia tak lagi muda, tapi semangatnya tak pernah menua. 81 tahun lalu ia memilih berdiri dengan darah dan doa. Hari ini ia berdiri lagi, bukan di medan perang, tapi di pabrik, di sawah, di ruang kelas, dan di layar-layar anak muda yang menciptakan masa depan.
Ia pernah dijajah, tapi tak pernah kalah.
Di usia ke-81, Indonesia membuktikan: kemerdekaan itu harus diisi. Dulu kita rebut dengan bambu runcing. Sekarang kita jaga dengan karya, teknologi, dan toleransi. Merahnya adalah keberanian. Putihnya adalah kejujuran. Dan selama dua warna itu masih berkibar di dada kita, Indonesia akan terus melaju.
Delapan dekade lebih satu tahun, kita bukan lagi anak yang belajar berjalan. Kita sudah berlari, jatuh, bangkit, dan menatap dunia dengan kepala tegak. Merah Putih masih sama, tapi cerita di baliknya terus bertambah. "Di Usia 81, Kemerdekaan Bukan Sekadar Peringatan" Ia adalah napas. Ia adalah kerja. Ia adalah guru yang datang setiap pagi dan bertanya: hari ini, untuk bangsa apa yang kau lakukan?
Dulu kemerdekaan direbut dengan bambu runcing. Kini kita merawatnya dengan ide, karya, dan keberanian bermimpi. Indonesia ke-81 bukan titik akhir, ini babak baru. "Merahnya Tetap Menyala, Putihnya Tetap Bersih". 81 tahun sudah. Badai silih berganti, tapi bendera ini belum pernah pudar. Karena yang menjaganya bukan hanya tiang, tapi hati 280 juta jiwa.
Angin masih membawa bisik para pendahulu di tiap upacara. Di usia 81, kemerdekaan mengajari kita bahwa merdeka itu bukan bebas melakukan apa saja, tapi bebas bertanggung jawab atas semuanya.
Indonesiaku bukan muda lagi, tapi semangatmu tak pernah menua. Kau pernah terluka, tapi tak pernah menyerah. Di setiap sawah, di setiap pelabuhan, di setiap kelas, kau hidup lagi.
Merdeka bukan lagi sekadar tanggal 17 Agustus. Merdeka adalah ketika petani bisa tersenyum panen, ketika guru tak cemas gaji, ketika anak Papua sampai Aceh merasa rumahnya sama.
Selamat ulang tahun, Indonesia. Tugas kita belum selesai. Baru dimulai.
Setiap bulan Agustus dari desa sampai ke kota, dari warung kopi sampai gedung bertingkat, dari kantor RT sampai Istana, dari level karyawan sampai direktur, semua sibuk merayakan peringatan HUT RI dari tahun ke tahun. Seluruh warga bangsa pesta pora merayakan dengan berbagai event lomba model tradisi Nusantara menambahkan suasana agustusan di seluruh Nusantara sangat memukau dan membahagiakan semua warga bangsa.
Tradisi Agustusan bukan hanya sekedar bermain tapi berjumpanya semangat kebangsaan yang sama. Terbukanya sekat - sekat yang memagari aktivitas warga. Gotong royong sebagai budaya Nusantara terlihat di semua sudut dan ruang. Semua berjalan mengalir tanpa ada perbedaan. Moderasi rasa kebersamaan, persaudaraan menjadi ciri nilai yang kokoh dan hidup dalam sanubari warga bangsa.
Dalam usia yang sudah menua ini Indonesia sedang bangkit menata diri. Dari keterpurukan akibat penjajahan dari dalam negri sendiri oleh elit dan mafioso. Kebocoran penerimaan negara sedang dibenahi, tatakelola negara yang bersih sedang dijalankan. Presiden Prabowo dengan semboyan "Sapu Bersih mengabdi untuk rakyat" . Terus digaungkan kepada seluruh aparatur negara dari pusat sampai ke desa. Agar menyadari tujuan kita berbangsa bernegara untuk mensejahterakan rakyat.
Pemerintah kabinet merah putih sedang kerja keras siang dan malam. Membenahi, memperbaiki, sistem pengelolaan negara yang efektif efesien tanpa kebocoran. Semua kekayaan negara darat, laut, udara, diambil-alih negara dan dipergunakan sebesar besar untuk kemakmuran rakyat. Pesan UUD 45. Seluruh hajat hidup orang banyak dikuasai negara. Inilah bentuk makna kedaulatan. Indonesia harus kembali ke UUD 45 asli. Selamat HUT RI ke- 81 berdaulat adil makmur. Merdeka !





LEAVE A REPLY