Home Edukasi Kuliah Umum Perdana BK FKIP UIA Hadirkan Dr. Yohan Kurniawan dari Universiti Malaya

Kuliah Umum Perdana BK FKIP UIA Hadirkan Dr. Yohan Kurniawan dari Universiti Malaya

Soroti Tantangan Kesehatan Mental di Era Digital

142
0
SHARE
Kuliah Umum Perdana BK FKIP UIA Hadirkan Dr. Yohan Kurniawan dari Universiti Malaya

JAKARTA, parahyangan-post.com- Program Studi Bimbingan dan Konseling (BK) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Islam As-Syafi’iyah (UIA) menggelar kuliah umum perdana bertajuk Mental Health in the 21st Century: Challenges, Opportunities, and the Role of Professional Counselors”, Senin (14/9/2026).

Kuliah umum yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting tersebut menghadirkan Dr. Yohan Kurniawan, Senior Lecturer Universiti Malaya, Malaysia, sebagai narasumber.

Kegiatan dibuka Dekan FKIP UIA Dr. H. Moch Fachry Yasin, M.Pd., sedangkan pengantar disampaikan oleh Purek III UIA Bidang Kemahasiswaan Dr. Misbah Fikrianto, MM., M.Si., M.Pd.(dalam bahasa Inggris). Diikuti, selain mahasiswa UIA, juga para guru Bimbingan dan Konseling dari berbagai daerah di Indonesia dan Malaysia. Antusiasme peserta terlihat dari diskusi yang berlangsung dinamis. Bahkan, sejumlah peserta tidak memperoleh kesempatan menyampaikan pertanyaan karena keterbatasan waktu.

Dalam paparannya, Yohan Kurniawan menyoroti perubahan besar dalam kesehatan mental yang terjadi seiring disrupsi digital dan munculnya era hiperkonektivitas.

Menurut dia, perkembangan teknologi menciptakan sebuah paradoks. Manusia kini semakin terhubung secara digital, tetapi pada saat yang sama generasi muda justru melaporkan tingkat kesepian yang sangat tinggi.

“Disrupsi digital era hiperkonektivitas menciptakan paradoks. Kita lebih terhubung secara digital, tetapi generasi muda melaporkan tingkat kesepian tertinggi dalam sejarah,” demikian salah satu pokok pemikirannya.

Ia juga mengungkapkan bahwa tuntutan performa, budaya hustle, serta ekspektasi yang tidak realistis turut memicu peningkatan kecemasan, baik dalam lingkungan akademik maupun profesional, terutama setelah pandemi.

Di sisi lain, Yohan melihat munculnya era kesadaran baru dalam masyarakat. Stigma terhadap kesehatan mental mulai berkurang sehingga masyarakat, termasuk mahasiswa, semakin proaktif mencari bantuan profesional ketika menghadapi persoalan psikologis.

Tantangan Konseling

Yohan menyebut dampak media sosial sebagai salah satu tantangan utama konseling modern. Media sosial, menurut dia, tidak lagi sekadar menjadi sarana komunikasi, tetapi telah berubah menjadi arena perbandingan sosial yang intens.

Fenomena pertama adalah FOMO (Fear of Missing Out), yakni kecemasan kronis karena seseorang merasa tertinggal dibandingkan pencapaian orang lain yang dilihat melalui media sosial.

Kedua, cyberbullying, yang memungkinkan terjadinya agresi relasional tanpa batas ruang dan waktu. Ketiga adalah krisis identitas, ketika seseorang mengalami kesulitan membedakan persona yang ditampilkan secara daring dengan realitas dirinya.

Selain itu, Yohan menyoroti persoalan burnout dan kelelahan emosional yang banyak ditemukan pada mahasiswa dan pekerja muda. Kondisi tersebut antara lain dipicu hilangnya batas antara waktu produktif dan waktu istirahat.

Dampaknya dapat berupa kelelahan kognitif akibat *information overload* yang menurunkan konsentrasi, meningkatnya gangguan kecemasan terkait masa depan ekonomi dan karier, serta munculnya sikap apatis berupa hilangnya motivasi internal akibat kelelahan sistemik.

Peluang

Meski menghadirkan berbagai tantangan, Yohan menegaskan bahwa perkembangan teknologi tidak harus dipandang semata-mata sebagai sumber masalah. Bagi konselor profesional, teknologi justru dapat menjadi alat untuk memperluas jangkauan layanan.

Salah satunya melalui telekonseling atau konseling virtual. Layanan ini dapat menghapus hambatan geografis dan membuat klien yang masih ragu mendatangi klinik merasa lebih aman untuk memulai sesi konseling dari lingkungan yang mereka anggap nyaman.

Teknologi juga dapat dimanfaatkan melalui aplikasi psikoedukasi dan kecerdasan artifisial (AI). Yohan menjelaskan, chatbot kesehatan mental dapat berfungsi sebagai semacam “P3K psikologis” untuk membantu memberikan stabilisasi awal sebelum seseorang memperoleh pendampingan dari konselor manusia.

Selain itu, data dari perangkat wearable seperti smartwatch berpotensi dimanfaatkan untuk membantu konselor memahami pola tidur dan tingkat stres klien secara lebih objektif.

Karena itu, menurut Yohan, tantangan kesehatan mental di abad ke-21 sekaligus membuka ruang inovasi bagi profesi konselor. Kuncinya adalah bagaimana teknologi digunakan secara profesional, etis, dan tetap menempatkan konselor manusia sebagai bagian penting dalam proses pendampingan.

Kuliah umum perdana BK FKIP UIA tersebut menjadi ruang pembelajaran sekaligus refleksi bagi mahasiswa, akademisi, dan praktisi BK untuk menghadapi perubahan karakter persoalan kesehatan mental di tengah kehidupan digital yang semakin kompleks.***(pp/aboe)