Home Opini Gembira dengan Hidup Sederhana

Gembira dengan Hidup Sederhana

77
0
SHARE
Gembira dengan Hidup Sederhana

Oleh : Fabian Satya Rabani,
Mahasiswa IPB University


Benarkah menjadi orang biasa kini semakin mahal? Mungkin persoalannya bukan karena hidup sederhana makin sulit, melainkan karena keinginan untuk terlihat istimewa semakin mahal. Kita hidup dalam zaman ketika keberhasilan mudah dipamerkan dan kehidupan orang lain hadir hampir setiap hari melalui layar. Rumah, kendaraan, pakaian, makanan, pekerjaan, hingga perjalanan menjadi bahan perbandingan. Akibatnya, ukuran tentang hidup yang baik perlahan bergeser dari “cukup untuk saya” menjadi “terlihat berhasil di mata orang lain”. 

Kecenderungan membandingkan diri sebenarnya bukan hal baru. Leon Festinger melalui A Theory of Social Comparison Processes (1954) menjelaskan bahwa manusia memiliki kecenderungan mengevaluasi dirinya dengan membandingkannya dengan orang lain. Bedanya, dahulu lingkaran pembanding kita relatif terbatas pada tetangga, teman, atau kerabat. Kini, media sosial memperluasnya tanpa batas. Masalahnya, yang kita lihat biasanya hanyalah bagian terbaik dari kehidupan orang lain, bukan seluruh perjuangan, kegagalan, utang, kecemasan, atau pengorbanan di baliknya. 

Karena itu, konsumsi tidak boleh dibaca secara hitam-putih. Tidak setiap orang yang membeli barang mahal sedang mencari pengakuan, dan tidak setiap orang yang menggunakan pembiayaan digital sedang terjebak gaya hidup. Sebagian pembiayaan memang digunakan untuk kebutuhan produktif atau keadaan mendesak. Persoalan muncul ketika keputusan membeli tidak lagi berangkat dari kebutuhan, melainkan dari rasa takut dianggap tertinggal. Pada titik itu, barang bukan sekadar benda yang digunakan, tetapi menjadi alat untuk membangun citra diri. 


Ketika Hidup Harus Terlihat Berhasil  

Penelitian Tahir Islam dan kolega menunjukkan adanya hubungan antara perbandingan sosial, materialisme, dan kecenderungan membeli secara kompulsif pada remaja dan dewasa muda. Media sosial dalam penelitian tersebut juga berperan dalam memperkuat hubungan antara perbandingan sosial dan nilai materialistik. Namun, temuan itu tidak berarti media sosial otomatis membuat seseorang konsumtif. Perilaku konsumsi tetap dipengaruhi banyak faktor, mulai dari kondisi ekonomi, keluarga, kepribadian, hingga lingkungan sosial. Karena itu, menyalahkan konsumen semata justru menyederhanakan persoalan. 

Data pembiayaan digital menunjukkan bahwa akses terhadap fasilitas keuangan memang semakin besar. Otoritas Jasa Keuangan mencatat outstanding pinjaman daring mencapai Rp103,73 triliun pada Mei 2026, tumbuh 25,60 persen secara tahunan. Pada periode yang sama, pembiayaan buy now pay later (BNPL) perusahaan pembiayaan mencapai Rp13,18 triliun dan tumbuh 53,78 persen. Angka tersebut menunjukkan meningkatnya penggunaan pembiayaan digital, tetapi tidak otomatis membuktikan masyarakat semakin konsumtif. Yang perlu diperhatikan adalah kemampuan masyarakat membedakan antara kebutuhan, keinginan, dan tekanan untuk mengikuti gaya hidup. 

Ironisnya, hidup sederhana sering dipersepsikan sebagai tanda kurang berhasil. Kendaraan lama dianggap tidak bergengsi, ponsel yang masih berfungsi disebut ketinggalan zaman, dan rumah sederhana dianggap belum mencerminkan kesuksesan. Bahkan, makan bersama keluarga atau berlibur terasa kurang lengkap jika tidak dipublikasikan. Padahal, kehidupan tidak kehilangan nilainya hanya karena tidak menjadi tontonan. Rumah yang nyaman tetap menjadi rumah yang baik meskipun tidak viral, sementara keberhasilan membiayai pendidikan anak jauh lebih bermakna daripada sekadar mendapatkan banyak tanda suka. 


Kesederhanaan sebagai Pilihan yang Merdeka 

Menjadi sederhana bukan berarti menolak kemajuan atau memusuhi kemewahan. Kesederhanaan justru dapat menjadi pilihan yang rasional ketika seseorang mampu menentukan prioritas berdasarkan kebutuhan dan kemampuan. Kendaraan lama yang bebas cicilan mungkin memberikan ruang keuangan lebih besar. Ponsel yang tetap berfungsi tidak perlu diganti hanya karena model terbaru telah muncul. Liburan yang sesuai kemampuan juga tidak menjadi kurang berharga hanya karena tidak menghasilkan konten yang menarik. 

Namun, kesederhanaan tidak boleh berubah menjadi romantisasi kemiskinan. Tidak semua orang memiliki kesempatan memilih hidup sederhana karena sebagian masyarakat masih berjuang memenuhi kebutuhan dasar. Mereka membutuhkan pekerjaan layak, pendidikan berkualitas, perlindungan sosial, dan akses keuangan yang aman. Karena itu, ajakan hidup sederhana harus dibedakan dari ajakan kepada orang miskin untuk sekadar menerima keadaan. Kesederhanaan baru bermakna sebagai pilihan ketika seseorang memiliki ruang untuk menentukan kehidupannya sendiri. 

Di sinilah pendidikan, terutama pendidikan literasi digital dan finansial, menjadi penting. Anak perlu belajar bahwa nilai dirinya tidak ditentukan oleh merek, jumlah pengikut, atau barang yang dimiliki. Mereka juga perlu memahami bahwa media sosial tidak pernah menampilkan kehidupan secara utuh. Pendidikan seharusnya tidak berhenti pada pesan “jangan konsumtif”, tetapi mengajak siswa membongkar bagaimana iklan, tren, dan perbandingan sosial membentuk keinginan. Dengan begitu, mereka tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga pembaca kritis terhadap dunia yang ditampilkan teknologi. 

Yang semakin mahal mungkin bukan menjadi orang biasa, melainkan kebutuhan untuk terlihat luar biasa. Kita membayarnya dengan uang, waktu, perhatian, bahkan ketenangan. Tidak semua tren harus diikuti dan tidak semua kehidupan orang lain harus menjadi ukuran kehidupan kita. Menjadi biasa justru dapat menjadi bentuk keberanian di tengah zaman yang gemar mempertontonkan keistimewaan. Kita tetap boleh bermimpi besar dan menikmati hasil kerja keras, tetapi kita juga berhak merasa gembira dengan kehidupan yang cukup. Sebab, kemampuan mengatakan “ini sudah cukup bagi saya” barangkali merupakan salah satu bentuk kemerdekaan yang paling berharga.(*)