Home Siaran Pers Dari Hype ke Dampak Nyata, DANA Soroti Implementasi AI bagi Bisnis dan Talenta

Dari Hype ke Dampak Nyata, DANA Soroti Implementasi AI bagi Bisnis dan Talenta

71
0
SHARE
Dari Hype ke Dampak Nyata, DANA Soroti Implementasi AI bagi Bisnis dan Talenta

Keterangan Gambar : (Ki-ka) Norman Sasono, CTO DANA Indonesia; Sai Prasad Kolluri, CTO Google Cloud Indonesia; Abil Sudarman, Founder ASSAI; dan Jason Tedjasukmana, Creator dan Host podcast “Southeast Asia on the Edge” selaku moderator, dalam bincang-bincang mengenai bagaimana AI mengubah peran software engineer serta keterampilan yang semakin penting di masa depan, mulai dari memahami kebutuhan bisnis, memecahkan masalah, merancang arsitektur, hingga mengambil keputusan.

Melalui AI@Work Lab di IdeaFest 2026, DANA membahas bagaimana AI meningkatkan produktivitas operasional bisnis sekaligus mengubah peran talenta teknologi

JAKARTA - Parahyangan PostKetika penggunaan kecerdasan buatan (AI) semakin masif, tingginya tingkat adopsi belum tentu menghasilkan nilai nyata bagi perusahaan. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah teknologi tersebut benar-benar mampu menyelesaikan persoalan, meningkatkan produktivitas, dan menciptakan dampak yang terukur bagi bisnis. 

Isu tersebut menjadi fokus DANA dalam inisiatif tahunan AI@Work Labdi IdeaFest 2026, yang mempertemukan pemimpin bisnis, teknologi, dan komunitas untuk membahas cara membawa AI dari tahap eksperimen menuju implementasi yang memberikan hasil terukur serta dampaknya bagi masa depan talenta.  


Dalam sesi The AI Adoption Trap: Moving Beyond Hype to Real Business Value, Vince Iswara, CEO & Co-Founder DANA Indonesia, bersama Raymond Chin, Founder Genesis & Sevenpreneur, menekankan bahwa perusahaan perlu mengukur tingkat keberhasilan AI terhadap proses kerja dan perubahan yang dihasilkan terhadap bisnis, bukan hanya dari seberapa banyak AI digunakan atau eksperimen yang dijalankan. 

“Adopsi AI bukan lagi tujuan akhir. Nilainya baru tercipta ketika teknologi tersebut membantu menyelesaikan persoalan yang nyata, memperbaiki kualitas keputusan, dan memberikan hasil yang dapat diukur. Namun, manusia tetap memegang peran utama dalam menentukan konteks, menjaga kualitas, mengelola risiko, dan bertanggung jawab atas hasil akhirnya,” ujar Vince. 


Saat ini, sekitar 80-90% kode di DANA dihasilkan dengan dukungan AI. Meski demikian, peran engineer tidak berhenti pada pemeriksaan kualitas. Engineer tetap bertanggung jawab dalam merumuskan persoalan, merancang arsitektur sistem, melakukan validasi, memastikan keamanan, serta mengambil keputusan atas hasil akhir.  

Sepanjang 2025, implementasi agentic AI pada sejumlah proses operasional DANA mencatat peningkatan produktivitas hingga 57%, peningkatan kepuasan pelanggan sebesar 13%, serta percepatan penyelesaian layanan sebesar 10%. 

Diskusi juga menyoroti pentingnya kesiapan organisasi dan talenta dalam mengintegrasikan AI ke proses kerja. Perusahaan perlu memberi ruang untuk mencoba teknologi baru, sekaligus memastikan tata kelola dan penerapannya tetap bertanggung jawab. Pendekatan tersebut diterapkan dengan memberikan ruang bagi tim untuk bereksperimen, sembari memastikan setiap penggunaan AI memiliki tujuan, parameter keberhasilan, dan akuntabilitas yang jelas. 

Di DANA, pendekatan ini salah satunya dilakukan lewat penerapan Smart Friction, yaitu penambahan lapisan verifikasi secara terukur pada aktivitas yang memiliki indikasi risiko lebih tinggi. Lewat kolaborasi lintas sektor bersama Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), langkah tersebut berkontribusi terhadap penurunan aktivitas terindikasi perjudian online di platform hingga 80% sepanjang 2025. 


Perubahan AI terhadap dunia kerja pun dibahas lebih lanjut dalam sesi Beyond Coding: Building a Career AI Can’t Replacebersama Norman Sasono, CTO DANA Indonesia; Sai Prasad Kolluri, CTO Google Cloud Indonesia; dan Abil Sudarman, Founder ASSAI. 

Sesi tersebut mengupas bagaimana AI mengubah peran software engineer serta keterampilan yang akan semakin penting ke depan. Coding tetap menjadi kemampuan penting, tetapi keunggulan kompetitif bergeser ke kemampuan memahami bisnis, memecahkan masalah, merancang arsitektur, mengambil keputusan, dan bertanggung jawab atas hasil secara menyeluruh. 

“AI dapat membantu menjawab how, tetapi engineer tetap bertanggung jawab atas why, what, dan what could go wrong. Ketika kode semakin mudah dihasilkan, kemampuan memahami konteks, menggunakan penilaian yang tepat, dan akuntabilitas justru menjadi semakin penting,” ujar Norman Sasono. 

Melalui AI@Work Lab, DANA ingin membawa diskusi mengenai AI ke tahap yang lebih konkret: bukan lagi sekadar soal siapa yang paling cepat mengadopsinya, tetapi persoalan apa yang dapat diselesaikan, hasil apa yang benar-benar berubah, serta bagaimana manusia dapat menggunakan teknologi tersebut secara bertanggung jawab. - (ws/pp)