Home Nusantara Ditjen KPM Komdigi dan Anggota Komisi I DPR RI Gelar Forum Diskusi Publik Peran Influencer dan

Ditjen KPM Komdigi dan Anggota Komisi I DPR RI Gelar Forum Diskusi Publik Peran Influencer dan

Komunitas Digital Dalam Kampanye Diversifikasi Pangan Lokal

129
0
SHARE
Ditjen KPM Komdigi dan Anggota Komisi I DPR RI Gelar Forum Diskusi Publik  Peran Influencer dan

Keterangan Gambar : Forum Diskusi Publik : Peran Influencer dan Komunitas Digital Dalam Kampanye Diversifikasi Pangan Lokal , Senin, 27 APRIL 2026, Pukul 15.00 – 17,00 WIB, Bertempat di Intel Studio Ps.Minggu, Komplex TNI AL, Jln. Teluk Peleng no. 32 B, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.  (sumber foto : ist/pp)

JAKARTA II Parahyangan Post - Ditjen Komunikasi Publik dan Media (KPM) KEMKOMDIGI bersama Bapak Prof. Dr. (H.C.) H. A Halim Iskandar, M.Pd (Anggota Komisi I DPR RI) mengadakan webinar Forum Diskusi Publik dengan tema:  " Peran Influencer dan Komunitas Digital Dalam Kampanye Diversifikasi Pangan Lokal  ” Pada hari Senin, 27 APRIL 2026, Pukul 15.00 – 17,00 WIB, Bertempat di Intel Studio Ps.Minggu, Komplex TNI AL, Jln. Teluk Peleng no. 32 B, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. 

Narasumber 1 : Prof. Dr. (H.C.) H. A Halim Iskandar, M.Pd (Anggota Komisi I DPR RI)  :
Kegiatan  pemaparan  ini  dibuka  oleh  Prof.  (H.C.)  Dr.  (H.C.)  A.  Halim Iskandar, M.Pd., selaku Anggota Komisi I DPR RI. Sejak awal, beliau menegaskan bahwa  persoalan  pangan  bukan  semata  urusan  Kementerian  Pertanian, melainkan  menyentuh  akar  ketahanan  nasional  secara  menyeluruh.  Dalam pengantarnya, narasumber menyampaikan keyakinan bahwa negara yang lapar adalah negara yang rapuh — sebuah premis yang menjadi landasan seluruh pemaparan.

Narasumber juga menekankan bahwa ruang digital saat ini adalah medan pertempuran paling nyata untuk mengubah perilaku masyarakat. Oleh karena itu, kolaborasi dengan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) dianggap bukan pilihan, melainkan keharusan, dalam memimpin gerakan literasi pangan dan perubahan budaya konsumsi secara masif. Narasumber memaparkan data terkini terkait kondisi pangan Indonesia. Produksi beras dalam negeri pada tahun 2025 tercatat mencapai 34,71 juta ton — sebuah angka yang diakui sebagai pencapaian luar biasa. Namun di balik angka tersebut, tersimpan kerentanan struktural yang perlu segera diatasi.  

Permasalahan  utama  yang  disorot  adalah  pola  pikir  masyarakat  yang masih  sangat  bergantung  pada  beras  sebagai  satu-satunya  sumber  pangan pokok. Pandangan 'kalau belum makan nasi, rasanya belum makan' dinilai masih mengakar kuat di hampir seluruh lapisan masyarakat.Ketergantungan tunggal   beras (single staple food) ini menjadi titik lemah yang berbahaya, terutama ketika dihadapkan pada ancaman krisis iklim global yang makin nyata.

Dari sisi gandum, narasumber menyebutkan bahwa konsumsi gandum per kapita Indonesia sudah melampaui angka 30 kilogram per tahun, dan seluruhnya masih dipenuhi lewat impor. Meski impor pada 2025 turun drastis menjadi sekitar 440 ribu ton dari sebelumnya 4,5 juta ton di tahun 2024, ketergantungan struktural pada pasokan dari luar negeri tetap menjadi risiko yang tidak bisa diabaikan. Salah satu poin paling ditekankan oleh narasumber adalah repositioning peran komunitas digital.

Pengguna internet dan kreator konten tidak seharusnya dipandang hanya sebagai konsumen informasi atau pembuat hiburan semata. Mereka harus diperlakukan dan didorong untuk menjadi inisiator perubahan perilaku masyarakat — atau dalam istilah yang digunakan narasumber, sebagai behavioral change agents.  

Data yang dipaparkan menunjukkan bahwa Indonesia memiliki 229,42 juta pengguna internet aktif per tahun 2024, dengan tingkat penetrasi mencapai 80,66 persen. Segmen terbesar dari pengguna tersebut adalah Generasi Z dan milenial, yang mayoritas menghabiskan waktu mereka di ruang digital. Potensi ini, menurut narasumber, belum dimanfaatkan secara optimal untuk tujuan-tujuan strategis seperti perubahan pola konsumsi pangan.

Narasumber memberi ilustrasi  yang mengena: pemerintah bisa membuat baliho atau menerbitkan aturan, tetapi yang benar-benar mampu membuat Generasi Z merasa bahwa 'makan papeda itu keren' atau 'waffle dari tepung singkong itu estetik' justru adalah para konten kreator. Inilah mengapa pendekatan berbasis komunitas digital  dinilai  jauh  lebih  efektif  dibandingkan  kampanye  formal  dari  atas  ke bawah.  

Di penghujung paparannya, Prof. Halim Iskandar menyampaikan pesan yang menjadi inti dari seluruh pembicaraan. Beliau menegaskan bahwa gerakan diversifikasi pangan sama sekali tidak bertujuan untuk memusuhi beras atau menyingkirkannya dari meja makan masyarakat Indonesia. "Diversifikasi pangan bukan berarti memusuhi beras.

Diversifikasi adalah memberikan variasi. Ibarat tidak menaruh semua telur dalam satu keranjang." Filosofi ini mencerminkan pendekatan yang inklusif dan realistis: memperluas pilihan pangan masyarakat, bukan  memaksa  perubahan  yang  drastis.  Ketika  masyarakat  memiliki  lebih banyak opsi pangan yang mereka kenal, sukai, dan percaya, maka ketahanan pangan nasional akan tumbuh secara organik dari bawah — dan tidak lagi rentan terhadap guncangan pasokan dari luar negeri.

Narasumber 2 :  Dr. Rulli Nasrullah, M.Si (Praktisi Kehumasan dan Pakar Budaya Digital) :
Data  yang  disampaikan  narasumber  menyebutkan  konsumsi  beras nasional mencapai 31 juta ton per tahun, ditambah impor gandum sebesar 7,13 juta ton. Kondisi ini dinilai rentan, terutama mengingat rantai pasok pangan global yang semakin terpapar risiko konflik geopolitik dan perubahan iklim. Di sisi lain, Indonesia tercatat sebagai salah satu penyumbang food loss dan food waste terbesar di dunia, menduduki peringkat kedua secara global.

Dr. Rulli Nasrullah menekankan bahwa ancaman ini bukan hanya persoalan ekonomi, melainkan menyentuh isu kedaulatan bangsa. Ketika bahan baku pangan pokok masih  bergantung  pada  pasokan  dari  luar  negeri,  maka  ketahanan  pangan nasional menjadi rapuh. Solusinya, menurut beliau, justru sudah ada di dalam negeri — yakni kekayaan pangan lokal Nusantara yang selama ini. 
 
Narasumber  memperkenalkan  konsep  'Superfood  Nusantara'  yang mencakup komoditas lokal seperti ubi cilembu, singkong, sagu, jagung, dan umbi-umbian lainnya. Pangan-pangan ini dinilai memiliki keunggulan gizi yang tidak kalah dari produk impor. Ubi cilembu, misalnya, kaya akan pro-vitamin A yang bermanfaat untuk fungsi otak, sekaligus memiliki indeks glikemik rendah sehingga baik bagi penderita diabetes maupun masyarakat yang ingin menjaga kadar gula darah. Kandungan pati resisten (resistant starch) pada pangan lokal juga disebut tiga kali lebih ramah bagi sistem pencernaan dibandingkan nasi putih biasa. Selain nilai gizi, komoditas ini juga unggul dari sisi lingkungan. Jejak karbon budidayanya tergolong sangat rendah, dan limbah organiknya dapat langsung dikembalikan ke tanah atau dimanfaatkan sebagai pakan ternak — menjadikannya bagian dari sistem ekonomi sirkular yang berkelanjutan.  

Salah satu tantangan terbesar yang disorot dalam sesi ini adalah krisis regenerasi  di  sektor  pertanian.  Saat  ini,  hanya  sekitar  30  persen  pemuda Indonesia  yang  terlibat  dalam  dunia  pertanian.  Generasi  muda  cenderung menjauhi profesi petani karena stigma yang melekat — dianggap berisiko, kotor, dan tidak modern. Ditambah lagi, derasnya budaya instan membuat mereka semakin jauh dari sektor pangan. Dr. Rulli menyampaikan bahwa komunikasi digital bisa menjadi katalis perubahan. Melalui media sosial, e-commerce, dan teknologi smart farming, pertanian konvensional dapat bertransformasi menjadi agripreneurship — sebuah model usaha tani yang presisi, modern, dan bergengsi di mata generasi digital native.  

Narasumber  menggambarkan  mekanisme  perubahan  yang  disebut sebagai 'efek bola salju', yang bergerak melalui empat tahap. Tahap pertama dimulai dari inspirasi digital — konten mukbang dan resep kreatif berbahan pangan lokal yang dibuat oleh para influencer mampu meruntuhkan stigma lama dan menjadikan makanan tradisional sebagai bagian dari gaya hidup modern. Tahap kedua adalah gerakan komunitas, di mana adopsi tren berlangsung secara massal melalui tantangan digital, festival pangan lokal, dan amplifikasi tagar #BanggaPanganLokal.  Pada  tahap  ketiga  terjadi  substitusi  konsumsi,  yakni masyarakat secara bertahap mengurangi porsi nasi putih dan menggantinya dengan umbi-umbian. Puncaknya, pada tahap keempat, lonjakan permintaan domestik ini mendorong kesejahteraan petani, menstabilkan harga komoditas, dan memperkuat ketahanan pangan daerah.  

Untuk  mewujudkan  perubahan  tersebut,  narasumber  memaparkan empat  pilar  strategi  kampanye  digital  yang saling  melengkapi.  Pertama, kampanye harus berbasis data dan gizi — menggunakan infografis ringkas untuk menjawab hoaks dengan fakta ilmiah, seperti indeks glikemik dan manfaat pati resisten.  Kedua,  konten  perlu mengedepankan  visual  dan  storytelling  — mengangkat kisah nyata perjuangan petani dengan sinematografi yang menarik agar pangan lokal tampil mouth-watering dan relevan secara budaya. Ketiga, konsistensi platform menjadi kunci: intervensi digital harus berkelanjutan dan terintegrasi langsung dengan kanal penjualan seperti e-commerce pangan lokal, bukan  sekadar  mengejar  tren  viral  sesaat.  Keempat,  kolaborasi  ekosistem diperlukan agar influencer tidak bergerak sendiri, melainkan bersinergi langsung dengan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) dan UMKM untuk memperkuat otoritas pesan.  

Dr.  Rulli  Nasrullah  menutup  paparannya  dengan  menegaskan  bahwa diversifikasi pangan bukan sekadar mengganti isi piring. Ini adalah tindakan nyata  untuk  membela  petani,  melestarikan  kekayaan  alam  Nusantara,  dan merebut kembali kedaulatan pangan bangsa. Beliau menyerukan

Narasumber 3 : Dr. Narsun Annahar (Pegiat Literasi Digital) :
Dr.  Nasrun  Annahar  : membuka  paparannya  dengan  memotret  kondisi pangan Indonesia yang disebutnya berada dalam situasi darurat ketergantungan. Merujuk  pada  data  Badan  Pangan  Nasional  (Bapanas)  dan  BPS  tahun  2023, konsumsi karbohidrat masyarakat Indonesia masih sangat didominasi oleh beras, jauh  melampaui  komoditas  pangan  lainnya.  Kondisi  ini  bukan  hanya  soal kebiasaan makan, melainkan mencerminkan ketidakseimbangan struktural yang membuat  ketahanan  pangan  nasional  berdiri  di  atas  fondasi  yang  goyah.

Narasumber memperkuat argumennya dengan menyorot ancaman perubahan iklim yang nyata. Fenomena El Nino, misalnya, terbukti memukul produksi padi nasional secara telak — memicu kegagalan panen akibat kekeringan panjang sekaligus mendorong lonjakan harga beras di pasar domestik. Dalam konteks ini, diversifikasi pangan bukan sekadar anjuran gizi, melainkan bentuk mitigasi krisis iklim yang paling konkret dan langsung bisa dilakukan oleh setiap rumah tangga.

Salah  satu  fakta  yang  paling  menarik  perhatian  dalam  paparan  ini  adalah pengungkapan bahwa Indonesia sesungguhnya memiliki tidak kurang dari 77 jenis tanaman pangan penghasil karbohidrat. Kekayaan ini mencakup ragam umbi-umbian, sagu beserta berbagai olahannya, hingga beragam pangan lokal lain yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Ironisnya, kekayaan luar biasa ini justru nyaris tidak tersentuh dalam pola makan sehari-hari sebagian besar masyarakat Indonesia. Potensi ini semakin relevan ketika dilihat dari perspektif kesehatan. Indonesia tercatat berada di posisi kelima dunia dalam jumlah penderita diabetes menurut data International Diabetes Federation (IDF).

Sementara itu, konsumsi beras  putih  yang berlebihan  diketahui  berkontribusi  pada  peningkatan  risiko diabetes karena indeks glikemiknya yang tinggi. Pangan lokal seperti sorgum yang kaya serat dan antioksidan, sagu yang aman bagi pencernaan dan bebas gluten, serta  singkong  dengan  indeks  glikemik  yang  lebih  rendah,  sesungguhnya menyimpan jawaban atas persoalan kesehatan publik ini.

Narasumber secara jujur mengakui bahwa upaya mendorong diversifikasi pangan bukan  barang  baru. Berbagai program  pemerintah  telah  diluncurkan selama bertahun-tahun, namun hasilnya belum mengubah pola konsumsi secara signifikan. Akar masalahnya ada dua: stigma sosial dan pendekatan kampanye yang keliru. Dari sisi stigma, pangan lokal seperti ubi, sagu, dan singkong terlanjur melekat dengan citra 'makanan orang susah' atau 'ndeso' di benak sebagian masyarakat.

Ungkapan seperti 'belum makan kalau belum ketemu nasi putih porsi kuli' bukan sekadar guyonan, melainkan cerminan dinding mental yang nyata dan tebal. Sementara dari sisi pendekatan, kampanye pemerintah di masa lalu dinilai terlalu formal, membosankan, bersifat top-down atau instruksional, dan tidak didukung visual yang menarik. Hasilnya, pesan yang disampaikan tidak pernah benar-benar meresap ke dalam keseharian masyarakat, apalagi generasi muda.

Di sinilah narasumber memposisikan influencer dan komunitas digital sebagai aktor kunci  yang  selama  ini  belum  dioptimalkan.  Berbeda  dengan  pendekatan penyuluhan konvensional yang berjalan satu arah, konten kreator bekerja secara personal dan relatable — mereka berbicara seperti teman, bukan seperti pejabat. Pesannya  bersifat  horizontal,  rekomendasi  sesama,  dan  jauh  lebih  mudah diterima terutama oleh Generasi Z. Dr.  Nasrun  mendefinisikan  peran  kreator  konten  dalam  tiga  fungsi strategis.  

Pertama,  sebagai  visual  power,  yakni  kemampuan membuat  bahan pangan  lokal  tampak  'fancy'  dan  menggugah  selera  melalui  presentasi  yang estetik.  

Kedua,  sebagai  trend  setter,  yang  menciptakan  budaya  baru  lewat mekanisme FOMO (fear of missing out) sehingga mengonsumsi pangan lokal terasa  kekinian.  

Ketiga,  sebagai  bridge  atau  jembatan  yang  menghubungkan pelaku  UMKM  pangan  lokal  dengan  pasar perkotaan  yang  sebelumnya  sulit dijangkau. Narasumber merinci pendekatan konten yang dinilai efektif untuk mengubah persepsi publik terhadap pangan lokal.

Prinsip pertama dan paling mendasar  adalah  jangan  jual  mentahnya  —  singkong  berlumpur  tidak  akan menarik  minat  Generasi  Z.  Yang  perlu  dijual  adalah  pengalaman  dan  gaya hidupnya. Ini berarti penyajian foto makanan dengan estetika kafe minimalis, penggunaan  kata  kunci  yang  relevan  di  kalangan  konsumen  modern  seperti gluten-free, healthy lifestyle, dan plant-based, serta kreasi resep kontemporer seperti brownies Mocaf, pasta sagu, atau sorghum bowl.

Untuk format konten, Dr.  Nasrun  merekomendasikan  pendekatan  edutainment  yang  disesuaikan dengan karakteristik setiap platform. Di TikTok dan Instagram Reels, format video 60 detik bertema 'a day in my life makan tanpa nasi' dengan sound viral dinilai paling  efektif  menjangkau  audiens  muda.  

Sementara  di  fitur  Stories,  polling interaktif seperti 'Tim Ubi atau Tim Singkong?' bisa membangun keterlibatan audiens secara langsung. Adapun di platform berbasis teks seperti Threads atau X, thread informatif yang mengupas data kesehatan pangan lokal dengan gaya santai dapat menjangkau segmen yang lebih kritis dan ingin memahami topik lebih dalam.  

Dimensi  lain  yang  ditekankan  adalah  pendekatan  farm-to-table  story. Narasumber  mengingatkan  bahwa  konsumen  modern  tidak  hanya  membeli produk,  tetapi  juga  membeli  cerita  di  baliknya.  

Menampilkan  wajah  petani sorgum di NTT, atau narasi bahwa 'dengan makan ini kamu membantu biaya sekolah  anak  petani',  akan  menciptakan  koneksi  emosional  yang  mengubah tindakan  konsumsi  menjadi  ekspresi  solidaritas  sosial  sekaligus  kesadaran lingkungan.  

Dr.  Nasrun  Annahar  menutup  paparannya  dengan  ajakan  yang sederhana namun bermakna dalam. Perubahan tidak harus dimulai dari kebijakan besar atau anggaran negara yang masif. Ia bisa dimulai dari jari — dari satu unggahan, satu video, satu thread yang dengan tulus mengajak orang-orang di sekitar kita untuk mengenal, mencoba, dan mencintai kekayaan pangan yang sudah lama ada di bumi Indonesia.

Dalam pandangannya, mengubah isi piring adalah tindakan yang jauh lebih besar dari yang terlihat. Ia adalah pilihan untuk menjaga  kesehatan  diri,  membantu  petani  lokal  bertahan,  mengurangi ketergantungan impor, dan pada akhirnya — mengamankan masa depan bangsa. - (ANW/PP)