Jakarta, parahyangan-post (sambungan) Abdul Wahab Abdi merupakan wartawan Kemenag yang paling senior. Usianya kini sudah 68 tahun. Meski giginya sudah ompong namun fisiknya masih gesit. Masih lincah menulis berita dan suka ’hunting’. Penglihatannya pun masih baik, dan tidak berkacamata. Hingga usianya yang sudah uzur ini dia hampir-hampir tidak pernah sakit.
Buka Bersama Kemenag: Press Gathering Rasa Reuni (1)
Makanya ia merasa sangat bersyukur saat diundang oleh Humas Kemenag dalam buka bersama, yang menurutnya seperti reuni dengan rekan wartawan muda, karena banyak rekan seangkatannya sudah berpulang.
”Tapi saya sekarang gak nulis langsung. Saya cuma ngomong saja, yang nulisin dan upload keponakan,” ujarnya kepada penulis.
Uniknya, Wahab, sampai saat ini tidak mau memakai aplikasi medsos, seperti WA, IG maupun facebook. Dia masih konvensional. Bahkan kalau menghubungi dia harus telepon langsung.
Di zamannya, Wahab adalah wartawan yang disegani dan menjadi 'anak emas’ sejumlah Menteri Agama. Baik karena medianya yang memang disegani yakni ”Angkatan Bersenjata”, yang istilahnya -batuk aja wartawannya Narsum udah pusing-, Maupun kemampuan lobynya yang ’hight’ dan sikap pribadinya yang ’low’. Tidak garang seperti kebanyakan wartawan yang banyak mengandalkan ’kumis’.
Maka tidak heran, ke mana-mana dia sering diajak Menteri Agama, termasuk liputan luar negeri dan haji. Ia sudah berkali-kali menunaikan ibadah haji dengan fasilitas dari kementerian.
Wahab mempunyai banyak cerita mengenai interaksinya dengan Menteri Agama. Ketika Menag Said Agil Husin Al Munawar tersandung kasus, dialah wartawan yang paling gigih membela, karena ia yakin Said tidak bersalah. Ia hanyalah korban kelalaian admiministrasi dan ’budaya’ kementerian yang belum direformasi.
Kamaruddin Amin: Praktek Keagamaan Harus Berdampak dalam Kehidupan Sosia
Wahab juga banyak dimintai pejabat jikalau bermasalah hukum, karena Wahab juga tercatat sebagai wartawan hukum.Dan dia pernah mengelola tabloid ”Hukum dan Kriminalitas”, setelah koran Angkatan Bersenjata berhenti terbit.
Khusus dengan Menteri Agama Nasaruddin Umar, Wahab pun punya cerita menarik. Waktu itu Nasaruddin Umar masih Dirjen dan dikulik-kulik untuk ditersangkakan dalam kasus pencetakan Al Quran.
“Saya mendatangi ruangan Beliau untuk konfirmasi. Saya lihat Beliu tenang, tetap senyum, tidak merasa takut sedikit pun. Bahkan Beliau seakan menantang, jika pun aku harus masuk penjara, aku akan masuk dengan hati lapang. Aku akan jadikan penjara itu sebagai ’Qua Hira”,” kenang Wahab.
Ucapan Nasaruddin 'penjara sebagai gua hira' dijadikan Wahab sebagai judul liputan di medianya dan mendapat aplaus positif dari sejumlah kalangan. Dikenang sebagai liputan yang ’human interest’ menggiring masalah hukum ke ranah kemanusiaan yang menyentuh, yang membangkitkan spirit kerohanian tinggi.
Nyatanya Nasaruddin Umar memang dinyatakan tidak bersalah dan terbebas dari jerat hukum. Yang menggiring Beliau dicoba ditersangkakan ketika itu adalah karena mengalihkan pencetakan al-Quran dari perusahaan percetakan non Muslim ke perusahaan perecetakan Muslim. Karena Beliau melihat dan menyaksikan dengan mata kepala sendiri bahwa proses percetakannya tidak islami. Tidak sesuai dengan spirit kesucian al-Quran yang dijunjung tinggi oleh umat Islam. Seperti hasil cetakan diinjak-injak dengan kaki, cetakan ’return’ dipakai alat ngepel meja dan sebagainya, yang membuat beliau seakan menangis.
Beliau berkeyakinan al-Quran adalah kitab suci. Kesuciannya tidak hanya saat dibaca tetapi juga harus suci bahan dan seluruh proses pembuatannya. Melihat proses pencetakan yang tidak benar itulah yang membuat ia marah.
Bahkan setelah menjadi Menteri pun, Nasaruddin Umar sering menceritakan hal tersebut kepada wartawan. Terutama saat mengajak wartawan Kemenag melihat secara langsung proses pencetakan al-Quran yang benar di Percetakan milik Kemenag di Ciawi, di awal Beliau diangkat menjadi Menteri Agama.***(aboe)






LEAVE A REPLY