Home Seni Budaya Perayaan Hari Puisi Indonesia 2026 Dimeriahkan Tokoh Lintas Generasi dan Negeri,

Perayaan Hari Puisi Indonesia 2026 Dimeriahkan Tokoh Lintas Generasi dan Negeri,

Menteri Kebudayaan Fadli Zon Siap Orasi Budaya

228
0
SHARE
Perayaan Hari Puisi Indonesia 2026  Dimeriahkan Tokoh Lintas Generasi dan Negeri,

Keterangan Gambar : Jajaran panitia Hari Puisi Indonesia bersama Kepala Badan Bahasa Hafidz Muksin. (sumber foto : Herman Suahra/Ist/PP)


JAKARTA
Parahyangan Post - YAYASAN Hari Puisi Indonesia kembali menggelar perayaan  Hari Puisi Indonesia ke-14 pada 26 Juli 2026. Keistimewaan Hari Puisi Indonesia kali ini merupakan tahun pertama setelah Hari Puisi Indonesia ditetapkan sebagai agenda kebudayaan negara berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kebudayaan Nomor 161 Tahun 2025  tentang Hari Puisi Indonesia. 

Sebagai mana tertera dalam susunan acara, Pelaksana Panitia Hari Puisi Indonesia 2026 menyatakan, Menteri Kebudayaan Fadli Zon direncanakan tampil menyampaikan orasi budaya. 

Di samping itu, sejumlah tokoh dari  lintas disiplin dan kepakaran, profesi, dan lintas asal negeri, akan memeriahkan panggung Hari Puisi Indonesia yang akan digelar di Gedung A  Kemendikdasmen, Jalan Jend Sudirman, Jakarta Pusat, Minggu (26/7/2026), jam 14.00--17.30.

Mereka yang akan tampil adalah Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh  Ekuador untuk Indonesia Luis Guellermo Arellano Jibaja, pegiat seni budaya religi Neno Warisman, novelis dan penyair Helvy Tiana Rosa, penyair yang juga Staf Ahli Menteri Nissa Rengganis, penyair Hasan Aspahani, peneliti BRIN Sastri Sunarti Sweeney, istri Wagub Provinsi Maluku Hj Rohani Vanath. 

Dari kalangan generasi  sandwich dan generasi  Z tampil Duta Baca Kota Bogor Tiara Ratna dan Fahri Hidayatullah, penari cilik Shakira dan Fakheera, serta dari “generasi opa dan oma”  yang lebih tua akan tampil kritikus sastra dan feminis  Prof Soenardjati Djajanegara dan LK Ara (keduanya berusia di atas 90 tahun, dan Presiden Penyair Sutardji Calzoum Bachri. 

Selain itu, melalui rekaman video, akan bergantian menyampaikan ucapan Selamat Hari Puisi Indonesia  sejumlah penyair dari mancanegara. Mereka berasal dari  Amerika Serikat, India, Serbia, Kroasia, Yunani, Bangladesh, Beirut,  Bulgaria, Nigeria, dan Puerto Rico.

Mengomentari keunikan acara yang melibatkan tokoh lintas generasi  dan lintas negara ini,  Wakil Ketua Yayasan Hari Puisi yang memberikan sambutan mewakili Ketua Asrizal Nur yang berhalangan hadir karena masalah kesehatan menyebutkan, sejak digelar 13 tahun lalu baru kali untuk pertama kalinya panggung perayaan Hari Puisi Indonesia menjadi  panggung  kolaboratif  antarlintas  usia dan generasi, lintas disiplin ilmu dan kepakaran, lintas profesi, serta penyair lintas negara. 

“Hari ini adalah hari yang istimewa bagi kita semua,” serunya. 

Menyinggung  sejarah perjalanan Yayasan Hari Puisi, Danny mengatakan pihaknya telah memulai perjuangan sejak 13 tahun lalu. Bukan perjuangan semata-mata untuk Yayasan Hari Puisi tapi perjuangan untuk memuliakan puisi sebagai salah satu mahkota kebudayaan bangsa. 

“Selama tiga belas tahun kami mengetuk banyak pintu, berdialog, berdiskusi, agar negara memberikan pengakuan kepada Hari Puisi Indonesia. Alhamdulillah, pada 26 Juli  2025 tepat satu tahun yang lalu, cita-cita itu terwujud melalui penetapan Hari Puisi Indonesia oleh Bapak Fadli Zon selaku Menteri Kebudayaan,” ungkap Danny. 

Sejak menjadi bagian kalender kebudayaan nasional, lanjut Danny, Hari Puisi Indonesia bukan lagi milik Yayasan Hari Puisi, melainkan menjadi  milik  seluruh rakyat Indonesia. Maka perayaannya tidak lagi hanya diselenggarakan oleh  Yayasan Hari Puisi.  Namun  dirayakan bersama oleh komunitas sastra, sekolah, kampus, sanggar budaya, perpustakaan, juga masyarakat di lingkungan pemerintah daerah, kelurahan, desa, RT , dan RW.

Menebalkan Makna pada Segala

Sementara itu dalam sambutan berisi  laporan acara, Ketua Panitia Pelaksana Hari Puisi Indonesia 2026 Ariyani Isnamurti mengatakan, perayaan Hari Puisi Indonesia kali ini mengusung tema utama “Menebalkan Makna pada Segala”.  

Tema ini memberi pesan  untuk  merenungkan kembali hakikat puisi. Bahwa puisi tidak hanya lahir dari kata-kata-kata indah mendayu namun dari keberanian mencerna dan memberi makna pada kehidupan sehari-hari.

Menurut Ariyani, di tengah derasnya arus informasi di era digital dan perubahan yang begitu cepat --sehingga kita seperti tidak sempat lagi memilah dan memilih mana informasi sampah dan mana yang bermanfaat, mana informasi yang penting dan tidak penting, puisi hadir sebagai ruang untuk mendengar suara hati, merawat nurani ,dan mengokohkan kemanusiaan, kearifan ,dan keberagaman.

“Puisi mengingatkan kita bahwa di balik setiap peristiwa selalu ada pesan dan nilai yang layak direnungkan ,dirawat dan diwariskan,” ujarnya. 

Selanjutnya Ariyani Isnamurti mengatakan, acara perayaan Hari Puisi Indonesia kali ini berlangsung dalam suasana lebih sederhana  karena keterbatasan sumber daya, termasuk minimnya anggaran dan sponsor. 

Hal itu membawa konsekuensi pada ditiadakannya sayembara ikonik rutin  yang sejak lama diminati para penyair yaitu sayembara buku antologi puisi yang memerlukan hadiah total sebesar Rp100 juta untuk lima pemenang. 

Acara “open mike” Panggung Puisi Rakyat yang juga biasanya dipadati penyair membaca puisi, pun ditiadakan.

Acara unggulan yang tetap dipertahankan adalah Anugerah Penyair Adiluhung yakni semacam lifetime achievement yang diberikan kepada penyair atas dedikasi dan kesungguhannya berkarya. 

Panitia juga membatasi undangan tidak lebih dari 150 orang termasuk panitia dan kalangan internal , serta mempersingkat acara yang semula tiga hari hanya  menjadi sekitar tiga jam. 

Namun, menurut Ariyani, semua keterbatasan  itu tidak membuat panitia surut langkah dan menyerah. Keterbastasan terbukti dapat  dijadikan tantangan sekaligus  peluang untuk kreatif dan kolaboratif agar ruh Hari Puisi Indonesia tetap menyala dan berdampak sebagai ajang apresiasi dan silaturahmi kreatif bagi para penyair Indonesia. 

“Kami bertungkus lumus agar Hari Puisi Indonesia tetap terselenggara karena sejak 13 tahun lalu acara ini  telah menjadi  salah satu pemantik spirit  kepenyairan  Indonesia,” tandasnya. 

Ariyani mengatakan, bersyukur atas bantuan yang diberikan oleh Kementerian Kebudayaan sehingga akhirnya acara ini dapat digelar. Dana bantuan itu digunakan dengan sangat hati-hati, ketat, dan selektif karena memang jauh dari anggaran yang dibutuhkan. 

“Lebih dari separuh bantuan itu kami utamakan untuk hadiah kepada pemenang Anugerah Penyair Adiluhung dan sisanya kami kami mengupayakan cukup untuk memenuhi kebutuhan konsumsi, sewa  peralatan, dan jasa lainnya,” katanya.

Dia berharap ke depannya pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya dapat memberikan dukungan moral  dan material lebih memadai agar Yayasan Hari Puisi dapat lebih berperan aktif melibatkan penyair dalam  berbagai program pemajuan kebudayaan yang dicanangkan pemerintah. 

“Dengan dukungan lebih memadai  yang diberikan pemerintah kami berharap dapat bahu membahu bersama pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya dalam memberikan apresiasi dan penghargaan kepada lebih banyak lagi penyair dan sastrawan yang berprestasi. Selain itu juga  kami berharap dapat  menyelenggarakan program pelatihan penulisan puisi, seminar puisi, penerjemahan puisi, dan kembali dapat  menyelenggarakan sayembara penulisan antologi puisi  yang telah dirintis sejak 13 tahun lalu,” papar Ariyani  penuh harap. - (rd/hs/pp)