Home Agama Buka Bersama Kemenag: Press Gathering Rasa Reuni (1)

Buka Bersama Kemenag: Press Gathering Rasa Reuni (1)

Ada yang sudah melayani 12 Menteri Agama, dari Alamsyah Ratu Perwiranegara hingga Nasaruddin Umar

357
0
SHARE
Buka Bersama Kemenag: Press Gathering Rasa Reuni (1)

Jakarta, parahyangan-post.com-Ada yang beda  pada Press Gathering yang diselenggarakan Humas Kementerian Agama, di kantor Kemenag Banteng, Rabu 11 Maret 2025. Acara yang dikemas dalam format ”Buka Bersama Ramadhan BERSAMA MEDIA, Sinergi mengabarkan kebaikan” terasa menyentuh. Sekaligus mengharukan. Karena hadirnya sejumlah wartawan senior yang sudah puluhan tahun ’negpos’ di Kementerin  penjaga moral bangsa itu.  Sejak Menteri Agamanya Alamsyah Ratu Perwira Negara. Artinya mereka sudah beriteraksi dengan 12 Menteri Agama. Luar biasa!

Yang paling senior adalah Abdul Wahab Abdi, yang ketika masuk ke Kemenag sebagai wartawan Angkata Bersenjata, kemudian Ismail Lutan, (Tabloid Hikmah-Pikiran Rakyat Grup-Bandung), Kadar Santoso (Haluan-Padang), Asmanu (Radio Surabaya-Surabaya) dan Robiatun (Harian Terbit-Jakarta).

Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik Thobib Al Asyhar, dan ujung tombaknya Kabag Moh. Khoiron, sepertinya  sengaja menampilkan yang beda di bulan penuh berkah ini. Press Ghatering bukan hanya sekadar memberikan informasi (rilis) untuk disebarkan oleh wartawan, tetapi lebih dari itu. Press Gathering kali ini menukik kepada substansinya. Yakni menjalin kebersamaan untuk meraih keberkahan. Karena informasi-informasi (rilis) yang dikeluarkan oleh Kementerian Agama, bukan hanya sekadar berita untuk dikomsumsi masyarakat, tetapi juga ibadah, sebagai bagian dari dakwah. Yang pertanggungjawabannya bukan saja di dunia tetapi juga di akhirat.

Itulah yang membedakan wartawan-wartawan yang ‘ngepos’ di Kementerian Agama dengan wartawan di tempat lain.

”Terkadang saya ’spaning juga’ ketika wartawan-wartawan dari kelompok lain bilang wartawa Kementerian Agama ’banci’, lembek, tidak kritis, dan hanya memberitakan berita dari Humas. Namun saya menahan diri untuk tidak terpancing,” ujar Ismail Lutan, yang pernah dua kali menjadi sekretaris wartawan PWI-Jaya, Koodinatorat Kementerian Agama (kini FORWAGAMA), yakni di masa ketuanya Nirhadi (RRI) dan Iskandar (Dialog),.

Karena, lanjut Ismail Lutan, ada persepsi mengakar di kepala teman-teman itu, yang mengartikan ’kritis’ berati bisa membuat gaduh, membuat rusuh, membuat pejabatnya ketar-ketir, dan seterusnya.

”Bagi saya kritis tidak seperti itu. Kritis adalah bagaimana informsi itu bisa membuat pembaca tercerahkan dengan informasi yang berimbang, kemudian mengambil sikap tanpa emosional dengan keseimbangan informasi yang diperoleh tanpa ada agenda-agenda tersembunyi di baliknya,” tambah Ismail Lutan, yang sekarang  sebagai  Ketua Umum Persaudaraan Jurnalsi Muslim Indonesia (PJMI).

Saya rasa, lanjut Ismail Lutan, rilis-rilis yang dikeluarkan oleh Kementerian Agama, terutama sejak Menterinya dipegang oleh Nasaruddin Umar, adalah informasi yang berimbang, jujur,  didukung fakta dan bisa dikritisi.   

”Maka kalau saya menerima rilis dari Kemenag, saya percaya dan menaikkanya, dan itu adalah bagian dari dakwah media saya untuk mengabarkan kebaikan kepada umat,” tambah Ismail yang kini Pemimpim Umum parahyangan-post.com.

Dulu, lanjut Ismail Lutan, saat medianya masih dalam format cetak, kalau dia membawa rilis ke kantor, beritanya masuk tong sampah. Berita dari rilis, ketika itu, adalah berita klas ’sudra’, klas paling rendah, yang hanya dinaikkan jika redakturnya kehabisan bahan.

”Tapi kini saya melihat rilis yang keluarkan oleh Kementerian yang  diterima langsung oleh wartawan adalah berita Kelas A-1. Karena pembuat rilis tidak akan berani berbohong, sebab kalau berbohong akan segera ketahuan,” lanjut Ismail.

Makanya, lanjut Ismail Lutan, dia tidak begitu menghiraukan cap-cap kurang nyaman yang dilabelkan kepada wartawan yang ’ngepos’ di Kementerian Agama, karena memang sudut presisinya beda. Ada pertanggung jawaban moral, ibadah dari berita yang diseberkan.

Ismail Lutan juga mengapresiasi kepengurusan Forum Wartawan Kementerian Agama (FORWAGAMA) saat ini yang diketuai oleh Purwadi (Di’S Way) dan tim yang solid. Yang mampu melahirkan kembali organisasi kewartawan di lingkungan kementerian agama yang sempat ’mati suri’.   Mereka adalah wartawan-wartawan muda yang energik, kreatif memiliki kemampuan loby yang baik,  dan lebih dari itu memahami posisinya berada  di   lingkungan lembaga yang tidak hanya berurusan dengan dunia, tetapi juga di akhirat.*** (aboe)

(BERSAMBUNG)