Home Profil Ismail Banda: Sang Arsitek Al Washliyah, Sahid di Teheran

Ismail Banda: Sang Arsitek Al Washliyah, Sahid di Teheran

Oleh: Ismai Lutan

112
0
SHARE
Ismail Banda: Sang Arsitek Al Washliyah, Sahid di Teheran

Keterangan Gambar : Ismail Banda (foto dok pb al-washliyah)

Ormas Islam terbesar dari Sumatera, Al Washliyah,  yang lahir di Medan, tahun 1930, akan menyelenggarakan Muktamar ke-23 di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, 7-10 Juli 2026. Artikel  ini menampilkan serial tulisan profil dan kiprah para Ketua Umum. Tulisan pertama, tentang Ismail Banda.

Lahir pada tahun 1910, Ismail Banda bukanlah ulama yang sekadar berdiam diri di dalam surau. Ia adalah representasi generasi baru Muslim di Sumatera Utara yang memadukan kedalaman ilmu agama dengan ketajaman berpikir modern. Saat masih berstatus pelajar senior di Maktab Islamiyah Tapanuli (MIT) Medan, Ismail telah menunjukkan bakat kepemimpinan yang menonjol melalui keterlibatannya memimpin klub diskusi pelajar (Debating Club).

Pada akhir tahun 1930, tensi sosial dan perpecahan pandangan di kalangan umat Islam tradisional akibat isu khilafiyah sedang memanas. Melihat kondisi tersebut, Ismail Banda bersama sahabat-sahabat karibnya, seperti H. Abdurrahman Syihab dan H. M. Arsyad Thalib Lubis, merasa terpanggil untuk bertindak. Mereka menolak diam. Pertemuan demi pertemuan digagas hingga puncaknya pada 30 November 1930, Al Jam’iyatul Washliyah resmi dideklarasikan. Atas kesepakatan bersama para ulama dan pemuda, Ismail Banda yang baru berusia 20 tahun itu didaulat menjadi Ketua Umum Pengurus Besar (PB) Al Washliyah yang pertama.

Meski masa jabatan resminya tergolong sangat singkat—dari November 1930 hingga Juni 1931—gebrakan yang ditorehkan Ismail Banda laksana fondasi beton bagi masa depan organisasi. Langkah pertamanya yang paling krusial adalah merumuskan tata organisasi. Ia berhasil menyatukan ego para ulama lintas mazhab di Sumatera Utara agar mau melebur ke dalam satu wadah perjuangan yang inklusif. Visi utama organisasi dirancang matang: memajukan pendidikan, memperkuat dakwah, dan memberikan santunan sosial.

Di bawah komandonya, Al Washliyah langsung tancap gas dengan mendirikan madrasah-madrasah awal di sekitar Medan. Ia merombak gaya dakwah tradisional menjadi gerakan pendidikan yang sistematis. Pemikirannya yang maju membuat Al Washliyah tidak terjebak menjadi organisasi lokal yang kerdil, melainkan sebuah gerakan pembebasan berpikir.

Gebrakan Ismail Banda yang paling spektakuler justru terjadi setelah ia melepaskan kursi ketua umum demi melanjutkan studi ke Makkah, Arab Saudi. Keberangkatannya didanai oleh program beasiswa (Studiefonds) perdana yang diinisiasi oleh Al Washliyah sendiri. Di Makkah, sembari menimba ilmu di Madrasah al-Shaulatiyah, ia tidak melupakan organisasi yang dibidaninya. Dengan keberanian luar biasa, Ismail Banda mendirikan Kantor Cabang Al Washliyah di Makkah. Ini adalah sebuah lompatan kuantum: ormas Islam yang baru berusia seumur jagung di Hindia Belanda, tiba-tiba sudah memiliki sayap internasional di pusat spiritual dunia.

Lewat cabang Makkah ini, Ismail Banda bertindak sebagai duta. Ia membantu para jemaah haji asal Sumatera dan menyebarkan gagasan-gagasan Al Washliyah ke tingkat global. Tidak berhenti di sana, kemampuan literasinya yang tinggi ia manfaatkan untuk menulis artikel di berbagai media massa tanah air, menyuarakan kondisi umat dan membakar semangat antikolonialisme dari seberang lautan.

Kiprah Ismail Banda kemudian melesat melampaui batas organisasi. Perjalanannya berlanjut ke Universitas Al-Azhar di Kairo, Mesir, di mana ia menjadi aktor kunci diplomasi internasional yang mendesak Liga Arab untuk mengakui kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945. Namun, akar dari jiwa diplomasi tangguh itu sejatinya lahir dan ditempa dari rahim kepengurusan PB Al Washliyah.

Namun perjuangn Ismail Banda terhenti saat melakukan perjalanan dinas sebagai Kuasa Usaha (Charge d'affaires) RI untuk Kabul, Afghanistan. Pesawat yang ditumpanginya SNCASE SE.161 Languedo, milik maskapai Misrair (kelak menjadi Egyp Air)  jatuh dan terbakar sekitar 10 mil laut di sebelah barat kota Teheran akibat terjebak badai salju besar saat hendak melakukan pendaratan. Seluruh 22 penumpang dan kru di dalamnya dinyatakan gugur, termasuk Ismail Banda yang saat itu tengah.

Namun bagi Al Washliyah, nama Ismail Banda adalah sebuah legasi abadi. Ia adalah bukti nyata bahwa keterbatasan usia bukanlah penghalang untuk melahirkan karya besar bagi peradaban Islam di Nusantara.***(dirangkum dari berbagai sumber)