Home Opini Budaya Kawi di Tatar Sunda

Budaya Kawi di Tatar Sunda

49
0
SHARE
Budaya Kawi di Tatar Sunda

Oleh: Mugi Muryadi
Penulis adalah wisaswastawan, pegiat literasi, pemerhati sosial, lingkungan, dan pendidikan

BAHASA - Sering dipahami sekadar alat berbicara. Orang menggunakannya untuk menyampaikan pesan, bercakap, atau menulis kebutuhan sehari-hari. Padahal, bahasa menyimpan jejak jauh lebih besar daripada sekadar percakapan. Bahasa merekam sejarah kekuasaan, perjalanan pengetahuan, hingga perubahan cara berpikir suatu masyarakat. Karena itu, mempelajari bahasa lama sebenarnya sama dengan membaca ingatan sebuah peradaban.

Di Tatar Sunda abad ke-15, bahasa berkembang dalam situasi yang jauh lebih kompleks daripada bayangan banyak orang sekarang. Masyarakat Sunda ketika itu tidak hidup dalam ruang budaya tertutup. Mereka terhubung dengan jaringan intelektual Nusantara yang luas melalui tradisi tulis dan pertukaran pengetahuan. Dalam ruang itulah bahasa Sunda Kuno bertemu dengan bahasa Jawa Kuno atau Kawi. Pertemuan itu melahirkan budaya bilingual yang lentur, dinamis, dan kosmopolitan.

Selama bertahun-tahun, banyak orang percaya bahwa masyarakat Sunda mengenal bahasa Jawa akibat dominasi politik Mataram Islam abad ke-17. Pandangan itu terus diulang dalam buku sejarah populer dan percakapan sehari-hari. Akibatnya, hubungan Sunda dan Jawa sering dibaca melalui kacamata penaklukan politik semata. Padahal, penelitian filologi modern menunjukkan kenyataan berbeda. Jauh sebelum Mataram datang ke Tatar Sunda, masyarakat Sunda telah akrab dengan budaya Kawi melalui jalur intelektual dan kebudayaan.

Bahasa Kawi dan Ruang Intelektual Sunda

Jejak hubungan itu tampak jelas dalam berbagai manuskrip Sunda abad ke-14 hingga abad ke-16. Naskah-naskah kuno memperlihatkan penggunaan bahasa Sunda Kuno berdampingan dengan istilah Kawi dan Sanskerta. Kadang kedua bahasa muncul bergantian dalam satu paragraf. Kadang bercampur melalui alih kode yang sangat cair. Fenomena ini menunjukkan bahwa masyarakat Sunda memiliki kemampuan bilingual yang cukup matang pada masa itu.

Filolog Aditia Gunawan dalam buku Sunda dalam Naskah tahun 2020 menjelaskan bahwa tradisi tulis Sunda memiliki hubungan erat dengan budaya Kawi Jawa dan Bali. Menurutnya, para penulis Sunda abad pertengahan tidak hidup dalam isolasi budaya. Mereka terhubung dengan arus pengetahuan regional melalui bahasa Kawi. Bahasa itu dipakai dalam teks keagamaan, sastra, hingga kosmologi. Karena itu, Kawi memiliki posisi intelektual yang tinggi.

Pada masa itu, bahasa Kawi dapat dibandingkan dengan bahasa Latin di Eropa abad pertengahan. Bahasa tersebut bukan bahasa ibu masyarakat sehari-hari. Tetapi, ia menjadi medium ilmu pengetahuan dan legitimasi intelektual. Orang yang ingin masuk ke dunia keilmuan harus memahami bahasa tersebut. Situasi serupa terjadi di Tatar Sunda. Para cendekiawan Sunda memanfaatkan Kawi untuk mengakses pengetahuan supralokal tanpa kehilangan identitas kebahasaan mereka sendiri.

Hal itu menunjukkan bahwa masyarakat Sunda tidak sekadar menjadi penerima pasif pengaruh luar. Mereka aktif mengolah bahasa dan ajaran yang datang dari luar wilayahnya. Istilah-istilah Kawi diterjemahkan, disesuaikan, lalu dipadukan dengan struktur budaya lokal. Proses ini memperlihatkan kecerdasan budaya masyarakat Sunda abad pertengahan. Mereka mampu menyerap pengetahuan baru tanpa kehilangan akar identitasnya sendiri.

Konsep “language order” atau tatanan bahasa membantu menjelaskan situasi tersebut. Dalam teori ini, bahasa tersusun secara hierarkis sesuai fungsi sosial dan simboliknya. Ada bahasa yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Ada pula bahasa yang dipakai untuk urusan agama, sastra, dan ilmu pengetahuan. Dalam masyarakat Sunda abad ke-15, bahasa Sunda Kuno menjadi identitas lokal, sementara Kawi menjadi bahasa prestise intelektual.

Pribumisasi Ajaran dan Kedwibahasaan

Salah satu contoh penting terlihat dalam naskah Sanghyang Siksa Kandang Karesian abad ke-16. Teks ini menggunakan bahasa Sunda Kuno sebagai bahasa utama. Tetapi, di dalamnya terdapat banyak istilah Kawi dan Sanskerta. Penggunaan istilah itu bukan sekadar gaya bahasa. Ia menunjukkan adanya proses penerjemahan pengetahuan dari dunia luar ke dalam konteks budaya Sunda.

Di sinilah proses pribumisasi ajaran berlangsung secara menarik. Orang Sunda tidak menelan mentah seluruh konsep yang datang dari luar. Mereka memilih unsur yang dianggap relevan, lalu menafsirkannya sesuai kebutuhan lokal. Dalam proses itu, bahasa menjadi alat penyaring budaya. Bahasa Sunda mempertahankan kedekatan dengan masyarakat, sementara Kawi menghadirkan legitimasi intelektual dan spiritual.

Antropolog Clifford Geertz dalam The Interpretation of Cultures tahun 1973 menjelaskan bahwa kebudayaan Nusantara tumbuh melalui kemampuan menyerap pengaruh luar tanpa kehilangan inti lokalnya. Pandangan Geertz sangat relevan membaca budaya Sunda abad ke-15. Budaya Kawi diterima bukan karena tekanan politik, melainkan karena menawarkan akses terhadap pengetahuan dan status intelektual. Namun, masyarakat Sunda tetap mempertahankan struktur budaya mereka sendiri.

Penelitian linguistik juga menunjukkan bahwa alih kode dalam naskah Sunda Kuno bukan gejala acak. Istilah Kawi biasanya dipakai untuk konsep agama, filsafat, etika, dan kosmologi. Sementara bahasa Sunda digunakan dalam penjelasan praktis dan narasi lokal. Pola ini memperlihatkan adanya kesadaran fungsi bahasa yang sangat maju. Para penulis Sunda memahami kapan harus memakai bahasa prestise dan kapan harus mendekatkan diri kepada pembaca lokal.

Fenomena itu sekaligus membantah anggapan bahwa hubungan Sunda dan Jawa selalu dibangun melalui konflik politik. Dalam kenyataannya, pertukaran budaya sering berlangsung lebih cair dan produktif. Bahasa menjadi jembatan pertemuan, bukan alat penyeragaman. Justru melalui interaksi dengan budaya Kawi, identitas Sunda berkembang menjadi lebih kaya dan terbuka.

Filolog Thomas Hunter dalam artikel “The Culture of Indonesian Texts” tahun 2017 menjelaskan bahwa budaya Kawi membentuk jaringan intelektual Nusantara lintas wilayah. Melalui bahasa itu, gagasan sastra dan keagamaan bergerak dari Jawa ke Bali, Sunda, hingga Asia Tenggara. Sunda bukan wilayah pinggiran dalam arus kebudayaan tersebut. Tatar Sunda justru menjadi bagian aktif dalam lalu lintas intelektual Nusantara pra-modern.

Pelajaran untuk Indonesia Saat Ini

Sayangnya, warisan kedwibahasaan itu perlahan memudar dalam kesadaran masyarakat modern. Bahasa sekarang sering dipersempit menjadi simbol identitas politik semata. Akibatnya, sejarah interaksi budaya Nusantara tampak hitam putih. Banyak orang membayangkan identitas budaya harus murni dan tertutup. Padahal, sejarah menunjukkan sebaliknya.

Masyarakat Sunda abad ke-15 justru memperlihatkan sikap budaya yang lentur dan terbuka. Mereka mampu hidup dengan banyak bahasa tanpa merasa kehilangan jati diri. Mereka memahami bahwa menyerap pengaruh luar tidak otomatis menghapus identitas lokal. Sikap seperti ini terasa semakin penting di tengah polarisasi budaya dan pertengkaran identitas di media sosial hari ini.

Media digital sering memelihara ketakutan terhadap “budaya asing”. Banyak orang mudah curiga terhadap percampuran bahasa dan tradisi. Padahal, sejarah Nusantara dibangun melalui proses pertemuan yang terus-menerus. Bahasa Melayu menyerap Sanskerta, Arab, Portugis, Belanda, hingga Inggris. Bahasa Sunda dan Jawa juga berkembang melalui interaksi panjang antarkebudayaan.

Budaya Kawi di Tatar Sunda memberi pelajaran penting tentang cara menghadapi perubahan zaman. Keterbukaan budaya tidak selalu berarti kehilangan identitas. Justru identitas sering tumbuh melalui kemampuan berdialog dengan dunia luar. Masyarakat Sunda abad pertengahan menunjukkan bahwa lokalitas dan kosmopolitanisme dapat berjalan bersamaan.

Pandangan ini penting untuk mengoreksi cara berpikir masyarakat modern yang terlalu kaku melihat identitas budaya. Tidak ada kebudayaan yang benar-benar murni dan beku. Semua budaya tumbuh melalui proses penyesuaian, penyerapan, dan perjumpaan panjang. Ketika budaya berhenti berdialog, saat itulah ia mulai kehilangan daya hidupnya.

Karena itu, budaya Kawi di Tatar Sunda bukan sekadar catatan linguistik kuno. Ia adalah bukti bahwa Nusantara sejak lama memiliki tradisi intelektual terbuka. Tradisi itu memperlihatkan kemampuan masyarakat lokal mengolah pengetahuan asing menjadi bagian dari dirinya sendiri. Kemampuan tersebut tampaknya mulai jarang dirawat dalam kehidupan modern yang semakin penuh prasangka budaya. - (rd/pp)