Home Opini Bersama Malaikat dalam Setiap Tindakan Medis

Bersama Malaikat dalam Setiap Tindakan Medis

81
0
SHARE
Bersama Malaikat dalam Setiap Tindakan Medis

Sebuah refleksi mendalam mengenai hakikat seorang dokter dari sudut pandang spiritual dan kemanuisaan, antara keterbatasan sebagai manusia biasa dan Amanah Ilahi.

Oleh : Elfahmi A. Noor Azis
Ketua Bagana Gerakan Rakyat

MENJADI - Dokter bukan hanya soal mendiagnosis penyakit atau memberikan terapi, ini tentang hadir dengan empati, mendengarkan dengan hati, dan menyentuh jiwa yang sedang rapuh. Disamping itu juga tentang amanah besar yang diembanya, ketulusan setiap tindakan, menjadi cahaya di saat keluarga pasien diliputi cemas, memberikan harapan ketika tak ada lagi kepastian.

Seringkali, dalam lorong-lorong rumah sakit yang dingin atau di balik meja konsultasi, sosok seorang dokter dipandang sebagai penentu hidup dan mati. Padahal, jika kita menyingkap jas putihnya tersebut, kita akan menemukan manusia biasa, sosok yang juga bisa merasakan lelah, cemas, dan memiliki keterbatasan yang nyata.

Profesi dokter bukan hanya dipelajari,  ia ditempa oleh lelah, dihidupi oleh tulus dan diuji oleh nyawa manusia. Di balik jas putih yang dikenakanya, ada perjalanan panjang yang dipenuhi ujian, doa yang tidak terhitung, perjuangan yang sering kali sunyi dan air mata yang jarang terlihat.

Sumpah seorang dokter, bukan sekedar rangkaian kata-kata indah, tetapi lebih sebagai janji suci, komitmen yang harus dijunjung tinggi seumur hidup untuk menjaga kehidupan dan martabat manusia. Dan perlu diingat, bahwa setiap keputusan dari seorang dokter, ada nyawa yang percaya dan menanti keajaiban dan harapan yang dititipkan lewat tanganya.

Segala teori medis, kemahiran membedah, hingga ketepatan diagnosis yang dimiliki seorang dokter bukanlah semata-mata hasil kecerdasan pribadi. Dalam prespektif iman, ilmu tersebut adalah amanah yang dititipkan oleh Alloh SWT, sekali lagi bahwa ilmu sebagai amanah, bukan kepemilikan.

Seorang dokter hanyalah perantara (wasilah), hakekat penyembuhan tetap berada di tangan Sang Pencipta. Dirinya akan terus belajar, karena luasnya ilmu Alloh SWT, tidak akan pernah sanggup untuk diarungi hanya dengan gelar pendidikan. Karena ilmu itu titipan, maka setiap tindakan medis, harus dibarengi dengan niat ibadah dan rasa tanggung jawab yang besar kepada Pemilik Ilmu, yaitu Tuhan Yang Maha Perkasa. Padangan ini sebagai bentuk tanggung jawab moral dari seorang dokter kepada Sang Khalik.

Sebagai manusia biasa seorang dokter juga tidak luput dari rasa haru saat melihat kesembuhan, namun ia juga bisa merasa terpukul saat usahanya tidak membuahkan hasil. Kondisi ini tentu manusiawi, sebagai bentuk rasa kemanusiaan di balik profesionalismenya. Seorang dokter menyadari bahwa tanganya hanyalah alat, ia bekerja dengan ilmu yang dipelajari, namun ia bersimpuh dengan do’a agar ilmu tersebut menjadi jalan keselamatan bagi pasienya.

Kerendahan hati dalam praktek, menyadari bahwa dirinya adalah manusia biasa yang diberi amanah, akan melahirkan sifat tawadu (rendah hati). Seorang dokter tidak akan sombong atas keberhasilan operasi yang rumit. Seorang dokter akan memperlakukan pasiennya dengan empati, karena ia tahu bahwa dirinya dan pasien sama sama sebagai hamba Tuhan yang lemah. 

Seorang dokter, adalah seorang hamba yang dipilih untuk memikul beban berat namun mulia. Ia berdiri di garis depan kemanusiaan, berikhtiar dengan bekal ilmu yang dititipkan langit, sembari tetap menyadari bahwa pada akhirnya, ia tetaplah manusia yang butuh pertolongan Alloh SWT dalam setiap keputusan yang diambilnya. Menjadi dokter, bukan tentang menjadi ‘tuhan’ bagi kesehatan orang lain, melainkan menjadi tangan yang penuh kasih untuk menyalurkan rahmat dan kesembuhan dari-Nya.

Profesi seorang dokter begitu mulia, sebagaimana telah diungkapkan diatas, bawah seorang dokter memang manusia biasa, namun mengemban amanah besar berupa ilmu pengetahuan yang dititipkan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa,  untuk menjaga kehidupan dan kesehatan manusia.

Sebagai pengemban amanah ilmu seorang dokter, paling tidak memiliki beberapa hal yang harus menjadi pegangan dalam menjalani profesi kesehariannya, yaitu : 

Amanah Ilmiah dan Niat, Seorang dokter harus menyadari bahwa keahlianya sebagai dokter adalah nikmat dan amanah yang tidak dimiliki semua orang, sehingga ilmu tersebut harus digunakan untuk berbuat kebaikan kepada sesama.

Perantara Kesembuhan, Seorang dokter hanyalah perantara, kesembuhan mutlak datang dari Alloh SWT. Oleh karena itu, dokter dituntut untuk berikhtiar semaksimal mungkin, lalu bertawakal, berserah diri kepada Yang Maha Kuasa.

Ladang Amal, Profesi dokter dapat menjadi ladang amal yang besar jika diniatkan dengan ikhlas, untuk membantu sesama manusia

Pentingnya Suport Spiritual,  Seorang dokter, hendaknya tidak sekedar mengobati fisik, tetapi juga bisa memberikan penguatan iman (support spiritual) kepada pasien agar selalu sabar dan berserah diri, meskipun dalam keadaan sakit.

Seoran dokter yang visioner akan memadukan antara kompetensi professional dan adab, serta selalu amanah (jujur dan dapat dipercaya) dalam memberikan pengobatan. 

Sehingga dibalik semua itu, ada hal yang lebih besar dari sekedar gelar seorang dokter, yaitu amanah untuk menjaga kehidupan dan kesehatan manusia yang dititipkan oleh Alloh SWT. (*)