Home Opini Agresi AS-Israel ke Iran: Imperialisme Energi yang Telanjang,

Agresi AS-Israel ke Iran: Imperialisme Energi yang Telanjang,

Ancaman bagi Kedaulatan Global dan Indonesia

589
0
SHARE
Agresi AS-Israel ke Iran: Imperialisme Energi yang Telanjang,

Oleh: Malika Dwi Ana 
Penulis, Editor & Pengamat Sosial Politik

BAYANGKAN - Skenario ini: Amerika Serikat (AS), di bawah komando Presiden Donald Trump yang haus kekuasaan, melancarkan serangan brutal bersama Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026, dengan dalih mencegah program nuklir. Tapi jangan tertipu narasi heroik ini—ini bukan tentang keamanan dunia, melainkan perebutan kendali atas arteri energi global: Selat Hormuz, yang mirip Selat Malaka sebagai jalur vital 20-30% pasokan minyak dan LNG dunia. Iran, dengan kendali atas selat ini, menjadi penghalang terakhir bagi hegemoni AS atas sumber daya alam. Serangan ini adalah langkah licik untuk menguasai rantai pasok global, memastikan AS bisa "duduk manis" saat pasokan langka, sementara negara seperti Indonesia terus dijajah secara ekonomi melalui kontrak raksasa seperti ExxonMobil hingga 2051 dan Freeport-McMoRan hingga 2061. Jadi ini bukan perang melawan teror; tapi ini perampokan imperialis yang akan memicu resesi dunia dan memperlemah kedaulatan bangsa-bangsa Selatan Global.

Motif Sejati: Bukan Nuklir, Tapi Minyak dan Dominasi Ekonomi

Trump mengklaim serangan "Epic Fury" ini untuk menghentikan "ancaman eksistensial" dari Iran, tapi fakta berbicara lain: Ini tentang mengamankan Selat Hormuz, chokepoint yang mengalirkan 20 juta barel minyak per hari—nilai perdagangan US$500 miliar setahun—dari Qatar, UEA, Kuwait, dan Irak. Iran sudah menutup selat ini sebagai balasan, memaksa perusahaan seperti Exxon dan trader global menangguhkan pengiriman, yang langsung melonjakkan harga minyak Brent hingga 2-3%. Mengapa AS begitu ngotot? Karena dengan menguasai Hormuz, AS bisa mengendalikan alur energi dunia, mirip bagaimana mereka mendominasi Selat Malaka melalui aliansi militer. Ini bukan pencegahan nuklir—AS punya ribuan hulu ledak, Israel tak teken NPT—tapi strategi untuk monopoli pasokan saat terjadi kelangkaan sumber daya. Bayangkan: Saat minyak global habis, AS tinggal "kipas-kipas" untung dari harga jual yang tinggi, sementara negara importir seperti China dan India menderita inflasi gila-gilaan. Hipokrisinya sangat mencolok dan terang benderang: bahwa AS menuduh Iran sebagai agresor, tapi merekalah sebenarnya yang membangun armada raksasa di Teluk Persia sejak 2003, dan siap merebut kontrol. Ini adalah pola lama imperialisme: dahulu menginvasi Irak demi minyak, sekarangpun sama, menginvasi Iran demi Hormuz!

Indonesia sebagai Korban Kolateral: Dari Exxon hingga Freeport, Pola Penjajahan Berlanjut

Lihat saja Indonesia: Negara kita, dengan kekayaan mineral dunia, sudah menjadi mangsa korporasi AS. ExxonMobil menguasai blok Cepu hingga 2051, menyedot minyak kita dengan kontrak yang menguntungkan mereka, sementara Freeport-McMoRan menggali emas dan tembaga di Grasberg Papua hingga 2061—kontrak yang diperpanjang di bawah tekanan geopolitik. Ini bukan kemitraan; ini penjajahan modern! Serangan ke Iran adalah ekstensi dari strategi ini: Dengan menguasai Hormuz, AS berharap bisa mengendalikan harga global, memaksa negara seperti Indonesia bergantung lebih dalam pada kontrak asing untuk bertahan. Bayangkan dampaknya: Harga minyak naik hingga US$100-150 per barel jika Hormuz tertutup, memicu inflasi di RI, subsidi BBM membengkak ratusan triliun, dan rupiah ambruk. Pemerintah Prabowo, dengan kebijakan "multi-alignment", malah tawarkan mediasi—sikap lemah yang bisa diartikan tunduk pada AS, padahal sebagai anggota BRICS bersama Iran, kita seharusnya tegas mengecam agresi ini. Jangan biarkan Selat Malaka jadi target berikutnya; ini saatnya Indonesia bangkit, tolak kontrak predatory, dan alihkan ke energi terbarukan untuk lepas dari jerat imperialis!

Dampak Global: Resesi, Ketidakadilan, dan Ancaman Perang Dunia

Konsekuensinya mengerikan: Penutupan Hormuz bisa memicu resesi global, dengan harga minyak melonjak dua kali lipat, gangguan rantai pasok LNG, dan volatilitas pasar saham. Negara miskin akan paling menderita, sementara AS, sebagai eksportir minyak neto, justru untung dari kenaikan harga—bukti nyata ketidakadilan sistem kapitalis global. Ini mempercepat perpecahan dunia: China dan Rusia melihatnya sebagai serangan anti-multipolar, sementara negara Teluk seperti Saudi Arabia panik tapi tetap jadi pion AS. Risikonya? Eskalasi ke perang dunia ketiga, dengan proksi Iran seperti IRGC mengerahkan rudal dan drone, mengulang trauma Irak dan Afghanistan. AS bukan penyelamat; mereka predator yang memprovokasi konflik untuk dominasi ekonomi, mengabaikan Piagam PBB dan hak kedaulatan.

Bangkit Lawan Imperialisme—Indonesia dan Dunia Tak Boleh Diam!

Agresi AS-Israel ke Iran adalah puncak kebrutalan imperialisme energi: Merebut Hormuz untuk menguasai masa depan langka sumber daya, sambil mempertahankan cengkeraman di tempat seperti Indonesia melalui Exxon dan Freeport. Ini bukan pertahanan; ini perampasan yang akan membawa dunia ke jurang kehancuran. Dunia harus bersatu: Desak PBB memberikan sanksi terhadap AS, boikot korporasi perampok, dan dukung transisi energi adil. Bagi Indonesia, Presiden Prabowo harus tegas kecam, renegosiasi kontrak asing, dan perkuat aliansi BRICS. Jika tidak, kita semua akan jadi budak hegemoni AS—bangkit sekarang, atau biarkan sejarah mencatat kita sebagai korban yang pasif.(*)