Home Opini Varian Omicron dan Krisis Kepemimpinan Global

Varian Omicron dan Krisis Kepemimpinan Global

579
0
SHARE
Varian Omicron dan Krisis Kepemimpinan Global

Oleh: Safina An-Najah Zuhairoh

PANDEMI - Tak kunjung mau pergi, dan terus mengancam negeri. Seakan tak bisa berhenti hingga menjelang tahun ketiga pandemi, justru muncul varian baru lagi. Omicron adalah virus varian baru yang mengandung 50 mutasi. Menular dengan cepat, kini sudah merebak di 13 negara. (CNBC, 28/11/21). Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) secara resmi memasukkan Omicron menjadi ‘variant of concern’ atau VOC (varian yang mengkhawatirkan) (CNBC, 6/12/21).

Untuk menghadapi kecepatan regenerasi virus ini mutlak membutuhkan peran negara untuk memutus rantai penyebaran. Kegagalan banyak negara dalam menghambat penularan wabah disebabkan denial dan lambat sedari awal, akhirnya dunia lumpuh karenanya. Salah satunya Indonesia. 

Antara Ekonomi dan Keselamatan Jiwa Rakyat 

Sebagaimana yang kita tahu, pemerintah belum terlihat fokus menyelesaikan masalah kesehatan, karena masih selalu terbayang –bayangi dengan penyelamatan ekonomi. Apabila sedari awal fokus menangani pandemi, maka amukan Covid-19 akan bisa terkendali dan pemulihan ekonomi akan cepat terealisasi. 

Kebijakan politik bervisi sekuler materialis tidak mampu mengatasi akar persoalannya. Ekonomi selalu menjadi perhatian utama serta menjadi misinya. Visi dan misi rendah ini diejawantahkan dengan keberadaannya sebagai pelaksana sistem kehidupan sekuler, termasuk konsep penanganan pandemi. Negara hadir sebagai regulator pelayan oligarki yang mengeruk keuntungan di atas penderitaan rakyat. Kasus bisnis PCR (Polymerase Chain Reaction) yang melibatkan elite penguasa hanyalah puncak fenomena gunung es.

Sudut pandang materialis yang kuat menyebabkan krisis multidimensi tercipta. Khas rezim kapitalis, berlarut-larutnya penanganan karena pertimbangan memenangkan sektor ekonomi  menyebabkan banyak masalah baru muncul. Setiap kebijakan yang bergulir tidak hanya steril dari panduan wahyu, tapi juga berdiri pada bukti-bukti saintifik yang lemah disebabkan kuatnya kepentingan terhadap materi.

Butuhkan Kepemimpinan Global yang Sahih 

Banyak negara berupaya menerapkan sebuah eradikasi (pembasmian dan pemberantasan) namun masih bersifat individual, yakni berpatok pada tingkat nasional atau masing-masing negara saja. Padahal wabah adalah problem dunia. Kegagalan membendung keganasan corona bukanlah bentuk kegagalan kepemimpinan nasional saja, tetapi juga pada level global. Jelas, melawan Covid-19 membutuhkan koordinasi seluruh dunia. Tak ayal lagi, eradikasi harus menjadi tujuan bersama. Maka dari itu, dibutuhkan kepemimpinan global baru yang kuat serta lurus.

WHO dengan otoritasnya ternyata tak mampu menghentikan arus penularan. Kutukan terhadap ‘negara kaya’ karena ketimpangan distribusi vaksin misalnya, sangat tidak menunjukan ketegasan. Sebetulnya ini bukanlah problem teknis semata, tetapi terkait erat pada aspek cara pandang tentang kehidupan, yakni kapitalisme sekuler.

Kepemimpinan kapitalisme semakin menunjukkan kerapuhannya. Krisis multidimensi tercipta sistemis hanya bisa diselesaikan dengan sistem dan kepemimpinan global yang sahih. Sudah saatnya Islam mengambil alih. Inilah misi dari risalah Islam, menebar rahmat ke seluruh alam. Hal itu bisa terealisasi hanya dengan kepemimpinan global, bukan regional.

“Kekuasaan dan agama adalah saudara kembar. Agama merupakan pondasi dan penguasa adalah penjaganya. Apa saja yang tidak memiliki pondasi akan hancur. Apa saja yang tidak memiliki penjaga akan hilang” (Al-Ghazali, Ihyâ’ ‘Ulûm ad-Dîn, 1/17). (*)