Oleh: Hana Sheila,
Anggota Komunitas Muslimah Menulis (KMM) Depok
Tren "velocity" atau efek mempercepat dan memperlambat bagian video ini mulai populer di media sosial, terutama TikTok, sejak awal Maret 2025. Tren ini semakin ramai dibicarakan, terutama selama bulan Ramadhan, dan mencapai puncaknya pada momen Lebaran. Penggunanya pun mulai anak-anak sampai orang dewasa, mereka membuat video dengan menggerakkan tubuhnya tanpa rasa malu. Tren ini terus berkembang sampai sekarang sehingga menjadi suatu keharusan ketika kumpul bersama temannya wajib membuat konten tersebut dan semacamnya.
Adapun dampak yang ditimbulkan dari tren velocity ini membuat remaja semakin kehilangan arah, mereka hanya FOMO atau takut tertinggal dengan tren yang ada, bahkan mereka juga tidak mengetahui tujuan mereka dalam membuat konten tersebut. Belum lagi tren tersebut membuat sebuah syndrom baru pada Gen Z terutama yang mengakibatkan rasa cemas, gelisah, merasa tidak sempurna dengan tubuh atau gaya hidup yang dia miliki jika tidak mengikuti tren yang ada.
Tren ini juga sangat berpengaruh terhadap pola pikir mereka yang cenderung sulit fokus sehingga sulit dalam belajar akademik. Mereka juga kehilangan waktu produktif karena bermain gadget sendirian. Oleh karena itu, tren velocity di tengah remaja akan merusak pola pikir dan pola sikap generasi yang jauh dari nilai-nilai Islam.
Tentu tren velocity muncul akibat sistem kapitalisme yang hari ini gagal mendidik para generasi muda, mereka terus terbawa arus yang salah, hanya fokus pada sosial media tanpa mementingkan kehidupan aslinya seperti pendidikan, adab dan akhlak kepada orang sekitar, dan lainnya. Mereka terus mengikuti tren tersebut dengan gerakan yang sangat seronok/tidak pantas ditampilkan di publik.
Itu terjadi akibat perang pemikiran yang dipropaganda Barat untuk generasi ini. Mereka masuk lewan fun (kesenangan) dan song (lagu) yang sangat digandrungi anak muda, dan tanpa sadar remaja hari ini sudah masuk bagian dari korban perang pemikiran tersebut.
Berbeda dengan sistem Islam, generasi muda adalah generasi penerus bangsa, perempuan adalah tiang peradaban, mereka akan dibina sejak belum baligh karakter adab dan akhlakul karimah. Masa mudanya akan disibukkan dengan belajar keilmuan Islam dan keilmuan yang sifatnya ilmiah, ditambah dengan keimanan yang tercipta di lingkungan sekitar akan menambah semangat generasi muda membuat perubahan yang hakiki, yang akan menggoreskan tinta peradaban yang agung seperti Muhamad Al Fatih.
Hal itu akan terwujud ketika adanya sistem Islam di tengah-tengah umat yang akan mewujudkan adanya generasi muda pembawa perubahan.[]






LEAVE A REPLY