Home Polkam Mens Rea Pandji, Perundungan Bukan Wujud Demokrasi Tapi Hasutan Kebencian Pemecah Persatuan

Mens Rea Pandji, Perundungan Bukan Wujud Demokrasi Tapi Hasutan Kebencian Pemecah Persatuan

187
0
SHARE
Mens Rea Pandji, Perundungan Bukan Wujud Demokrasi Tapi Hasutan Kebencian Pemecah Persatuan

Keterangan Gambar : Azma Nazria., Ketua Komunitas JABANIN (Jakarta Bukan Arena Main Angin)

JAKARTA II  Parahyangan Post - Publik masih diramaikan oleh kasus perundungan yang dilakukan melalui kemasan acara stand up comedy kepada pejabat publik, terutama kepada Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka oleh seorang komika, Pandji Pragiwaksono.

Ketika sedemikian sibuknya presiden dan wapres beserta seluruh jajarannya berupaya mempercepat pemulihan pasca bencana khususnya di Sumatera, ironi Pandji justru sibuk menjadikan figur mereka menjadi bahan olok-olok berbalut stand up comedy, khususnya presiden dan wakil presiden.

Perbuatan menuai badai, bukan hanya Pandji yang "dikuliti" oleh netizen, bahkan anak-anak Pandji pun tak luput menjadi sasaran balasan terkait "body shaming", seperti yang dilakukan ayahnya,  hingga ada yang melaporkan Pandji ke pihak berwajib.

Komunitas JABANIN (Jakarta Bukan Arena Main Angin) pun sangat menyayangkan perundungan yang dilakukan oleh Pandji melalui acara "Mens Rea" yang digelar di Gelora Bung Karno pada 27 Desember 2025 lalu tersebut.

"Sungguh memalukan untuk komika sekelas Pandji yang ternyata seperti masih mencari panggung dengan membully orang lain, apalagi jika ga tersebut berujung pada penghasilan," ujar Ketua JABANIN, Azma Nazria.

"Lucunya lagi, istri Pandji pun marah saat anak mereka jadi sasaran balasan netizen dengan alasan 'anak-anak tidak bersalah dan harus dilindungi' hingga berniat melapor ke pihak berwajib juga, padahal seharusnya efek dari perbuatan Pandji sudah dapat dipikirkan sebelumnya, mengingat yang dirundung adalah tokoh bahkan pejabat tinggi negara yang memiliki pendukung tak sedikit," lanjut Azma.

Perbandingan yang dilakukan oleh Pandji dengan mengatakan bahwa Ganjar itu "ganteng", Anies itu "manis", sedangkan Wapres Gibran disebut "ngantuk" (terkait wajahnya) dan Presiden Prabowo dipertanyakan julukan "Gemoy" nya padahal julukan tersebut lahir secara organik dan berawal dari media sosial, khususnya TikTok, saat warganet melihat tingkah lakunya yang menggemaskan dan spontan, seperti joget-joget saat kampanye Pilpres 2024, yang kemudian viral dan disukai anak muda, mengubah citranya dari keras menjadi lebih humoris.

"Perbuatan Pandji memang sungguh memalukan, mengingat dia sudah cukup terkenal, Pilpres pun sudah lebih dari satu tahun berlalu dan hampir semua orang sudah kembali sibuk dengan kegiatan pribadi masing-masing, tapi ternyata masih ada yang gagal move on, seperti tidak legowo menerima kekalahan jagoannya pada pilpres kemarin, bahkan menjadikan bahan olok-olok demi panggung dan pendapatan tentunya," papar Azma.

"Tak masalah juga jika perbuatan Pandji ini dilaporkan sebagai efek jera penghentian perundungan, mengingat sudah terlalu banyak kasus perundungan dalam bentuk apapun di masyarakat, bahkan berujung maut bunuh diri karena yang dirundung tak sanggup menahan beban psikologis," lanjutnya.

"Perundungan dalam kemasan apapun memang sebaiknya dihentikan dan tidak perlu dibenarkan dengan alasan demokrasi karena semakin nyata efeknya semakin melunturkan adab ketimuran Bangsa Indonesia karena tanpa sadar merupakan hasutan kebencian yang potensi memicu perpecahan persatuan anak bangsa dalam kelompok manapun" pungkas Azma. (rd/pp)