Home Seni Budaya Melati Senja Eksplorasi Puisi Menjadi Lagu Berbasis AI, Perkuat Kolaborasi Komunitas

Melati Senja Eksplorasi Puisi Menjadi Lagu Berbasis AI, Perkuat Kolaborasi Komunitas

198
0
SHARE
Melati Senja Eksplorasi Puisi Menjadi Lagu Berbasis AI, Perkuat Kolaborasi Komunitas

JAKARTA - https://www.parahyangan-post.com— Sebanyak 29 peserta mengikuti Event Cipta Aransemen Puisi Menjadi Lagu Berbasis Artificial Intelligence (AI) “Melati Senja”, yang berlangsung pada 3–4 Oktober 2026. Kegiatan ini mempertemukan sastra, musik, teknologi, dan jejaring komunitas dalam sebuah ruang kreatif yang berbeda.

Mengusung tema “Ketika Kata Menjadi Nada, Puisi Menemukan Suaranya”, Melati Senja tidak hanya menghadirkan kompetisi, tetapi juga menjadi ruang eksperimen bagi para peserta untuk menerjemahkan puisi ke dalam bentuk lagu dengan memanfaatkan teknologi AI.

Kegiatan tersebut merupakan kolaborasi Melati Senja (MS), Rumah Baca Ceria (RBC), dan Satupena Jawa Barat. Kolaborasi ini menjadi bagian dari upaya memperluas ruang interaksi antarkomunitas sekaligus membuka kemungkinan baru dalam pengembangan karya sastra dan musik di era digital.

Event yang dimotori Ratu Ayu Neni Saputra dengan Bob Martin sebagai penanggung jawab tersebut diawali dengan babak penyisihan pada 3 Oktober 2026. Para peserta membawakan dua puisi, yaitu “Aku Bisa Apa” karya Ratu Ayu Neni Saputra dan “Kemelut Cinta” karya Bob Martin.

Dari 29 peserta, 10 orang berhasil melaju ke babak final. Tantangan kemudian semakin berkembang. Para finalis diminta mengaransemen puisi “Tirta Amarta” karya penyair Rissa Churria menjadi sebuah karya lagu.

Satu puisi menghasilkan sepuluh interpretasi yang berbeda. Masing-masing peserta mencoba menemukan karakter musikal yang dianggap paling sesuai dengan suasana, pesan, dan kekuatan bahasa dalam puisi tersebut.

Teknologi Tidak Menggantikan Kreativitas

Untuk memberikan penilaian terhadap karya para finalis, panitia menghadirkan dua musisi berpengalaman, Itang dan Danny Ramdhani atau A.K.A. Bule.

Itang merupakan musisi asal Bandung yang telah mengenal dunia musik sejak usia belia dan telah menghasilkan sejumlah album bersama bandnya. Ia juga merupakan salah satu pembentuk KOMIK (Komunitas Musik Jatinangor).

Sementara Danny Ramdhani atau A.K.A. Bule telah berkiprah di dunia musik selama sekitar 25 tahun. Ia merupakan pembentuk band Papa Rock dan menjadi pengisi acara tetap di Ruang Nada TVRI.

Kedua juri tidak hanya melihat hasil akhir musik, tetapi juga bagaimana peserta menerjemahkan substansi puisi ke dalam karya musikal. Dengan demikian, teknologi AI ditempatkan sebagai alat eksplorasi, sementara keputusan artistik tetap berada pada kreator.

Setelah melalui proses penilaian dan diskusi, dewan juri menetapkan tiga pemenang. Mucus (Whendy Herdyansyah/Glass_W) meraih juara pertama, disusul Aries Girl (Mia/Mamoy Azka Raka) sebagai juara kedua dan Mimih W'dya (Jenny Widya) sebagai juara ketiga.

Dari Puisi ke Musik, dari Komunitas ke Kolaborasi

Kehadiran Melati Senja juga memperlihatkan semakin terbukanya ruang kolaborasi antarkomunitas. Selain MS, RBC, dan Satupena Jawa Barat, kegiatan ini mendapat dukungan dari KOMIK (Komunitas Musik Jatinangor), R PdL (Ruang Dengar Puisi dan Lagu), serta Seribu Nada (Margo).

Berbagai komunitas tersebut membawa latar dan pengalaman yang berbeda. Ada yang bergerak di bidang sastra, literasi, musik, maupun ruang kreatif digital. Pertemuan itu kemudian menciptakan ekosistem yang memungkinkan satu komunitas belajar dan berkembang bersama komunitas lainnya.

Rumah Baca Ceria, misalnya, selama ini bergerak dalam ruang literasi dan pengembangan budaya baca. Satupena Jawa Barat menjadi jejaring para penulis dan pegiat sastra, sedangkan Melati Senja membuka ruang eksplorasi yang mempertemukan musik, sastra, dan teknologi.

Kegiatan juga dimeriahkan penampilan Bala Manda sebagai bintang tamu. Penyanyi muda tersebut turut memperkenalkan karyanya, termasuk singel berjudul “Hidup Ini”.

Sementara itu, tim yang mendukung pelaksanaan kegiatan terdiri atas Senja dan Livia sebagai MC, Melati Eka, Bob Martin, serta Chris Zeana. Antusiasme penikmat musik dan sastra juga berlanjut melalui sesi live TikTok Senja setelah rangkaian kompetisi.

Melati Senja menunjukkan bahwa perkembangan teknologi dapat membuka cara baru dalam menikmati dan mengembangkan karya sastra. Puisi yang semula hadir sebagai teks dapat bergerak menjadi musik, sementara teknologi menjadi salah satu alat yang membantu proses eksplorasi kreatif.

Lebih jauh, kegiatan ini memperlihatkan bahwa penguatan ekosistem kreatif dapat tumbuh melalui kolaborasi. Ketika komunitas sastra, musik, literasi, dan teknologi bertemu dalam satu ruang, lahir kemungkinan baru untuk menciptakan karya sekaligus memperluas jejaring.

Melati Senja akhirnya bukan hanya tentang mengubah puisi menjadi lagu. Ia adalah tentang bagaimana kata, nada, teknologi, dan komunitas dapat bertemu untuk melahirkan bentuk kreativitas baru.
---------------------------- 
(Laporan Kontributor : Nurhayati /PP)