
Keterangan Gambar : Penulis dan pegiat literasi, Angsih, resmi meluncurkan buku terbarunya bertajuk Manifesto Luka: Melawan Kemustahilan Semesta pada Jumat (27/2/2026). Peluncuran buku ini menjadi momentum reflektif sekaligus inspiratif tentang keberanian menghadapi luka, keterbatasan, dan berbagai kemustahilan dalam hidup.
JAKARTA II Parahyangan Post - Penulis dan pegiat literasi, Angsih, resmi meluncurkan buku terbarunya bertajuk Manifesto Luka: Melawan Kemustahilan Semesta pada Jumat (27/2/2026). Peluncuran buku ini menjadi momentum reflektif sekaligus inspiratif tentang keberanian menghadapi luka, keterbatasan, dan berbagai kemustahilan dalam hidup.
Acara peluncuran berlangsung khidmat dan dihadiri kalangan akademisi, pegiat literasi, dan mahasiswa, Dalam sambutannya, Angsih menyampaikan bahwa buku tersebut lahir dari pergulatan batin, pengalaman personal, serta perenungan panjang tentang makna luka dalam kehidupan manusia.
“Luka bukan untuk disembunyikan, tetapi untuk dimaknai. Dari luka, kita belajar berdamai, bangkit, dan melawan kemustahilan yang sering kita ciptakan sendiri,” ujar Angsih.
Dalam sesi peluncuran, Angsih menjelaskan bahwa Manifesto Luka: Melawan Kemustahilan Semesta bukan sekadar buku motivasi, melainkan sebuah perjalanan batin yang jujur tentang luka, trauma, harapan, dan keberanian.
“Buku ini saya tulis bukan karena saya sudah selesai dengan luka, tetapi karena saya sedang belajar berdamai dengannya. Manifesto Luka adalah suara bagi mereka yang merasa tak didengar, yang merasa semestanya terlalu berat untuk dilawan,” ujar Angsih.
Ia menjelaskan, buku tersebut mengulas bagaimana luka sering kali dipersepsikan sebagai kelemahan, padahal justru bisa menjadi titik balik kekuatan. Melalui pendekatan reflektif dan perspektif psikologi keluarga, Angsih mengajak pembaca memahami bahwa kemustahilan sering lahir dari ketakutan dan batasan yang kita bangun sendiri.
“Banyak orang berhenti pada rasa sakitnya. Padahal, di balik luka selalu ada ruang pertumbuhan. Buku ini ingin mengatakan bahwa mustahil itu sering kali hanya ilusi yang diciptakan oleh rasa takut,” tegasnya.
Angsih menambahkan, tujuan utama penulisan buku ini adalah membuka ruang dialog tentang kesehatan mental, relasi keluarga, serta keberanian perempuan untuk bersuara. Ia ingin pembaca tidak hanya tergerak secara emosional, tetapi juga terdorong untuk melakukan perubahan nyata dalam hidupnya.
“Jika setelah membaca buku ini seseorang berani mengambil satu langkah kecil untuk bangkit, maka buku ini telah menemukan takdirnya,” katanya.
Tak berhenti di sini, Angsih memastikan bahwa Manifesto Luka adalah awal dari rangkaian karya yang sedang ia siapkan. Ia mengungkapkan tengah menulis buku lanjutan yang akan mengeksplorasi tema pemulihan, relasi, dan kepemimpinan batin dengan pendekatan yang lebih mendalam dan progresif.
“Ini bukan akhir. Ini pembuka jalan. Akan ada karya-karya berikutnya yang tak kalah berani dan relevan. Saya percaya, selama manusia masih memiliki luka dan harapan, selalu ada cerita yang perlu dituliskan,” pungkas Angsih penuh optimisme. - (rd/pp)






LEAVE A REPLY