Home Nusantara Jalan K. H. Abdul Gaffar Ismail Diresmikan Walikota Pekalongan

Jalan K. H. Abdul Gaffar Ismail Diresmikan Walikota Pekalongan

Keluarga Besar Penyair Taufiq Ismail Selenggarakan Tasyakuran

311
0
SHARE
Jalan K. H. Abdul Gaffar Ismail Diresmikan Walikota Pekalongan

Keterangan Gambar : Foto sampul buku Gaffar Ismail: Ulama, Tokoh Pergerakan, Pejuang Kemerdekaan yang ditulis oleh Putera sulungnya, yang juga seorang penyair terkenal, Taufiq Ismail. (foto Nazar)

Jalan K. H. Abdul Gaffar Ismail Diresmikan Walikota Pekalongan

Keluarga Besar Penyair Taufiq Ismail Selenggarakan  Tasyakuran

Pekalongan, parahyangan-post.com-Walikota Pekalongan, Afzan Djunaid meresmikan penggantian nama Jalan Bandung menjadi nama Jalan K. H. Abdul Gaffar Ismail. Keluarga Besar K. H. Abdul Gaffar Ismail tgl 16 Mei melakukan acara Tasyakuran untuk mengungkapkan ucapan terima kasih dan penghargaan kepada Walikota dan masyarakat Pekalongan atas peresmian jalan K. H. Abdul Gaffar Ismail tersebut.

Tokoh Pergerakan

Taufiq Ismail sebagai putra tertua dari K. H. Abdul Gaffar Ismail, didampingi oleh Ida Ismail  dan Rahmat Ismail menjelaskan perjalanan hidup K. H. Abdul Gaffar Ismail sejak menjadi tokoh pergerakan PERMI (Persatuan Muslimin Indonesia) pada zaman kolonial Belanda, yang mengkampanyekan tuntutan kemerdekaan Indonesia dengan berkeliling Sumatra Barat. Pemerintah kolonial Belanda mengusir  Abdul Gaffar Ismail keluar Minangkabau (passen stelsel). Sehingga Gaffar Ismail yg baru menikah dengan ibu Tinur memilih Pekalongan sebagai tempat pembuangan mereka. Menurut Nazar Nasution, suami dari Ida Ismail, Ayahnya Mohammad Yunan Nasution juga sempat kena passen stelsel di zaman kolonial Belanda, yaitu beliau dilarang untuk kembali ke kampung halamannya di Mandailing. Pada zaman Soekarno, Yunan Nasution sempat juga menjadi tahanan politik selama lebih empat tahun.

Sebagai Ulama

 Sejak 1934 hingga 1941, Gaffar Ismai sebagai Ulama di Pekalongan melaksanakan kegiatan pembinaan umat melalui rangkaian pengajian yg disebut Pengajian Malam Selasa (Pemasa) dihadiri oleh jemaah dari  Pekalongan, Tegal, Cirebon, Semarang yg jumlahnya sampai lebih 1000 orang. Beliau mengajarkan Tafsir Qur'an dan Tasawuf. Bu Tinur juga mengajar untuk ibu-ibu dan anak-anak gadis. Antara 1942-1953 Gaffar Ismail sekeluarga sempat pindah ke Solo, Yogya, Semarang, Bukittinggi dan Jakarta, aktif di dunia pers dan politik. Tahun 1953-1997 (44 tahun) Gaffar Ismail kembali melanjutkan pengajian Pemasa di Pekalongan atas desakan tokoh-tokoh Pekalongan maupun pengusaha batik (A. Djunaid) yang didukung pula oleh kelompok perantauan dari Andalas, yaitu orang-orang Minang dan Mandailing. Dengan demikian Gaffar Ismail mengabdi bagi umat dan masyarakat Pekalongan selama lebih 50 tahun.

Pejuang Kemerdekaan

Gaffar Ismail, terpanggil pula sebagai pejuang kemerdekaan dengan melaksanakan tugas Menteri Keuangan Syafruddin Prawiranegara memimpin penyelundupan hasil bumi (vanila, gula dan karet) dari pelabuhan Juwana ke Singapura dengan menggunakan kapal pinisi yg meskipun diblokade Belanda akhirnya berhasil membeli perlengkapan senjata yg bermanfaat bagi pejuang gerilya kala itu melawan pasukan Belanda yang memiliki perlengkapan senjata yg jauh lebih tangguh.

Kegigihan Gaffar Ismail sebagai tokoh pergerakan, pejuang kemerdekaan maupun pemuka agama ini telah memperoleh penghargaan dari walikota dan masyarakat Pekalongan berupa pemberian nama jalan K. H. Abdul Gaffar Ismail. Beliau meninggal tahun 1998 dalam usia 87 tahun.***(Nazar Nasution)