Home Seni Budaya SANFFEST 2026: Ketika Nilai Al-Quran Bergerak ke Layar Sinema

SANFFEST 2026: Ketika Nilai Al-Quran Bergerak ke Layar Sinema

49
0
SHARE
SANFFEST 2026: Ketika Nilai Al-Quran Bergerak ke Layar Sinema

Keterangan Gambar : Setelah menggelar Santri Film Festival (SANFFEST) pada 2025, festival tersebut kembali hadir pada 2026 dengan mengusung tema “The Verses in Motion”. (sumber foto : ist/pp)

JAKARTA - Parahyangan Post– Dunia pesantren kembali membuka ruang lebih luas bagi santri untuk memasuki ekosistem perfilman nasional. Setelah menggelar Santri Film Festival (SANFFEST) pada 2025, festival tersebut kembali hadir pada 2026 dengan mengusung tema “The Verses in Motion”.

Memasuki tahun kedua, SANFFEST 2026 mengajak santri tidak sekadar mengutip atau memvisualisasikan ayat Al-Qur’an, tetapi menggali nilai, konflik dan pesan yang terkandung di dalamnya untuk kemudian diterjemahkan ke dalam cerita yang dekat dengan kehidupan masyarakat hari ini.

Konsep tersebut menjadi pijakan utama dalam penyelenggaraan SANFFEST 2026 yang berlangsung September hingga Desember 2026. Program ini mengintegrasikan edukasi, produksi film, kurasi, kompetisi, pemutaran, pemberian penghargaan hingga pengembangan dan distribusi karya. Penyelenggara juga menerapkan format hybrid dengan melibatkan pesantren, santri, sineas, komunitas, media dan industri perfilman.

Hal itu mengemuka dalam konferensi pers SANFFEST 2026 yang digelar Yayasan Indonesia Mengasuh Berbudaya (YIMB) bersama Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia di Ulik Cafe, Jalan Ciledug Raya No. 10B, Petukangan Selatan, Pesanggrahan, Jakarta Selatan, Senin (21/9/2026).

Ketua YIMB Putra Gara mengatakan, konferensi pers tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan SANFFEST 2026 sekaligus membuka ruang lebih besar bagi santri untuk mengembangkan kreativitas melalui medium film.

Menurut Gara, SANFFEST tidak hanya diarahkan menjadi ajang perlombaan film, tetapi juga menjadi ruang pertemuan antara dunia pesantren dengan ekosistem perfilman dan kebudayaan Indonesia.

“Sekaligus mempertemukan dunia pesantren dengan ekosistem perfilman dan kebudayaan Indonesia. Membuka ruang dialog mengenai potensi kreativitas santri dalam perfilman, serta peran film sebagai medium ekspresi budaya generasi muda Indonesia,” ujar Gara.

Ia menambahkan, SANFFEST 2026 juga menghadirkan kolaborasi dengan sineas nasional maupun internasional. Kolaborasi itu diharapkan dapat memperluas wawasan dan pengalaman kreatif para santri, sehingga mereka tidak berhenti sebagai penonton, tetapi mulai mengambil posisi sebagai pencipta karya.

Dari Ayat Menjadi Cerita

Festival Director SANFFEST 2026 Gus Achmad Ubaidillah menilai perkembangan teknologi digital telah mengubah cara pesan disampaikan kepada masyarakat.

“Era dakwah sudah bertransformasi dengan instrumen online. Instrumen itulah yang ingin kita maksimalkan sebaik-baiknya,” ujarnya.

Menurut dia, perubahan medium komunikasi tersebut perlu dibaca sebagai peluang bagi pesantren. Dakwah tidak lagi hanya berlangsung di ruang pengajian, mimbar, madrasah atau masjid, tetapi juga bergerak ke ruang digital yang setiap hari diakses generasi muda.

Karena itu, film menjadi salah satu medium yang dapat menjembatani nilai-nilai pesantren dengan kehidupan generasi hari ini.

Konsep “The Verses in Motion” sendiri menempatkan Al-Qur’an sebagai sumber nilai yang kemudian diterjemahkan melalui perspektif dan pengalaman santri. Portal resmi SANFFEST menjelaskan, proses kreatifnya dimulai dengan memilih satu kisah dalam Al-Qur’an, memahami nilai dan konfliknya, kemudian mengadaptasikan esensinya ke dalam konteks kehidupan masa kini.

Adaptasi tersebut tidak harus memindahkan latar dan peristiwa dalam kisah Al-Qur’an secara langsung. Yang menjadi pijakan adalah nilai, konflik atau pelajaran yang dapat ditelusuri dari kisah tersebut.

Dengan pendekatan itu, SANFFEST hendak mempertemukan teks dan konteks: ayat dengan realitas, pesantren dengan masyarakat, serta tradisi dengan perkembangan teknologi.

Dari Ratusan Santri Menuju Ekosistem Perfilman

Pengalaman SANFFEST 2025 menjadi modal penting bagi penyelenggaraan tahun kedua.

Pada penyelenggaraan perdana, SANFFEST dirancang sebagai ruang bagi santri untuk belajar membuat film melalui rangkaian Ta'aruf Film, workshop, produksi, kurasi dan penjurian hingga malam penghargaan. Peserta kompetisi berasal dari kelompok audiovisual pesantren yang sekurang-kurangnya terdiri dari tiga santri.

Karya-karya santri pada 2025 juga memperlihatkan bahwa pesantren memiliki potensi kreatif yang cukup beragam. Kementerian Agama Jawa Timur, misalnya, mencatat santri Jawa Timur meraih sejumlah penghargaan dalam SANFFEST 2025, termasuk kategori Film Cerita Terbaik, Penyutradaraan, Skenario, Sinematografi, Penyuntingan Gambar, Pengarah Artistik, Penata Suara, Penata Busana dan Rias serta Pemeran.

SANFFEST 2025 juga mendapat perhatian pemerintah sebagai bagian dari pengembangan ekosistem kebudayaan dan perfilman. Saat peluncurannya pada September 2025, Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyebut festival tersebut sebagai wadah ekspresi budaya sekaligus upaya mendorong lahirnya sineas dari kalangan santri.

Hadiah Rp415 Juta

Pada penyelenggaraan 2026, SANFFEST menyediakan total hadiah Rp415 juta. Pendaftaran dibuka secara gratis dan kompetisi diperuntukkan bagi kelompok audiovisual pesantren dengan sedikitnya tiga santri dalam satu tim.

Film yang dikirimkan wajib mengacu pada tema “The Verses in Motion” dengan durasi maksimal 12 menit dan format MP4 Full HD 1080p. Peserta juga diwajibkan mengirimkan sinopsis, poster serta materi behind the scenes (BTS). Penggunaan footage atau shot yang dibuat menggunakan AI tidak diperkenankan.

Pengiriman karya telah dibuka sejak 10 September 2026, sedangkan batas akhir pengumpulan karya ditetapkan 1 November 2026. Tahap finalisasi kurasi dan penjurian berlangsung pada 2–10 November 2026, sebelum memasuki rangkaian screening dan awarding.

Lebih jauh, SANFFEST 2026 menempatkan karya film sebagai bagian dari perjalanan yang tidak berhenti pada kompetisi. Programnya mencakup submission, kurasi dan penjurian, screening, awarding, hingga pengembangan dan distribusi karya.

Dengan demikian, festival ini mencoba membangun mata rantai yang lebih panjang: santri menemukan cerita, belajar memproduksinya, mengenal bahasa sinema, bertemu sineas dan komunitas, menghasilkan film, kemudian membuka kemungkinan karya tersebut bertemu dengan penonton yang lebih luas.

Pada titik itu, “The Verses in Motion” bukan sekadar tema festival. Ia menjadi gagasan bahwa nilai-nilai yang lahir dari pesantren dapat bergerak keluar dari ruang belajar menuju layar, ruang publik dan percakapan kebudayaan.

Dari ayat menjadi gagasan. Dari gagasan menjadi cerita. Dari cerita menjadi gambar. Dan dari gambar, nilai-nilai itu bergerak menemui masyarakat. - (rd/pp)