Home Agama Maulid Nabi di Mabesad, Masyhuril Khamis: Kekuatan TNI Ada Bersama Rakyat

Maulid Nabi di Mabesad, Masyhuril Khamis: Kekuatan TNI Ada Bersama Rakyat

Semangat Maulid mengajak kita untuk melayani, mendengar, dan memajukan semua anak bangsa

61
0
SHARE
Maulid Nabi di Mabesad, Masyhuril Khamis: Kekuatan TNI Ada Bersama Rakyat

Keterangan Gambar : Ketua Umum Pengurus Besar Al Jam’iyatul Washliyah (PB Al Washliyah) DR. KH Masyhuril Khamis SH., MM (foto dok)

JAKARTA, parahyangan-post.com- Senjata dan kesiapan tempur bukan satu-satunya ukuran kekuatan Tentara Nasional Indonesia (TNI). Di balik kekuatan pertahanan negara, terdapat kekuatan lain yang tidak kalah penting, yakni ikatan batin antara prajurit dan rakyat.

Pesan itu disampaikan Ketua Umum Pengurus Besar Al Jam’iyatul Washliyah (PB Al Washliyah) DR. KH Masyhuril Khamis SH., MM saat menjadi penceramah dalam Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H/2026 M di Masjid At Taqwa Mabesad, Jalan Veteran No. 5, Gambir, Jakarta Pusat, 
Senin 21 September 2026.

Dalam acara yang diselenggarakan Bintal Rohani Islam Mabesad tersebut, Masyhuril mengajak jajaran TNI menjadikan keteladanan Rasulullah SAW sebagai pijakan moral dalam menjalankan tugas pengabdian kepada bangsa dan negara.

Pada Peringatan Maulid Nabi tahun ini, Masyhuril  mengangkat tema “Melalui Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H, Kita Mantapkan Tekad Bersama Rakyat, TNI Prima dan Kuat Siap Mewujudkan Indonesia Maju dan Berdaulat.”

Menurut Masyhuril, Maulid Nabi tidak cukup dimaknai sebagai kegiatan untuk mengenang kelahiran Rasulullah SAW. Peringatan tersebut harus menjadi momentum untuk memahami kembali nilai-nilai kepemimpinan, persaudaraan, keadilan, dan kasih sayang yang diwariskan Nabi Muhammad SAW.

“Kita merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW bukan sekadar peringatan kelahiran, melainkan kelahiran cahaya rahmat untuk seluruh alam,” kata Masyhuril.

Ia menjelaskan, Nabi Muhammad SAW hadir bukan sekadar membawa ajaran agama, tetapi juga membangun peradaban. Rasulullah menyatukan hati yang terpecah dan mengangkat derajat manusia dari kehinaan menuju kemuliaan dengan berlandaskan ketakwaan dan persaudaraan.

Karena itu, kata Masyhuril, kekuatan tidak semata-mata terletak pada senjata. Kekuatan juga lahir dari persatuan, kebenaran, kasih sayang, dan keberpihakan kepada kepentingan masyarakat.

“Nabi memimpin dengan penuh rasa sayang dan penuh kasih, berdiri bersama yang lemah, melindungi yang tertindas, dan membangun bangsa atas dasar keadilan,” ujarnya.

Bersama Rakyat

Masyhuril kemudian menarik nilai kepemimpinan Rasulullah SAW tersebut ke dalam konteks tugas TNI sebagai kekuatan pertahanan negara.

Ia menegaskan, TNI dan rakyat tidak dapat dipisahkan. Kekuatan TNI justru semakin kokoh ketika prajurit hadir dan tumbuh bersama masyarakat.

“Kita tidak berdiri sendiri. Kekuatan kita ada di tengah rakyat. Bersama rakyat kita berjuang, bersama rakyat kita membangun. Tidak ada pembangunan yang kokoh tanpa berpijak untuk kesejahteraan rakyat,” katanya.

Menurut Masyhuril, semangat Maulid Nabi mengajarkan agar pengabdian kepada bangsa diwujudkan melalui kesediaan melayani, mendengar dan memperjuangkan kepentingan seluruh anak bangsa tanpa membeda-bedakan.

Kedekatan TNI dengan rakyat, lanjut dia, bukan hanya slogan, melainkan harus tercermin dalam kehadiran prajurit ketika masyarakat menghadapi persoalan dan kesulitan.

“Semangat Maulid mengajak kita untuk melayani, mendengar, dan memajukan semua anak bangsa tanpa membeda-bedakan,” ujarnya.

Dicintai Rakyat

Masyhuril mengatakan TNI merupakan benteng negeri. Namun, kekuatan tersebut tidak hanya ditentukan oleh kesiapan tempur maupun kemampuan persenjataan.

“Kekuatan TNI bukan hanya pada kesiapan tempur, melainkan pada ikatan batin yang tak terpisahkan dengan rakyat,” katanya.

Ia menilai, TNI yang kuat adalah TNI yang memiliki kedekatan dengan rakyat, hadir ketika masyarakat mengalami kesulitan, menjaga kedaulatan, memelihara persatuan, dan mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dalam konteks itu, keteladanan Nabi Muhammad SAW dinilai relevan. Rasulullah, kata Masyhuril, memberikan contoh kepemimpinan yang menempatkan perlindungan terhadap masyarakat, penegakan keadilan, dan kepedulian kepada sesama sebagai bagian penting dari kepemimpinan.

“Sejalan dengan yang diteladankan Nabi SAW, selalu melindungi, menegakkan keadilan, dan menjadi pelindung seluruh warga negeri,” tuturnya.

Masyhuril juga mengingatkan bahwa kekuatan institusi perlu berjalan seiring dengan kekuatan moral. Profesionalisme dalam menjalankan tugas harus dibarengi dengan integritas dan kepedulian terhadap masyarakat

Bermartabat

Lebih jauh, Masyhuril mengajak seluruh elemen bangsa untuk memaknai Indonesia maju bukan semata dari pembangunan fisik, pertumbuhan ekonomi, maupun kekuatan pertahanan.

Menurut dia, kemajuan harus berjalan bersama dengan keadilan dan kesejahteraan masyarakat. Indonesia yang bermartabat adalah negara yang mampu memastikan keadilan, menjaga toleransi, memperluas kesejahteraan, serta memberikan penghargaan yang setara kepada setiap warga negara.

“Indonesia bermartabat bukan hanya di mata dunia, melainkan di dalam negeri sendiri: ketika keadilan tegak, kesejahteraan merata, toleransi terjaga, dan setiap warga merasa dihargai,” katanya.

Karena itu, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H diharapkan tidak berhenti sebagai seremoni keagamaan. Momentum tersebut dapat menjadi refleksi bersama mengenai pentingnya membangun bangsa dengan nilai persaudaraan, keadilan dan kepedulian.

“Di bawah naungan semangat Maulid Nabi SAW kita bangun negeri yang beradab, kuat, dan dicintai Allah SWT,” ujar Masyhuril.

Ia kemudian mengajak seluruh peserta menjadikan peringatan Maulid Nabi sebagai titik tolak untuk mempererat hubungan TNI dengan rakyat, memperkokoh persaudaraan, dan menjaga keutuhan bangsa.

“Semakin erat kita memeluk rakyat, semakin kokoh kita memperkuat persaudaraan, semakin teguh kita menjaga keutuhan negeri, dan semakin kuat TNI berdiri bersama rakyat, demi Indonesia yang makmur, adil, dan bermartabat,” kata Masyhuril.

Pesan tersebut sekaligus menempatkan Maulid Nabi sebagai momentum untuk menghidupkan kembali nilai kepemimpinan Rasulullah SAW dalam kehidupan kebangsaan: kekuatan yang dibangun bukan hanya melalui kemampuan mempertahankan negara, tetapi juga melalui kepercayaan, persatuan, keadilan, dan kedekatan dengan rakyat.***(pp/aboe)