Home Ekbis Kadin Indonesia: Perang Israel-AS vs Iran Sangat Mengganggu Perdagangan Indonesia ke Timur Tengah

Kadin Indonesia: Perang Israel-AS vs Iran Sangat Mengganggu Perdagangan Indonesia ke Timur Tengah

Mohamad Bawazeer minta Iran tidak lagi mengebom kota-kota Negara Teluk

518
0
SHARE
Kadin Indonesia: Perang Israel-AS vs Iran Sangat Mengganggu Perdagangan Indonesia ke Timur Tengah

Keterangan Gambar : Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Ir. Mohamad Bawazeer (foto aboe)

Jakarta, parahyangan-post.com. Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Ir. Mohamad Bawazeer mengatakan perang Amerika-Israel vs Iran membuat perdagangan  Indonesia ke Negara-negara Timur Tengah sangat terganggu.  Ribuan kapal, termasuk dari Indonesia,  kini tertahan di Pelabuhan Jabal  Ali, Dubai, Uni Emirat Arab, akibat penutupan Selat Hormuz.

”Itu di Jabal Ali, ribuan kapal barang dan kargo tertahan ibarat ikan yang mengapung,” ujar Bawazeer didampingi Ketua Komite Tetap Kadin Timur Tengah Rudy Radjab, di Jakarta, Jumat 3 April 2026.

Dikatakan Bawazeer, ada dua cara yang bisa dilakukan pengusaha dan Shipping Line  untuk ke luar dari keadaan itu yakni, pertama menunggu kesempatan masuk pelabuhan untuk bongkar muat,  dan yang kedua menurunkan barang ke kapal (vessel) kecil kemudian melanjutkan pengiriman melalui darat.

Kalau menunggu, lanjut Bawazeer, sampai kapan? Barang-barang bisa rusak, terutama produk bahan makanan, bumbu masak dan juga kopi. Sementara kondisi perang semakin tidak menentu.

”Tetapi ada juga pengusaha melakukan opsi yang kedua. Dengan resiko tanggungan  biaya  pengiriman yang mencapai tiga kali lipat. Tadi malam saya mendapat informasi dari teman  pengusaha yang  menurunkan barang ke kapal kecil di port Damman, kemudian melanjutkan pengiriman melalui darat. Kalau tidak melakukan ini barang akan rusak dan pabrik mereka di Arab Saudi akan berhenti beroperasi,” tambah Bawazeer.

Sebelumnya, Bawazeer merinci, semua Shipping Line dari Asia Pasifik transit di Jabar Ali atau masuk keluar lewat selat Hormus, selanjutnya ke final destination. Masing-masing biayanya sekitar 2000 US$ /konteiner 20 ft.  Sekarang biayanya hampir 6000 US$ untuk kontainer 20 ft.

Kontainer yang stuck di Jabal Ali dan tidak bisa ke luar lewat selat Hormus maka dipindah ke vessel yang lebih kecil di shipping Damman Port. Di sini  ada pembayaran tambahan sekitar 1750 US$. Setelah  custom clereance di Port Damman selesai, langsung delivery ke Jeddah atau order destination cyties lewat darat.  Dan ini juga ada tambahan biaya sekitar 800 US$.

Normalnya  shipment dari Indonesia ke Jeddah transit Jabal Ali memakan waktu  sekitar seminggu di Jabal Ali dan langsung ke Jeddah lewat selat Hormus dan Babel Mandep langsung ke Port Jedah. Sekarang waktunya berbulan-bulan.

”Yang lebih parah lagi, beberapa perkapalan/ shipping line tidak berani mengeluarkan nomor booking karena takut resiko adanya perang. Jadi wait and see. Di sisi lain, beberapa perkapalan melakukan perjalanan menghindari Babel Mandep  dan berputar melalui benua Afrika terus masuk melalui Teruzen Zeus sehingga delivery timenya bisa sampai 2 bulan. Padahal dalam keadaan normal hanya 15 sampai 20 hari sudah tiba di Port Jeddah,” terang Bawazeer.  

Selain itu ada juga pengusaha pelayaran (Shipping Line) yang menurunkan konteiner di Oman atau  di India. Mereka tak mau tahu, sehingga konteiner terlantar seperti sudah tak bertuan.

Harapan

Bawazeer dan dunia tentu berharap perang cepat selesai dan perdagangan ke negara-negara Timur Tengah lancar kembali. Ia menghimbau Iran jangan lagi menyerang kota-kota di negara-negara Teluk (UAE, Arab Saudi, Kuwait. Bahrain, Qatar). Lebih baik fokus menyerang Tel Aviv, ibu kota Israel, yang memulai serangan.

”Tetapi ini kan perang. Kita tidak tahu taktik dan strategi apa yang dimainkan. Iran tentu mempunyai alasan yang kuat menyerang kota-kota negara Teluk. Namun harapan kita adalah jalur perdagangan  ke negara-negara Arab bisa normal,” harapnya.

Perdagangan Indonesia ke negara-negara Arab, terutama ke Arab Saudi, di luar minyak dan gas,  cukup besar. Di Arab Saudi ada pabrik kopi Kapal Api dan Indomie. Bahan bakunya dari Indonesia. Jika jalur perdangan masih tidak menentu bisa-bisa pabriknya tutup beroperasi.

Selain itu juga kerjasama perdangan bidang  digital ekonomi, properti, maining, agro industri, tourisme, manufaktur, sampai sepak bola. ***