Home Seni Budaya Peluncuran Buku dan Diskusi Sastra di TIM Soroti Transformasi Kreatif Pengarang Indonesia

Peluncuran Buku dan Diskusi Sastra di TIM Soroti Transformasi Kreatif Pengarang Indonesia

178
0
SHARE
Peluncuran Buku dan Diskusi Sastra di TIM Soroti Transformasi Kreatif Pengarang Indonesia

Keterangan Gambar : Bertempat di Ruang Sastra PDS HB Jassin, kegiatan ini menghadirkan pembahasan buku Mengapa Saya Berubah: Dari Realisme Sosial ke Eksistensialisme Jawa karya Yon Bayu Wahyono, Selasa, 09/06/2026 (Sumber Foto : ist/pp)

JAKARTA Parahyangan Post — Semangat literasi dan apresiasi sastra kembali hadir di Taman Ismail Marzuki melalui kegiatan diskusi dan peluncuran buku yang diselenggarakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi DKI Jakarta bersama Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin dan Komunitas PojokTIM, Selasa (9/6/2026).

Bertempat di Ruang Sastra PDS HB Jassin, kegiatan ini menghadirkan pembahasan buku Mengapa Saya Berubah: Dari Realisme Sosial ke Eksistensialisme Jawa karya Yon Bayu Wahyono. Dalam kesempatan yang sama, dua buku kumpulan cerita pendek turut diperkenalkan kepada publik, yaitu Simfoni Kata yang Berkarat karya Nanang R. Supriyatin dan Kisah di Toko Boneka Warna-warni karya Endah Wijayanti.

Diskusi berlangsung interaktif dengan menghadirkan Yon Bayu Wahyono, Nanang R. Supriyatin, dan Remmy Novaris DM sebagai pembicara. Acara dipandu moderator Giyanto Subagio serta dimeriahkan pembacaan karya sastra oleh Marina Novianti, Rissa Churria, dan Dyah Kencono Puspito Dewi. Sri Rahayu hadir sebagai pembawa acara.

Dalam sesi diskusi, Nanang R. Supriyatin mengungkapkan bahwa cerita pendek memiliki kekuatan menghadirkan pengalaman hidup secara padat dan mendalam. Ia menyebut cerpen sebagai ruang untuk merawat ingatan, menghadirkan suasana, dan menyampaikan pergulatan batin manusia melalui peristiwa-peristiwa sederhana.

Kumpulan cerpen Simfoni Kata yang Berkarat menjadi penanda perjalanan kreatif yang panjang. Sebagian besar naskah dalam buku tersebut ditulis sejak tahun 1980-an menggunakan mesin ketik manual, lalu terus mengalami revisi hingga memasuki era digital.

“Perubahan alat menulis tidak mengubah inti dari proses kreatif, yaitu menjaga pengalaman dan kenangan tetap hidup melalui cerita,” tutur Nanang dalam pemaparannya.

Selain membahas proses kreatif, forum ini juga mengangkat perubahan pendekatan kepengarangan Yon Bayu Wahyono yang bergerak dari realisme sosial menuju eksistensialisme Jawa. Pergeseran tersebut memperlihatkan perkembangan cara pandang pengarang terhadap kehidupan sosial dan refleksi kemanusiaan.

Penyelenggara menilai kegiatan sastra seperti ini penting sebagai ruang dialog budaya sekaligus wadah mempertemukan penulis dengan pembaca. Kehadiran forum literasi diharapkan dapat memperluas apresiasi masyarakat terhadap karya sastra Indonesia dan menjaga keberlangsungan ekosistem kebudayaan.

Kegiatan berlangsung terbuka untuk umum dan dihadiri pegiat sastra, mahasiswa, komunitas literasi, serta masyarakat pecinta buku dari berbagai daerah. - (rd/pp)