Home Edukasi Banyak Orang Lebih Mementingkan Gelar daripada Keahlian

Banyak Orang Lebih Mementingkan Gelar daripada Keahlian

Tidak cuma gelar akademik tapi juga gelar lain

64
0
SHARE
Banyak Orang  Lebih Mementingkan Gelar daripada Keahlian

Keterangan Gambar : Suparto, S.Ag., M.Ed., Ph.D (foto aboe)

Bekasi, parahyangan-post.com- Banyak orang yang lebih mementingkan gelar daripada keahlian atau keterampilan. Ini terjadi bukan saja di dunia akademik tetapi hampir di semua ranah kehidupan. Mereka marah jika gelarnya tidak disebutkan dalam acara resmi, atau tidak dituliskan dalam undangan.

Hal tersebut disampaikan  Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus, Suparto, S.Ag., M.Ed., Ph.D. dalam Safari Dakwah yang berlangsung di  rumah kediaman Purek III Universitas Islam As Syafi’iyah, (UIA)  DR. Misbah Fikrianto, Komplek Graha Setia, Jati Cempaka, Pondok Gede, Sabtu 27 Juni 2026.

Safari Dakwah diselenggarakan oleh  Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) Pondok Gede, bertema“Pemuda Berkemajuan: Asik Gaulnya, Kuat Imannya”, dihadiri puluhan kader dari Bekasi dan masyarakat setempat.

”Orang berhaji misalnya, ia merasa tersinggung jika tidak dipanggil Pak Haji atau Bu Hajjah sepulang dari Tanah Suci. Padahal haji itu bukan gelar, tapi ibadah,” ujar Suparto.

Sementara di ranah kebudayaan menurut Suparto juga  demikian. Orang-orang senang dipanggil Raden, Tumenggung, Adipati dan lain sebagainya dalam upacara resmi atau tidak resmi. Termasuk dalam penulisan namanya di kartu undangan.

”Mereka merasa sangat  gagah ketika gelar itu dipasang di depan atau di belakang namanya. Dia akan tersinggung jika gelar tersebut tidak dibacakan oleh pembawa acara,” tambah Suparto lagi.

Padahal, lanjut Suparto, untuk mendapatkan gelar tersebut cukup mengikuti upacara dan membayar sekian juta rupiah kepada penyelenggara (EO). Jadi tidak penting apakah dia keturuna kraton atau tidak. Apakah dia  berdarah biru atau tidak.

Yang paling menyedihkan, lanjut Suparto,  terjadi di dunia akademik. Gelar akademik palsu diobral dengan harga murah sekali. Dan penyandang gelar palsu itu banyak.

”Baru-baru ini ada sebuah lembaga yang menyebut dirinya Universitas di Timur Tengah. Nama Universitasnya kreen, berbahasa Inggris pula. Dia menawarkan gelar Doktor Honoric Causa (DR. HC) cukup dengan membayar lima juta rupiah saja. Dan itu peminatnya cukup banyak,” heran Suparto.

Fenomena ini menurut Suparto merupakan sesuatu  anomali, ganjil dan aneh. Orang lebih mementingkan gelar ketimbang ilmunya.

Dalam bagian lain tausiahnya Suparto menekankan pentingnya adab, terutama bagi kaum muda. Adab itu pondasi sebelum ilmu. Ulama terdahulu mengatakan, belajar adab dulu, baru belajar ilmu.

”Betapa pun tingginya ilmu yang dimiliki tetapi tidak mempunyai adab, maka ilmu tidak akan berkah,” ungkap Suparto.

Suparto juga mengingatkan kaum muda jangan  Fomo (Fear of Missing Out) dalam pergaulan. Yakni merasa takut ketinggalan mode, merasa minder tidak mengikuti arus. Padahal belum tentu mode / tren itu  baik dan positif.***(pp/aboe)