Home Edukasi KNPK Indonesia Soroti Ketahanan Keluarga Hadapi Perubahan Demografi

KNPK Indonesia Soroti Ketahanan Keluarga Hadapi Perubahan Demografi

Prof. Euis Sunarti: Tempatkan keluarga sebagai fondasi pembangunan nasional

50
0
SHARE
KNPK Indonesia Soroti Ketahanan Keluarga Hadapi Perubahan Demografi

Jakarta, parahyangan-post.com- Koalisi Nasional Perlindungan Keluarga (KNPK) Indonesia menggelar Expert Meeting KNPK Indonesia 2026 dalam rangka memperingati Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33 dan Hari Anak Nasional (HAN) 2026. Forum yang berlangsung di Sasana Budaya Rumah Kita Dompet Dhuafa, Jakarta, Sabtu (27/6), mengangkat tema "Ketahanan Keluarga di Tengah Perubahan Demografi: Tantangan, Dampak, dan Strategi Kebijakan Menuju Indonesia Berkelanjutan."

Kegiatan ini mempertemukan akademisi, praktisi, pemerhati keluarga, serta pemangku kepentingan untuk membahas berbagai tantangan yang dihadapi keluarga Indonesia di tengah perubahan demografi global, seperti menurunnya angka kelahiran, meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia, tekanan ekonomi generasi produktif, perubahan nilai perkawinan, hingga munculnya fenomena childfree dan kesepian lansia.

Ketua Umum KNPK Indonesia, Prof. Dr. Ir. Euis Sunarti, M.Si., menegaskan bahwa keluarga harus kembali ditempatkan sebagai fondasi utama pembangunan nasional. Menurutnya, keluarga tidak hanya menjadi unit sosial terkecil, tetapi juga menjadi ruang pertama pendidikan nilai, perlindungan anak, pengasuhan, ketahanan ekonomi, kesehatan mental, dan solidaritas antargenerasi.

Dalam paparannya bertajuk "Keluarga di Tengah Megatrend Perubahan Demografi", Prof. Euis menjelaskan bahwa perubahan perilaku masyarakat perlu dipahami melalui pendekatan Theory of Planned Behavior (TPB). Ia menilai penguatan nilai dan struktur keluarga berbasis ekosistem menjadi strategi penting untuk menghadapi berbagai tantangan perubahan demografi.

Perspektif internasional turut mewarnai diskusi melalui paparan Dr. Sung Hee Hong dari Seoul National University, Korea Selatan. Ia mengulas fenomena childfree, perubahan nilai keluarga, serta rendahnya angka fertilitas yang kini menjadi tantangan besar bagi negaranya. Pengalaman Korea Selatan diharapkan menjadi pembelajaran bagi Indonesia dalam mengantisipasi perubahan serupa.

Sementara itu, Dr. Nik Norliati Fitri, Ph.D. dari Universiti Sains Malaysia membahas meningkatnya risiko kesepian pada kelompok lanjut usia akibat berkurangnya dukungan keluarga. Menurutnya, perhatian pemerintah tidak hanya perlu diberikan kepada lansia, tetapi juga kepada para pendamping lansia yang menghadapi keterbatasan ekonomi maupun sosial.

Dari sisi kebijakan nasional, Dr. Indra Murty Surbakti, M.A., mewakili Deputi Bidang Kebijakan Strategi Pembangunan Keluarga, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kemendukbangga/BKKBN, memaparkan strategi pemerintah dalam memperkuat pembangunan keluarga di tengah penurunan fertilitas dan meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia. Ia menekankan pentingnya kolaborasi berbagai pihak agar kebijakan pembangunan keluarga semakin adaptif terhadap perubahan zaman.

Forum tersebut juga menghadirkan sejumlah pembahas dari kalangan akademisi dan praktisi yang memberikan tanggapan terhadap setiap materi. Kegiatan dibuka oleh Deputi Direktur II Program Pendidikan Dompet Dhuafa, Cicih Kurniasih, M.Pd., yang menegaskan pentingnya kolaborasi masyarakat sipil dalam memperkuat perlindungan keluarga dan kesejahteraan anak.

Sebagai hasil pertemuan, KNPK Indonesia menyusun sejumlah rekomendasi kebijakan yang akan disampaikan kepada pemerintah, akademisi, media, serta berbagai pemangku kepentingan sebagai bahan penyusunan strategi menghadapi perubahan demografi secara komprehensif.

Pada kesempatan yang sama, KNPK Indonesia juga meluncurkan Jurnal Keluarga Indonesia, jurnal ilmiah nasional yang diterbitkan perdana pada Juni 2026 sebagai wadah pengembangan kajian dan penelitian mengenai isu-isu keluarga di Indonesia.

Melalui forum ini, KNPK Indonesia berharap penguatan ketahanan keluarga dapat menjadi agenda bersama dalam mewujudkan pembangunan Indonesia yang berkelanjutan di tengah tantangan perubahan demografi global.***(pp/aboe/anw)