Home Polkam Wawancara dengan Sekjen Al Washliyah: Program Tidak Muluk-muluk

Wawancara dengan Sekjen Al Washliyah: Program Tidak Muluk-muluk

Perkuat Pemahaman Kealwashliyahan

126
0
SHARE
Wawancara dengan Sekjen Al Washliyah: Program Tidak Muluk-muluk

Keterangan Gambar : Sekjen Al Jam’iyatul Washliyah, Prof.DR. H. Saifuddin Herlambang S.Ag., MA. (foto aboe)

Prof.DR. H. Saifuddin Herlambang S.Ag., MA, terpilih sebagai Sekjen pada Muktamar ke XXIII  Al Jam’iyatul Washliyah, 10 Juli 2026 lalu. Berikut adalah wawancara perdananya kepada media

JAKARTA, parahyangan-post.com- Sekretaris Jenderal (Sekjen) Pengurus Besar Al Jam’iyatul Washliyah,  Prof.DR. H. Saifuddin Herlambang S.Ag., MA, menegaskan penguatan pemahaman kealwashliyahan menjadi program prioritas jangka pendek kepengurusan Al Jam’iyatul Washliyah periode mendatang.

Hal itu disampaikannya dalam wawancara dengan media  di Kantor PB Al Jam’iyatul Washliyah, Jalan Ahmad Yani, Jakarta, Senin (31/8/2026).

Menurutnya, program kerja ke depan akan dibagi dalam dua bagian, yakni program jangka pendek yang, antara lain,  berorientasi ke dalam organisasi dan program jangka panjang yang lebih diarahkan ke luar.

“Salah satu program jangka pendek adalah bagaimana kita memperbaiki pemahaman kealwashliyahan terhadap kader, pengurus dan masyarakat luas.,” ujarnya.

Ia menilai, penguatan pemahaman tersebut penting karena belum tentu seluruh pengurus, kader, maupun anggota Al Washliyah benar-benar memahami sejarah, tujuan, serta semangat yang melatarbelakangi lahirnya organisasi keagaman Islam besar yang lahir di Medan, Sumatera Utara, tahun 1930 ini.

“Kalau orang tidak mengerti sejarah, tidak mengerti tujuan utama, spirit atau semangat yang mendasari kelahiran Al Jam’iyatul Washliyah, ibarat orang pergi ke suatu tempat, tapi tidak tahu tujuannya,” katanya.

Karena itu, pendidikan kealwashliyahan dinilai perlu diperkuat dan diberikan secara sistematis kepada seluruh kader dan pengurus.

Bukan Ruang Hampa

Sekjen menjelaskan, kader harus memahami bahwa Al Jam’iyatul Washliyah lahir dengan tujuan yang sangat mulia. Organisasi tidak lahir dalam ruang hampa, melainkan dalam konteks sosial dan keagamaan yang penuh dinamika.

Al Jam’iyatul Washliyah lahir di tengah suasana pergesekan tajam antara kelompok yang pada masa itu dikenal sebagai kaum muda dan kaum tua.

Pergesekan tersebut, utamanya berkaitan dengan persoalan pendidikan dan sistem pembelajaran. Kaum muda banyak dipengaruhi sistem pendidikan modern yang mengenal pembelajaran klasikal dan berjenjang.

Sementara itu, kaum tua  menganut sistem pendidikan tradisional yang telah berkembang sebelumnya menggunakan pola pengajian halaqah yang tidak mengenal sistem kelas dan jenjang sebagaimana pendidikan modern.

Kondisi tersebut, lanjutnya, kemudian melahirkan berbagai perdebatan di kalangan masyarakat dan ulama di Sumatera Timur, yang kini dikenal sebagai wilayah Medan (Sumut).

Sejumlah tokoh muda seperti  M. Arsyad Thalib Lubis, H. Abdullah Abbas, Ismail Banda Abdul Karim Hasmi yang berguru kepada Syekh Hasan Maksum, (Mufti Kesultanan Deli) aktif dalam perdebatan itu, kemudian membentuk   komunitas yang dikenal dengan istilah debating club. Forum tersebut menjadi ruang bagi kalangan muda untuk mendiskusikan berbagai persoalan, termasuk mengenai sistem pendidikan Islam.

“Di situ ada perdebatan tentang sistem pendidikan, apakah sudah bagus kita mengikuti sistem berjenjang, pakai kelas dan sebagainya, atau tetap dengan tradisi lama, ” jelasnya.

Dari forum itulah lahir Al Jam’iyatul Washliyah lahir, yang dimotori oleh kaum muda ini. Mereka  berhasil menjembatani (mengakomodasi) pemikiran kaum muda dan kaum tua sehingga pergesekan tajam yang terjadi tidak menjurus perpecahan.  

Bagi Sekjen, memahami latar belakang sejarah tersebut penting agar kader tidak hanya mengenal Al Washliyah secara organisatoris, tetapi juga memahami identitas dan misi yang melekat pada nama organisasi.

Bukan Sekadar Nama

Sekjen  menjelaskan, nama Al Jam’iyatul Washliyah memiliki makna yang kuat dan sarat makna filosofi. Al-Jam’iyyah berkaitan dengan aktivitas menghimpun, menyatukan dan membaurkan, sedangkan Al-Washliyah bermakna menghubungkan atau mengintegrasikan.

“Al-Jam’iyyah itu menggabungkan, mempersatukan, membaurkan, meleburkan, kalau Al-Washliyah itu menghubungkan, mengintegrasikan,” katanya.

Dari makna tersebut, ia melihat Al Washliyah memiliki karakter sebagai organisasi yang berfungsi menjembatani berbagai kelompok yang berbeda.

“Al-Wasliyah itu adalah ormas penengah, ormas pemersatu, ormas perekat,” tegasnya.

Menurutnya, fungsi tersebut semakin relevan dengan kondisi bangsa Indonesia saat ini. Berbagai perbedaan, baik dalam persoalan teologi, ideologi maupun kehidupan sosial, berpotensi melahirkan perpecahan apabila tidak dikelola dengan baik.

Karena itu, ia mendorong kader Al Washliyah memiliki kepercayaan diri terhadap identitas organisasinya dan mampu menjalankan fungsi persatuan sebagaimana semangat kelahirannya.

“Bangsa Indonesia ini hari ini membutuhkan Al-Jam’iyatul Washliyah,” ujarnya.

Ia menambahkan, Al Washliyah harus mampu menjadi jembatan di tengah kelompok-kelompok yang berseberangan. Peran tersebut bukan berarti menghilangkan perbedaan, melainkan menjadikan perbedaan sebagai sesuatu yang dapat dikelola melalui dialog, kebersamaan dan semangat persatuan.

Dalam konteks itulah, penguatan pendidikan kealwashliyahan menjadi penting. Kader perlu memahami sejarah organisasi agar mampu menerjemahkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan masyarakat.

Sementara untuk program prioritas jangka panjang, Sekjen mengatakan hal tersebut masih akan dirumuskan.

Tetapi ia menekankan bahwa program prioritas itu tidak banyak, tidak  muluk-muluk. ”Karena kadang kalau kebanyakan, nggak ada juga gunanya,” tambahnya.

Menurutnya, program organisasi realistis, terukur dan memberikan manfaat nyata. Karena itu, program jangka pendek akan diarahkan terlebih dahulu untuk memperkuat fondasi internal melalui pemahaman kealwashliyahan.

Setelah fondasi internal tersebut semakin kuat, Al Washliyah diharapkan mampu menjalankan peran yang lebih luas di tengah masyarakat.

Ia menegaskan, pemahaman terhadap sejarah dan tujuan organisasi bukan sekadar pengetahuan masa lalu. Pemahaman itu harus menjadi dasar bagi kader dalam menjalankan amanah organisasi dan menghadirkan kembali semangat persatuan yang menjadi karakter Al Washliyah.

Dengan penguatan pemahaman tersebut, ia berharap seluruh kader dan pengurus memiliki arah perjuangan yang sama serta mampu menjadikan Al Jam’iyatul Washliyah sebagai organisasi yang konsisten menjalankan fungsi mempersatukan, menghubungkan dan menjadi perekat masyarakat Indonesia.***(pp/aboe)

Video Terkait: