Home Seni Budaya Purnama Dari Timur Vol. 4: Ketika Komunitas Menjadi Rumah Tumbuh Sastra

Purnama Dari Timur Vol. 4: Ketika Komunitas Menjadi Rumah Tumbuh Sastra

143
0
SHARE
Purnama Dari Timur Vol. 4: Ketika Komunitas Menjadi Rumah Tumbuh Sastra

Keterangan Gambar : Festival Komunitas Purnama Dari Timur Vol. 4 yang diselenggarakan Komunitas Sastra Jakarta Timur (KSJT) di Pusat Pelatihan dan Seni Budaya (PPSB) Jakarta Timur, Sabtu, 3 Oktober 2026. (sumber foto : ist/pp)

JAKARTA TIMUR,- Parahyangan Post — Sebuah ekosistem sastra tidak selalu dibangun dari gedung pertunjukan besar. Sering kali ia tumbuh dari ruang komunitas, dari pertemuan antarpelajar, penulis, seniman, dan orang-orang yang memiliki kegelisahan yang sama terhadap keberlangsungan kesenian.

Gagasan tersebut menemukan bentuknya dalam Festival Komunitas Purnama Dari Timur Vol. 4 yang diselenggarakan Komunitas Sastra Jakarta Timur (KSJT) di Pusat Pelatihan dan Seni Budaya (PPSB) Jakarta Timur, Sabtu, 3 Oktober 2026.

Festival yang telah memasuki penyelenggaraan keempat sejak pertama kali digelar pada 2022 itu diikuti 106 peserta. Sejumlah cabang lomba disiapkan, yakni baca puisi, cipta puisi, dan menulis cerpen. Kegiatan juga diperluas melalui pertunjukan angklung, reog, musik, serta bazar buku.

Ketua KSJT Ahmad Prabowo Dirgantara dalam sambutannya menempatkan kegiatan komunitas sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan kehidupan sastra di Jakarta Timur.

Bagi panitia, keberhasilan festival tidak semata-mata diukur dari jumlah peserta ataupun siapa yang menjadi juara.

Ben Satriaji, Ketua Panitia Festival Purnama Dari Timur Vol. 4, mengatakan bahwa pengalaman peserta selama mengikuti festival justru menjadi bagian penting dari proses pembentukan generasi sastra.

“Festival ini kami harapkan menjadi ruang bagi anak-anak muda untuk berani tampil, berani menulis, dan berani menyampaikan gagasan. Perlombaan hanyalah salah satu bagian. Pertemuan, proses belajar, dan masukan dari para juri juga menjadi pengalaman yang penting,” ujar Ben.

Ia berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai agenda tahunan.

Menurutnya, festival harus mampu meninggalkan jejak berupa keberlanjutan proses kreatif. Peserta diharapkan tetap membaca, menulis, berdiskusi, dan berkarya setelah festival berakhir.

Ruang pembelajaran juga hadir melalui sesi evaluasi. Imam Ma’arif memberikan perhatian terhadap pentingnya pemahaman terhadap isi puisi sebelum seorang pembaca menyampaikannya kepada penonton.

Sementara Kurnia Effendi menyoroti proses penciptaan puisi, khususnya karya yang mengambil latar sejarah. Pengalaman sejarah, menurut catatan yang disampaikannya kepada peserta, perlu diolah melalui perenungan sehingga tidak berhenti sebagai rangkaian peristiwa.

Adapun Saut Poltak Tambunan mendorong peserta untuk terus menulis dan menjadikan kegiatan kreatif sebagai kebiasaan.

Festival tahun ini juga mendapat ruang kolaborasi bersama Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Para pemenang dari tiga cabang utama diproyeksikan menjadi wakil wilayah dalam Festival Sastra Jakarta 2026 pada 4 November 2026 di Taman Ismail Marzuki.

Mewakili Komite Sastra DKJ, Esha Tegar Putra menyampaikan pentingnya festival yang konsisten sebagai ruang pembinaan sastra, terutama bagi pelajar.

Pada akhirnya, Purnama Dari Timur Vol. 4 tidak hanya meninggalkan daftar pemenang. Ia meninggalkan ruang perjumpaan, tempat seseorang mungkin pertama kali berani membaca puisi di hadapan publik, pertama kali mendapatkan kritik atas cerpennya, atau pertama kali menyadari bahwa menulis dapat menjadi perjalanan panjang.

Di sanalah komunitas menemukan maknanya: menjadi rumah bagi karya yang sedang tumbuh.
-------------------------------------
[] Kontributor : Rissa Churria/PP