Home Opini Odysseus, Perang, dan Pembelajaran Kemanusiaan

Odysseus, Perang, dan Pembelajaran Kemanusiaan

89
0
SHARE
Odysseus, Perang, dan Pembelajaran Kemanusiaan

Oleh: Boy Anugerah
Founder dan Peneliti Utama Senayan Geopolitical Forum (SGF)

Film The Odyssey (2026) karya sutradara Christopher Nolan resmi tayang di seluruh bioskop nasional sejak 15 Juli lalu dan menjadi tontotan yang tidak hanya menghibur, tapi juga sarat pesan moral. Jika epos Mahabharata diklaim sebagai sebagai kitab rujukan bagi para politisi dunia untuk memahami seluk-beluk dan beragam intrik dalam politik, maka kisah The Odyssey yang diangkat dari 24 buku karya Homeros merupakan rujukan utama dunia untuk memahami filosofi kemanusiaan dalam perang. The Odyssey tidak hanya bertutur bagaimana perang dikonsolidasikan, strategi disusun untuk dijalankan oleh para prajurit, atau bagaimana muslihat digunakan untuk mengelabui musuh. The Oddysey bercerita lebih jauh bagaimana dampak perang dapat menjadi penyesalan terdalam bagi para pelakunya. Kisah The Odyssey sangat relevan untuk disimak kembali di tengah kecamuk perang global yang tak kunjung pungkas hari ini.

Penyesalan Odysseus

Adalah Odysseus, raja Ithaca yang termasyhur, yang menjadi tokoh sentral dalam kisah ini. Ia dan ribuan prajuritnya berlayar mengarungi laut untuk menyerang kerajaan Troy (Trojan). Odysseus tak mengalami kesulitan berarti untuk menaklukkan Troy. Berkat muslihat dengan membangun patung kuda raksasa yang dapat dimasuki oleh seluruh pasukan Ithaca, mereka dengan mudah menyerbu kerajaan Troy pada malam hari yang tertipu karena menyeret patung kuda tersebut hingga halaman kerajaan. Malam itu, bukan saja menjadi malam yang mudah bagi mereka untuk menembus kerajaan dan melempangkan jalan Agamemnon dan pasukannya—junjungan Ithaca—untuk masuk ke dalam kerajaan Troy. Malam itu resmi menjadi malam pembantaian. Seluruh pasukan dan warga Troy dibantai tanpa ampun, tidak peduli perempuan atau anak-anak. Darah membanjiri seluruh kerajaan Troy. Prajurit Ithaca yang memenangkan perang berpesta, mabuk-mabukan merayakan kemenangan mereka.

Namun, kemenangan Odysseus terhadap Troy menjelma menjadi sebuah kutukan. Dalam perjalanan pulang, Odysseus dan pasukannya tersesat. Mereka menghadapi hambatan yang tak mudah, bahkan hanya menyisakan Odysseus sebagai satu-satunya “pahlawan” perang Ithaca yang masih hidup. Mereka harus berhadapan dengan monster mata satu, Polyphemos, yang membuat banyak pasukan Ithaca tewas. Mereka juga harus berhadapan dengan penyihir Circe yang mengubah pasukan Ithaca menjadi hewan ternak sebagai simbolisasi sifat mereka yang tamak. Hambatan demi hambatan telah menggerus jumlah pasukan yang berlayar pulang menjadi lebih sedikit. Puncaknya adalah ketika mereka berhadapan dengan monster laut Scylla dan Charybdis yang menghancurkan kapal dan hanya menyisakan Odysseus yang hidup dan terdampar seorang diri di sebuah pulau. Odysseus terdampar selama tujuh tahun di Pulau Ogygia dan berkat bantuan para dewa akhirnya bisa berlayar pulau menuju kerajaannya yang dikecamuk oleh kekacauan dan pemberontakan selama ia tinggalkan.

Bukan sekadar Fiksi Tapi Sarat Pesan Moral

Betul bahwasanya kisah The Odyssey adalah fiksi belaka. Namun, Homeros sang pengarang dan Christoper Nolan sang sutradara mengisahkannya dengan sangat hidup dan sesuai dengan realita zaman—baik zaman Homeros hidup maupun dinamika dunia saat ini. Ada banyak pesan moral yang bisa diambil dari kisah ini. Perang memang bisa secara lugas dan asertif menentukan siapa yang menjadi pemenang (the winner) dan siapa yang menjadi pecundang (the loser). Namun, yang menjadi keniscayaan adalah fakta bahwa siapa yang menang jadi arang dan siapa yang kalah jadi abu. Seisi kerajaan Troy memang menjadi abu karena kedigdayaan prajurit Ithaca yang meluluhlantakkan mereka. Tapi para prajurit Ithaca yang termasyhur karena kehebatan perangnya karam dan terbunuh di laut akibat kecongkakan mereka sendiri. Odysseus, sang raja Ithaca dan jenderal perang Agamemnon yang pilih tanding, harus dibekap oleh penyesalan yang mendalam karena perang yang telah terjadi. Ia terus dihantui rasa bersalah karena melakukan perang tak adil terhadap Troya dan mengabaikan ribuan pasukannya yang tewas tanpa penghormatan yang layak.

Kisah The Odyssey yang ditulis oleh Homeros pada rentang abad 7 hingga 8 Sebelum Masehi menjadi tamparan keras bagi kemanusiaan hari ini bahwa perang telah menjadi ritus bahkan habitus yang selalu membersamai kehidupan umat manusia sejak dahulu kala. Perang menjadi jalan yang dipilih nyaris tanpa dialektika bagi mereka yang berselisih. Perang juga selalu menjadi cara untuk menahbiskan siapa yang paling kuat, siapa yang paling berkuasa di atas segalanya. Homeros mengisahkannya dengan sangat baik dalam rentetan puisinya yang berjumlah 24 buku. Namun, seperti postulat kaum realis bahwasanya manusia adalah homo homini lupus—serigala bagi sesamanya—dan animus dominandi—makhluk yang selalu ingin mendominasi—maka, isyarat dan peringatan Homeros hanya menjadi kisah yang kerap diabaikan. Syair-syair Homeros hanya menjadi semacam kisah lalu dan sekadar penghiburan bagi perang yang telah menimbulkan kerusakan yang masif dan menggerus kemanusiaan. Perang Salib yang terjadi pada rentang 1095 hingga 1272 Masehi, Perang Dunia I pada 1914-198 yang dipantik oleh pembunuhan Archduke Franz Ferdinand dari Austria-Hungaria, serta Perang Dunia II pada 1939-1945 karena invasi Nazi Jerman terhadap Polandia menjadi sekelumit dari sekian banyak perang yang menegasikan isyarat dan peringatan Homeros.   

Perang Hari Ini

Dewasa ini, perang kembali berkecamuk dan merusak tatanan perdamaian dunia. Dunia tidak lagi diwarnai oleh multipolarisme yang dicirikan oleh kerja sama antarkekuatan global—negara maupun non-negara, tapi justru pekat oleh warna rivalitas dan ambisi negara-negara besar (major powers) untuk menyeret tata politik dunia ke mode awal; unipolar, koersif, anarkis, dan konfliktual. Israel dengan mudah mengangkangi hukum internasional dan nyaris tanpa hukuman dari komunitas global ketika menginvasi dan merampas kedaulatan bangsa Palestina. Israel yang dikomando oleh penjahat perang, Benjamin Netanyahu, dengan sewenang-wenang mengangkangi hukum internasional dengan menyerang fasilitas sipil seperti sekolah, rumah sakit, dan kelompok non-kombatan—perempuan, anak-anak, tenaga medis, wartawan—demi mencapai tujuannya. Israel bahkan mengulangi habitus yang sama di Palestina terhadap Lebanon yang dianggap mendukung Iran, bahkan dengan menumpahkan darah pasukan perdamaian PBB—UNIFIL—yang bertugas di sana.

Situasi yang sama juga terjadi di Timur Tengah antara Amerika Serikat (AS) dan Iran sejak 28 Februari lalu. AS yang diagitasi oleh Israel yang merasa terancam, terjerumus ke dalam peperangan tanpa ujung dengan Iran. AS dapat dikatakan terjerumus karena memulai perang tanpa motivasi dan basis argumentasi yang jelas. AS terjerumus pada kebodohan sejarah yang sama ketika mereka mengobar perang di Irak pada 2003 dengan dalih bahwa Irak memiliki senjata pemusnah massal (weapon mass destruction)—pasca-perang, tuduhan ini tidak terbukti sama sekali. Dalam konteks Iran, mereka terprovokasi oleh Israel yang menuduh bahwa Iran mengembangkan senjata nuklir yang dapat menjadi dilema keamanan bagi kawasan. Padahal, Iran sudah sangat terbuka untuk diinspeksi oleh IAEA yang menjadi otoritas global. Padahal lagi, Iran memiliki hak untuk menentang bahkan melawan laku hipokrit AS dan Israel sendiri yang memiliki senjata nuklir dan tak kunjung melakukan perlucutan senjata (nuclear disarmament) demi perdamaian. Sayang sungguh sayang, AS lebih suka terjerumus demi membela sekutu yang menunggangi mereka sendiri.

Harapan

Publik dunia dan kita semua sidang pembaca tentu berharap bahwa para pemimpin agresor seperti Donald Trump dan Benjamin Netanyahu mendapatkan bimbingan kesadaran dan pencerahan sebagaimana Odysseus pasca-kemenangan Ithaca atas Troy dalam palagan peperangan. Bimbingan kesadaran dan pencerahan ini menjadi barang mahal karena tidak semua pelaku peperangan beruntung mendapatkannya. Terkadang ia hanya dapat diperoleh jika kuasa ilahiah yang berkehendak sebagaimana Odysseus yang mendapatkan hukuman terlebih dahulu selama 10 tahun lamanya di lautan sebelum mendapatkan pencerahan dan kembali ke jalan yang benar. Itu pun tak serta-merta mendapatkan kedamaian karena harus membereskan terlebih dahulu sampah-sampah persoalan yang ditimbulkan. Yang perlu digarisbawahi adalah fakta bahwa tak semua penjahat perang mendapatkan kesempatan melalui pencerahan sebagaimana yang dialami oleh Odysseus. Mereka seperti Hitler dan Mussolini bahkan harus tewas secara mengenaskan, bunuh diri atau tewas dipopor oleh lawan politik. Kira-kira, Trump dan Netanyahu akan berakhir seperti apa? (*)