Oleh: Ihsanial Fauziah Mardhatilah,
Anggota Komunitas Muslimah Menulis (KMM) Depok
Bayangkan adegan film action Hollywood, sebuah operasi penangkapan presiden negara lain yang bikin geger seluruh dunia. Tapi ini bukan fiksi, ini berita panas dari tahun 2026. Amerika Serikat (AS) menangkap Presiden Venezuela, Nicolás Maduro! Langsung jadi headline di mana-mana. Tapi, di balik berita heboh ini, ada drama politik, perebutan sumber daya, dan pertarungan ideologi yang jauh lebih dalam.
Laporan ini akan mengupas tuntas drama tersebut. Kita akan membongkar alasan sebenarnya di balik tindakan AS yang super nekat ini, mengintip perang pengaruh antara AS dan Cina, hingga menawarkan sebuah sudut pandang alternatif yang mungkin belum pernah kamu pikirkan sebelumnya. Yuk, kita bedah lapis demi lapis!
Alasannya Narkoba, Tapi Kok Bau Minyak?
Dalam politik internasional, negara-negara besar seringkali punya cerita versi resmi dan versi “yang sebenarnya”. Kasus penangkapan Presiden Maduro ini contoh klasiknya. Secara resmi, AS mengumumkan penangkapan ini sebagai bagian dari upaya “pemberantasan jaringan gembong narkoba besar” yang katanya dikendalikan langsung oleh Maduro. Kedengarannya heroik, kan? Tapi kalau kita cium lebih dalam, aroma yang tercium bukanlah narkoba, melainkan minyak mentah.
Kontras dengan narasi resmi, motif utama di balik drama ini harta karun hitam Venezuela: minyak. Tapi coba kita lihat angkanya, karena ini gokil banget. Menurut OPEC, Venezuela itu duduk di atas lautan emas hitam, hampir seperlima dari seluruh cadangan minyak terbukti di planet ini. Itu bukan Cuma banyak; itu game-changer geopolitik.
Bagi negara kapitalis seperti AS, minyak adalah segalanya. Ini bukan cuma soal bensin buat mobil. Buat AS, kontrol atas pasokan energi global itu artinya stabilitas ekonomi dan kemampuan untuk memproyeksikan kekuatan militer ke seluruh dunia. Minyak adalah “mesin penggerak kedigdayaannya”. Makanya, cadangan minyak raksasa Venezuela di tangan negara yang enggak sejalan, apalagi kalau di-backup Cina, itu bukan cuma saingan bisnis—tapi ancaman langsung bagi keamanan energi AS. Situasi ini makin panas dengan hadirnya pemain besar lain yang ikut “nimbrung”: Cina.
Drama “Segitiga” Panas: AS vs Venezuela dan Cina
Dalam geopolitik, aliansi atau hubungan “bestie” antarnegara bisa menentukan segalanya. Hubungan mesra antara Venezuela dan Cina menjadi ancaman langsung bagi pengaruh AS di Amerika Latin, wilayah yang selama ini dianggap sebagai “halaman belakang” mereka. Venezuela, yang secara ideologi berseberangan dengan AS, secara alami lebih condong ke aliansi yang mendukung Cina dan Rusia.
Keseriusan hubungan Venezuela-Cina ini bukan sekadar basa-basi politik, tapi terbukti lewat investasi yang nilainya fantastis. Total investasi, Cina telah menggelontorkan dana lebih dari US$62 miliar (sekitar Rp1.040 triliun) ke Venezuela sejak tahun 2007. Porsi pinjaman, angka tersebut setara dengan 53 persen dari seluruh pinjaman yang diberikan Chna ke kawasan Amerika Latin. Sebagai timbal baliknya, Venezuela berkomitmen untuk memasok hingga satu juta barel minyak per hari ke Cina. Beijing pun menjanjikan dukungan politik dan bantuan pembangunan infrastruktur.
Jadi, apa cerita di balik angka-angka triliunan ini? Ini bukan Cina lagi beramal, Guys. Beijing lagi secara strategis membeli sekutu kuat tepat di wilayah yang secara tradisional dianggap “halaman belakang” Amerika. Buat AS, ini udah kayak alarm kebakaran level lima—tantangan langsung terhadap dominasi regional mereka. Tapi aliansi powerhouse ini bukan cuma soal tukar-menukar minyak dengan infrastruktur. Ini adalah landasan peluncuran untuk serangan yang jauh lebih berbahaya terhadap superpower utama Amerika: Dolar AS itu sendiri.
Gerakan “Dibuang Sayang”: Perang Melawan Dolar AS (Dedolarisasi)
Perang antar negara adidaya tidak hanya soal militer atau perebutan wilayah, tetapi juga soal dominasi mata uang. Gini deh, selama puluhan tahun, minyak di seluruh dunia itu diperdagangkan pakai Dolar AS. Ini yang namanya sistem petrodollar. Akibatnya? Semua negara butuh dan wajib pegang dolar, yang ngasih AS kekuatan ekonomi luar biasa. Inilah alasan mengapa gerakan dedolarisasi yang diinisiasi oleh Venezuela dan China membuat AS meradang.
Dedolarisasi adalah gerakan untuk mengurangi ketergantungan pada Dolar AS. Bayangin aja ini sebagai pemberontakan finansial paling pamungkas. Selama ini, dunia main pakai aturan Amerika karena semua orang butuh mata uangnya. Nah, Venezuela dan China ini lagi coba ngebalikkin papan permainannya. Caranya adalah dengan mulai menghapuskan penggunaan dolar dalam berbagai transaksi, mulai dari perdagangan internasional, sebagai cadangan devisa negara, hingga dalam sistem keuangan domestik.
Langkah strategis ini secara langsung menggoyahkan hegemoni atau kekuasaan AS di panggung dunia. Jika banyak negara tidak lagi menggunakan dolar, maka kekuatan ekonomi dan politik AS akan melemah secara signifikan. Penangkapan Maduro bisa dilihat sebagai “gerak cepat” (gercep) dari AS untuk memadamkan api ini sebelum membesar, sekaligus mengirim pesan keras kepada negara lain yang mencoba menantang dominasi dolarnya. Semua drama perebutan minyak dan mata uang ini pada akhirnya bersumber dari satu sistem yang sama: kapitalisme. Sekarang, mari kita lihat sistem alternatif yang menawarkan solusi berbeda.
Kapitalisme vs. Islam: Mana Solusi yang Paling Keren?
Semua konflik yang kita bahas di atas adalah produk dari sistem kapitalisme yang diusung oleh AS. Sistem ini terbukti melahirkan persaingan brutal, kolonialisme, dan penderitaan. Namun, ada sebuah pandangan dunia lain yang menawarkan fondasi yang sama sekali berbeda: Islam.
Mari kita bandingkan kedua sistem ini secara head-to-head. Sistem Kapitalisme dibuat oleh manusia, Berbasis materi dan kepentingan kelompok, Memberi kebebasan tak terbatas bagi pemilik modal, Menghalalkan segala cara untuk keuntungan, Hasil akhirnya adalah konflik dan ketidakadilan. Sedangkan sistem Islam bersumber langsung dari Allah SWT, Sesuai dengan fitrah manusia, Mampu membentuk negara yang kuat dan mandiri, Memiliki kedaulatan penuh tanpa intervensi, Tujuannya menyebarkan kebaikan (dakwah).
Politik luar negeri dalam sistem Islam tidak bertujuan untuk menjajah atau mengeruk keuntungan materi. Tujuannya adalah dakwah dan jihad, yaitu untuk menyebarkan risalah Islam ke seluruh dunia, menghancurkan kezaliman, dan—seperti yang dijelaskan dalam siyasah syar’iyyah—membuka jalan dakwah agar manusia dapat terbebas dari penyembahan kepada sesama manusia dan hanya menyembah Allah SWT.
Dengan tujuan mulia tersebut, sistem Islam bertujuan untuk menciptakan keadilan dan perdamaian yang nyata bagi seluruh umat manusia, bukan hanya untuk segelintir kelompok yang berkuasa.
Yuk, Cari Tahu Solusi Sebenarnya! Jadi, jelas sudah. Drama penangkapan Presiden Maduro pada 2026 bukanlah sekadar soal pemberantasan narkoba. Ini adalah cerminan dari pertarungan sengit memperebutkan minyak, persaingan geopolitik antara AS dan China, serta upaya mati-matian AS untuk mempertahankan dominasi dolarnya. Semua ini adalah buah dari sistem kapitalisme yang penuh dengan intrik, konflik, dan ketidakadilan.
Daripada pusing dan ikut-ikutan tegang dengan drama politik dunia yang tak ada habisnya, mungkin ini saatnya kita mencari solusi yang sesungguhnya. Mari kita lebih semangat mempelajari Islam, bukan hanya sebagai agama ritual, tetapi sebagai sebuah sistem solusi keren yang menawarkan keadilan sejati untuk seluruh dunia. Stay cool and stay smart, Guys![]





LEAVE A REPLY