
Keterangan Gambar : Diskusi Jalan Tak Ada Ujung Membuka Perspektif Baru tentangnya Pengalaman Perempuan di Tengah Sejarah (sumber foto : ist/pp)
Diskusi Jalan Tak Ada Ujung Membuka Perspektif Baru tentangnya Pengalaman Perempuan di Tengah Sejarah
JAKARTA, 27 September 2026 — Revolusi sering diceritakan melalui mereka yang berada di garis depan. Senjata, pertempuran, strategi, dan tokoh laki-laki menjadi bagian yang dominan dalam narasi sejarah. Namun, bagaimana dengan perempuan yang menjalani revolusi dari ruang yang berbeda?
Pertanyaan tersebut mengemuka dalam diskusi “Revolusi dan Kota”, yang membahas novel Jalan Tak Ada Ujung karya Mochtar Lubis dan adaptasinya menjadi film Perang Kota karya sutradara Mouly Surya.
Kegiatan yang berlangsung di Ruang Akademi Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Minggu (27/9/2026), diselenggarakan oleh Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM) bekerja sama dengan Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta, dengan dukungan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Program Penguatan Komunitas Sastra 2026. Diskusi menghadirkan Mouly Surya dan kritikus film Hikmat Darmawan, dengan moderator Riri Satria.
Salah satu hal yang menarik perhatian dalam penjelasan Mouly adalah prosesnya membaca kembali karakter Fatimah.
Mouly Mempertanyakan Ruang Fatimah
Dalam proses mengadaptasi novel, Mouly tidak hanya berhadapan dengan persoalan bagaimana menerjemahkan cerita ke dalam bahasa visual. Ia juga mempertanyakan karakter-karakter yang terdapat dalam karya asli, termasuk posisi Fatimah sebagai perempuan.
Mouly melihat adanya ruang yang dapat dikembangkan untuk memahami siapa Fatimah, apa yang diinginkannya, dan bagaimana kondisi sosial pada masa revolusi turut membentuk kehidupannya.
Pembacaan tersebut menjadi menarik karena Fatimah berada dalam ruang yang berbeda dari tokoh-tokoh laki-laki yang berhadapan langsung dengan konflik revolusi.
Bagi pengamat sastra dan peserta diskusi Rissa Churria, pertanyaan terhadap Fatimah membuka kemungkinan membaca sejarah dari pengalaman perempuan.
“Revolusi bukan hanya milik mereka yang mengangkat senjata. Perempuan yang menjaga rumah, keluarga, dan kehidupan sehari-hari juga mengalami tekanan sejarah,” demikian refleksi Rissa terhadap pembahasan tersebut.
Perempuan dan Sejarah yang Tak Selalu Tercatat
Perspektif perempuan dalam pembacaan karya menjadi salah satu persoalan penting yang muncul dari proses adaptasi.
Sejarah kerap lebih mudah mencatat mereka yang berada di ruang publik dan mengambil peran terbuka. Sementara pengalaman perempuan sering hadir dalam ruang domestik dan kehidupan sehari-hari.
Padahal, kehidupan sehari-hari juga merupakan bagian dari sejarah.
Ketika seorang suami pergi menghadapi konflik, ketika keluarga hidup dalam ketakutan, ketika kebutuhan rumah tangga harus tetap dipenuhi di tengah situasi yang tidak menentu, perempuan juga sedang menjalani pengalaman revolusi.
Pertanyaannya kemudian bukan sekadar apakah perempuan ikut berperang, tetapi bagaimana perempuan bertahan, mengambil keputusan, dan memaknai perubahan zaman.
Adaptasi sebagai Pembacaan Ulang
Mouly Surya menegaskan bahwa proses mengadaptasi Jalan Tak Ada Ujung bukan sekadar memindahkan cerita dari buku ke layar.
Novel dan film memiliki bahasa yang berbeda. Narasi batin yang dapat dijelaskan melalui kata-kata dalam novel harus diterjemahkan menjadi tindakan, ekspresi, tubuh, ruang, gambar, suara, dan penyuntingan ketika masuk ke film.
Karena itu, sejumlah karakter dan struktur cerita mengalami pengembangan.
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa sebuah adaptasi dapat menjadi ruang untuk membaca kembali karya lama dengan perspektif baru tanpa harus menghilangkan hubungan dengan karya sumber.
Film Perang Kota akhirnya menjadi perjumpaan antara karya Mochtar Lubis dengan cara pandang Mouly Surya.
Dari Kemerdekaan Bangsa menuju Kemerdekaan Manusia
Pembacaan terhadap Fatimah juga membawa diskusi kepada persoalan yang lebih luas: makna kemerdekaan.
Kemerdekaan sebuah bangsa tidak selalu berarti setiap individu di dalamnya telah sepenuhnya merasakan kebebasan.
Bagi perempuan, persoalan tersebut dapat hadir dalam bentuk batas-batas sosial, ruang gerak, pilihan hidup, dan posisi dalam keluarga maupun masyarakat.
Karena itu, membaca kembali tokoh perempuan dalam karya berlatar revolusi dapat menjadi jalan untuk mempertanyakan kembali: siapa yang memiliki kebebasan, siapa yang menentukan keputusan, dan siapa yang selama ini hanya menjadi objek dari keputusan orang lain?
Sastra sebagai Ruang untuk Mendengar yang Sunyi
Diskusi Revolusi dan Kota akhirnya tidak hanya mempertemukan sastra dengan film, tetapi juga membuka percakapan mengenai sejarah dan perspektif perempuan.
Melalui cara Mouly Surya membaca Fatimah, tokoh yang semula berada dalam ruang cerita yang terbatas dapat menjadi pintu untuk mempertanyakan kembali pengalaman perempuan dalam sejarah.
Bagi Rissa Churria, inilah salah satu kekuatan sastra dan film: menghadirkan kembali manusia yang mungkin pernah berada di pinggir narasi.
“Sejarah bukan hanya milik mereka yang namanya ditulis besar. Ada perempuan-perempuan yang mungkin tak tercatat, tetapi hidup mereka adalah bagian dari sejarah,” menjadi refleksi yang mengemuka dari pembacaan tersebut.
Pada akhirnya, Jalan Tak Ada Ujung dan Perang Kota mengingatkan bahwa revolusi bukan hanya tentang pertempuran. Di balik peristiwa besar sejarah, ada manusia yang mencintai, takut, bertahan, kehilangan, dan berharap.
Dan di antara mereka, ada perempuan yang mungkin tak selalu berada di garis depan, tetapi tetap menjadi bagian penting dari perjalanan sebuah bangsa. - (Rissa Churria/PP)






LEAVE A REPLY