Home Opini Backaper Ala Senior, Melihat dan Merasakan Langsung Denyut Kehidupan Rakyat

Backaper Ala Senior, Melihat dan Merasakan Langsung Denyut Kehidupan Rakyat

Catatan Ringan, Perjalanan ke daerah Pinggiran :

104
0
SHARE
Backaper Ala Senior, Melihat dan Merasakan Langsung Denyut Kehidupan Rakyat

Oleh : W.Suratman 
Sekjend Persaudaraan Jurnalis Muslim Indonesia (PJMI) 

SERU - Gayeng dan banyak hal yang bisa menjadi bahan perenungan bagi kita, saat sejumlah wartawan senior yang tergabung dalam anggota Persaudaraan Jurnalis Muslim Indonesia (PJMI) melakukan perjalanan ke daerah pinggiran.


“Backaper-an”, kira-kira demikian, istilah anak millenial saat ini. 

Sabtu, (21/01/2023) sekitar pukul 14.00 wib, sejumlah wartawan yang tergabung dalam PJMI, Mohammad Anthoni (eks LKBN Antara), Sriwidodo (FNN), Islmail Lutan (Ketum PJMI/Parahyangan Post), W.Suratman (Sekjend PJMI/Parahyangan Post), Aliyudin (Jurnas), Mochammad Ade M (Gema Pos) dan Bendro Indri (PJMI), melakukan perjalanan menggunakan moda transportasi Kereta Rel Listrik (KRL), perjalanan diawali dari Stasiun Tanah Abang menuju Rangkasbitung, Banten, dan rombongan turun di stasiun Maja. Kegiatanya sendiri berlangsung dari hari Sabtu – Minggu, 21 – 22 Januari 2023.

Awal mula tujuan perjalanan ini, untuk menghadiri undangan dari relasi Pak Mohammad Anthoni, melihat perumahan ‘Bintang Maja Lesatari’ di Desa Cilangkap, Kec.Maja, Kab.Lebak. Banten, yang di-kembangkan oleh PT.Bintan Energi Lestari dengan luas areal kurang lebi 1.500 hektare.

Turun dari stasiun Maja, rombongan dijemput oleh karyawan dari Bintang Maja Lestari, menuju ke kantor pemasaran dengan asritektur yang cukup bagus.  Menyusuri jalan beton agak berliku, sepanjang mata memandang begitu lepas dari perkampungan, kanan kiri terhampar lahan luas, sebagian masih ada sawah, sebagian lagi ditanami sayur mayur oleh para petani, lahan luas berbukit dengan pepohonan perdu yang tidak terlalu tinggi.

Tidak terbayangkan sama sekali bagi penulis yang  baru sekali memasuki daerah ini, letaknya tidak jauh dari jantung ibukota Jakarta, masih ada hamparan luas, lahan seperti ini, seolah kita sedang berada di luar pulau Jawa.

Seketika terlintas, kenapa banyak pihak yang menolak perpindahan ibukota dari Jakarta ke IKN di pulau Kalimantan sana, kenapa tidak dikembangkan ke daerah penyangga ibukota ini saja, mungkin ini salah satu alasannya. Daerah penyangga ibukota Jakarta saat ini, sebenarnya masih banyak lahan-lahan yang berlum tergarap, kenapa harus buru-buru pindah ibukota..??.

Memasuki areal perumahan sepanjang pinggir jalan, berjejer puluhan dumpk truck. Kata salah seorang disana, dump truck ini untuk mengangkut tanah buat urugan, biasa beroperasi malam hari agar tidak menganggu arus lalu lintas.

Salah seorang dari kami menyeletuk, ini yang biasa untuk mengurug pembangunan bandara dan pulau-pulau reklamasi itu, ya dari sini. Entahlah…!!!.

Kami diterima oleh bagian marketing dan tim dari pengembang Perumahan Bintang Maja Lestari, mendapat penjelasan terkait harga perumahan, sistem pembayaran, luas lahan yang akan dikembangkan dan fasilitas-fasilitas dari pengembangan perumahan tersebut. Dilanjutkan meninjau ke lokasi perumahan, beberapa tukang sedang bekerja disana.

Kami menyimak dengan antusias, diantara kami juga bersemangat untuk bisa ikut memiliki rumah disini, paling tidak untuk investasi, dan untuk ‘pos kedua’, kata salahseorang rekan senior, disertai canda tawa. Ya, namanya juga para senior awak media.

Udara terasa cukup segar, sore hari di areal perumahan Bintang Maja Lesatari, mengingat waktu sudah mulai gelap, akhirnya kami diarahkan ke rumah contoh yang ada disamping kantor pemasaran, kami menginap disana. Rumah contoh yang cukup representative, dengan fasilitasnya ala villa atau hotel, kami bermalam disana.

Namanya juga wartawan, kalau sudah berkumpul, tidak bisa diam. Sampai dini hari kami terus berdiksusi, apalagi yang disampaikan dari para senior, ini bukan sekedar obrolan, lebih tepatnya diskusi dengan bermacam topik pembicaraan yang cukup menarik.

Banyak sekali informasi-informasi yang selama ini tidak terkuak ke publik, bisa disampaikan dengan gamblang oleh para senior melalui pengalamannya masing-masing, mulai dari sisi politik, ekonomi, dan berbagai ragam tema lainnya, disertai dengan gurauan, canda tawa yang segar.


Menelusuri denyut-denyut kehidupan rakyat, melalui cara-cara seperti ini, Backaper-an, ke daerah-daerah pinggiran, daerah terpencil, daerah tertinggal, memang sangat perlu, apalagi bagi kita sebagai seorang jurnalis yang mendedikasikan pengabdian dirinya bersama rakyat kecil.

Agar benar-benar bisa melihat dan ikut merasakan denyut kehidupan rakyat disana, sehingga kita memiliki segudang bahan untuk menuangkannya dalam tulisan-tulisan kita. Sebagai seorang jurnalis kita harus sering-sering turun langsung kelapangan, mencari informasi, menyusuri ruang-ruang gelap yang tidak bisa terkuak di publik.

Kita tentu saja tidak begitu saja percaya dan cukup mengiyakan apa saja yang disampaikan oleh pejabat dan birokrat, perlu dicarikan informasi pembanding dari mereka yang mengalami kejadian-kejadian dilapangan.

Sebagai wartawan kita, jangan hanya berkutat di kantor humas intansi, baik pemerintah atau swasta, tetapi kita juga perlu  turun langsung ke lapangan, untuk mencari informasi dan kebenaran dari suara-suara rakyat yang sulit untuk bericara, menyampaikan kebenaran.


Antara Kereta Cepat Jakarta Bandung dan KRL Tanah Abang – Rangkasbitung.

Melakukan perjalanan menggunakan moda transportasi Kereta Rel Listrik (KRL) jurusan Tanah Abang ke Rangkasbitung saat ini sudah lumayan nyaman, sangat jauh berbeda dengan lima atau sepuluh tahun ke belakang.

Perjalanan dari stasiun Tanah Abang ke Rangkas bitung memakan waktu sekitar dua jam, selepas stasiun Tanah Abang akan melewati, stasiun Palmerah, Kebayoran Baru, Pondok Ranji, Jurang Mangu, Sudimara, Rawa Buntu,  Serpong, Cisauk, Cicayur, Parung Panjang, Cilejit, Daru, Tenjo, Tigaraksa, Maja, Citeras dan Rangkasbitung.

Dikutip dari Keretaapikita.com, rute yang melayani perjalanan KRL Tanah Abang – Rangkasbitung, kurang lebih ada 16 perjalanan.

Walaupun sudah lumayan nyaman, menggunakan moda transportasi KRL, Tanah Abang – Rangkasbitung, namun disana-sini masih banyak fasilitas yang sudah usang, perlu untuk segera di-perbaiki.

Sepanjang perjalanan terlihat para pekerja sedang memperbaiki rel kereta, sebagian lagi sedang bahu-membahu membongkar bantalan rel, dan lain sebagainya, artinya pembenahan fasilitas kereta api listrik ini memang serius untuk terus dibenahi.

Disamping itu yang masih minim tersentuh pembagunan, fasilitas jembatan, karena dibeberapa titik rel kereta api ini melintasi beberapa sungai, walaupun sungai itu tidak terlalu besar, tetapi kondisi jembatannya masih apa adanya, sebagian masih belum tersentuh oleh perbaikan-perbaikan.

Beberapa penumpang yang ditemui sepanjang perjalanan, terlihat sumringah, mereka merasa senang dengan adanya KRL, Tanah Abang – Rangkasbitung ini, waktu tempuh perjalanan menjadi lebih cepat. Dan yang jelas, banyak warga masyarakat yang terbantu dengan adanya jalur kereta api ini.

Kondisi ini bisa dipahahami, mengingat jalur kereta api ini menghubungkan titik pusat Ibuoka dengan daerah penyangga, yang nota bene daerah perkampungan penduduk pinggran yang sedang tumbuh menjadi daerah pemukiman warga. Banyak pembangunan perumahan, apartemen mulai tumbuh disana, paling tidak tiga sampai lima tahun kedepan kondisinya tentu sudah banyak berubah.

Dan, satu catatan penting jalur KRL, Tanah Abang – Rangkasbitung ini, merupakan jaur favorit bagi para penduduk disana, mengingat kondisi KRL inilah satu-satunya moda transportasi murah yang bisa menolong mereka, jika dibandingkan harus melalui jalan darat lainnya.

Beberapa rekan secara berkelakar memberikan pandangan, kenapa tidak jalur kereta ini yang harus diperkuat pembangunananya, mengingat jalur ini yang justru sangat dibutuhkan oleh rakyat saat ini.

Kenapa pemerintah harus buru-buru membangun jalur Kereta Cepat, Jakarta – Bandung, yang konon kabarnya, dari pandangan para ahli penumpangnya belum tentu akan sebanyak jalur KRL, Tanah Abang – Rangkasbitung ini. Mengingat jalur Jakarta – Bandung, selain sudah ada beberapa jalur alternative, dan jalan tol, rupanya jalur Kerata Cepat, bukan merupakan hal yang sangat mendesak.

Seorang rekan senior lainya, menyeletuk, ya itulah, karena rezim ini bermental calo, katanya. Orientiasi membangun tidak sekedar untuk memenuhi hajat hidup rakyat banyak, tetapi bagaimana agar mereka mendapat nilai keuntungan dari pembangunan tersebut, begitulah alasan dari rekan senior ini, entah nilai keuntungan apa, yang dimaksud senior rekan satu ini.

Penulis hanya manggut-manggut, sembari, terus menerobos antrian untuk sekedar menempelkan kartu, e-money, agar bisa keluar dari stasiun.

Memang sejak PT Kereta Api menerapkan sistem pembayaran menggunakan kartu, e-money, lonjakan pendapatanya melambung, hal ini bisa dipahami, mengingat uang transaksi pembayarannya langsung masuk ke kas, secara otomatis, tidak lagi melalui pembayaran cash yang nota bene sangat riskan untuk di-korupsi.

*** 

Tidak terasa dua hari menelusuri perjalanan ke daerah pinggiran, banyak cerita seru dan bisa ikut langsung merasakan denyut nadi kehidupan rakyat, bagaimana serunya para awak media yang nota bene sudah cukup berumur ini harus naik mobil bak terbuka hanya untuk bisa mencapai stasiun Maja dari lokasi mereka menginap, untuk kembali ke Jakarta.


Catatan ringan ini hanya sekedar mendokumentasikan perjalanan para anggota Persaudaraan Jurnalis Muslim Indonesia (PJMI), yang telah melakukan perjalanan, ‘backaper-an’ ke daerah pinggiran, melalui narasi apa adanya, dengan bumbu alakadarnya, agar apa yang telah di lakukan bisa terdokumentasikan, bisa dibaca dan bisa mengambil hikmah dari kegiatan ini.

Dan tidak ada salahnya, kedepan kegiatan semacam ini bisa terus dilanjutkan ke daerah-daerah pinggiran lainnya, yang  tentu saja untuk bisa melihat kehidupan rakyat kecil yang masih bisa bertahan hidup ditengah kesulitan-kesulitan ekonomi, dan gempuran perkembangan teknologi dan pola kehidupan kapitalis yang begitu dahsatnya.


Lalu kita bisa menuliskannya, sebagai bahan perenungan dan mengambil hikmah dari perjalanan tersebut, semoga. (*)