Bogor, parahyangan-post.com-Suatu masa, sekitar tahun 2003. Tiga orang jurnalis dan cerpenis ini pernah melakukan pertarungan, saat mereka sekantor mengelola tabloid anak-anak GALAKSI, di Poltangan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, .
Pertarungannya unik. "Ayo kita bertanding menulis cerpen dalam satu jam," tantang Putra Gara.
Tantangan itu diterima oleh Hamidin Krazan, dan Ismail Lutan. Maka detik itu juga mulailah mereka bertarung dan berpacu merangkai kata-kata yang bersileweran dalam angan-angan masing-masing (waktu itu belum ada medsos).
Tepat satu jam, Putra Gara menghasilkan cerpennya yang cukup bagus. Layak untuk dipublikasikan di media cetak. Putra Gara (yang paling yunior di tiga serangkai) ini, memang seorang seniman muda energik, andal dan serba bisa. Cerpenis iya, pelukis iya, pemain film iya, novelis iya. Di zaman itu namanya sudah berkibar di seantero Nusantara melalui cerpen-cerpennya yang rutin hadir di sejumlah majalah remaja.
Hamidian Krazan yang lebih banyak menulis cerita anak-anak dan puisi, berhasil menyelesaikan cerpennya tapi tidak begitu pede untuk dipublish. Alasannya, klasik. Perlu perenungan lagi.
Sementara Ismail Lutan, yang cerpen-cerpennya ketika sudah tembus media nasional, seperti Suara Pembaruan, Jawa Pos, Sarinah dan Pelita, tidak bisa menulis dalam tekanan. Ia tidak menghasilkan cerpen. Di komputernya hanya bertuliskan satu kalimat saja. "Pertarungan Belum Usai"
Begitulah...Waktu pun berjalan, mereka bercerai-berai mengikuti jalan nasib sesuai garis tangan masing-masing. Dua puluh dua tahun kemudian, tantangan itu datang lagi.
"Bang Abu, kita bikin ontologi cerpen bertiga sama Hamidin, yuk," tantang Putra Gara, yang kini menjadi Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Bogor.
Tantangan itu pun diterima oleh Ismail Lutan (Bang Abu-red) dan Hamidin Krazan, dan mulailah mereka menulis cerpen lagi.
“Karya ini merupakan bentuk reuni kami bertiga, bahwa kami masih ada, dan tetap produktif berkarya,” terang Putra Gara, yang menggagas untuk menerbitkan karya dalam bentuk buku bersama.
Gara mengungkap, karya ini juga sebagai rekam jejak mereka dalam melintasi waktu saat proses berkarya.
“Karena setiap cerita, pasti memiliki latar belakang idenya,” kata Gara lagi, yang kini telah melahirkan puluhan novel bergenre sejarah yang fenomenal. Diantaranya, Kesatria Khatulistiwa, Nahrisyah dan Samudera Pasai.
Sementara Ismail Lutan, yang satu cerpennya berjudul Kontrak Politik – dijadikan judul buku oleh Putra Gara,- memberikan catatan penting bahwa karya yang dibukukan akan abadi melalui ruang yang ditempatkan.
"Cerpen ini adalah bentuk pembacaan saya terhadap dunia politik di negara kita. Saya tidak tertarik ke politik, tapi saya mengikuti prosesnya dalam diam, dan dalam perenungan yang dalam," tutur Ismail Lutan, yang juga Ketua Umum Persaudaraan Jurnalis Muslim Indonesia (PJMI).
Lima cerpen dalam ontologi ini, lanjut Ismail Lutan, semuanya bergenre Cerpetik (cerpen bernuansa politik)
Sedangkan Hamidin Krazan, yang saat ini mengabdi di salah satu lembaga pendidikan di kampung halamannya – Purwokerto, menjadikan kumpulan cerpen mereka bertiga sebagai titik balik dari kebersamasn mereka saat dulu sama-sama sebagai anak rantau di belantara ibu kota Jakarta.
“Kami pernah tumbuh bersama, berkarya bersama, dan insya Allah tua bersama melalui karya,” kata Hamidin.
15 cerpen yang tersaji dalam buku ini, adalah kumpulan cerpen yang setiap penulis menampilkan 5 karya. Dengan berbagai tema, gaya cerita, buku yang diterbitjan oleh penerbit Ujung Pena ini diharapkan mampu mewarnai kancah bacaan sastra Indonesia.*** (boe)






LEAVE A REPLY