Home Opini Bukan Akhir Seremoni, Inilah Awal Kesadaran: Makna Mendalam Hardiknas bagi Masa Depan Bangsa

Bukan Akhir Seremoni, Inilah Awal Kesadaran: Makna Mendalam Hardiknas bagi Masa Depan Bangsa

139
0
SHARE
Bukan Akhir Seremoni, Inilah Awal Kesadaran: Makna Mendalam Hardiknas bagi Masa Depan Bangsa

Oleh: Tarqum Aziz, S.H.I., M.Pd
Mudir Pesantren MBS Insan Cendekia Cilacap Periode 2017-2019

SETIAP - Tanggal 2 Mei, bangsa Indonesia kembali menapaki jejak sejarahnya melalui peringatan Hari Pendidikan Nasional. Bukan sekadar seremoni tahunan, Hardiknas adalah ruang refleksi, tempat kita menengok kembali arah pendidikan, sekaligus meneguhkan komitmen untuk masa depan. Di balik peringatan ini, berdiri sosok Ki Hajar Dewantara yang meletakkan fondasi bahwa pendidikan adalah proses memerdekakan manusia secara lahir dan batin.
Tema Hardiknas 2026, “Menguatkan Partisipasi Semesta, Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua,” menghadirkan kesadaran baru bahwa pendidikan bukanlah tanggung jawab tunggal sekolah. Ia adalah kerja kolektif yang melibatkan keluarga, masyarakat, negara, bahkan dunia usaha. Pendidikan menjadi ruang perjumpaan nilai, pengetahuan, dan harapan untuk melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter.

Dalam konteks kekinian, Prof. Dr. H. Abdul Mu'ti, M.Ed selaku Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) RI menegaskan bahwa pendidikan adalah fondasi utama menuju bangsa yang maju, makmur, dan bermartabat. Ia mengingatkan bahwa pendidikan tidak boleh direduksi sekadar transfer ilmu. Lebih dari itu, pendidikan adalah proses memanusiakan manusia, yakni proses yang dijalankan dengan ketulusan, kasih sayang, dan penghormatan terhadap fitrah manusia.

“Pendidikan adalah proses menemukan dan menumbuhkembangkan fitrah… Inti proses pendidikan adalah memuliakan,” demikian penegasannya. Dari sini, arah pendidikan menjadi jelas: membangun manusia yang utuh, beriman, bertakwa, berakhlak mulia, sekaligus cakap menghadapi tantangan zaman.

Gagasan tersebut sesungguhnya bukan hal baru. Ia berakar kuat pada pemikiran KH. Ahmad Dahlan, seorang pembaru yang sejak awal telah melihat pendidikan sebagai jalan pembebasan. Bagi KH. Ahmad Dahlan, pendidikan bukan sekadar ruang belajar, tetapi alat transformasi sosial untuk mengangkat umat dari kebodohan, keterbelakangan, dan ketertinggalan.

Ia hidup di tengah realitas dualisme pendidikan: pesantren yang kuat dalam agama namun terbatas dalam ilmu umum, dan sekolah kolonial yang maju secara intelektual namun kering dari nilai spiritual. Ahmad Dahlan tidak memilih salah satu, melainkan menjembatani keduanya. Ia meramu sintesis: ilmu agama dan ilmu umum harus berjalan beriringan.

Langkah konkret itu tampak ketika ia mendirikan Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah pada 1911 di Kauman, Yogyakarta. Sebuah sekolah sederhana di rumahnya, tetapi revolusioner dalam gagasan. Meja, kursi, dan papan tulis digunakan sebagai simbol modernitas. Namun di dalamnya, diajarkan pula ilmu agama yang mendalam. Di sinilah lahir model pendidikan integratif yang kemudian menjadi ciri khas pendidikan Muhammadiyah.

Para pemikir seperti Karel A. Steenbrink, seorang sejarawan dan peneliti Belanda melihat langkah ini sebagai bentuk kompromi kreatif antara sistem pendidikan Barat dan tradisional. Sementara Prof. Dr. Achmad Jainuri, MA, PhD, Guru Besar di UIN Sunan Ampel Surabaya, seorang akademisi, sejarawan, dan tokoh intelektual terkemuka yang pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengembangan (Diktilitbang) PP Muhammadiyah menilai bahwa gerakan pendidikan KH. Ahmad Dahlan tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga membangkitkan kesadaran sosial dan budaya literasi umat. Bahkan Prof. Dr. H. Abuddin Nata, M.A. seorang akademisi, pemikir, dan ahli pendidikan Islam terkemuka di Indonesia. Beliau dikenal sebagai Guru Besar Sejarah dan Filsafat Pendidikan Islam di Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) serta Program Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menegaskan bahwa inti pendidikan menurut KH. Ahmad Dahlan adalah pembentukan kepribadian karena tanpa kepribadian yang kuat, ilmu tidak akan bermakna.

Di titik inilah pendidikan menemukan hakikatnya: bukan hanya soal mengetahui, tetapi juga menjadi. Bukan hanya memahami, tetapi juga mengamalkan. Apa yang kini disebut sebagai deep learning, pemahaman mendalam yang aplikatif yang sebenarnya telah lama hidup dalam tradisi pendidikan yang menekankan kesatuan antara ilmu dan amal.

Kebijakan pemerintah hari ini, mulai dari digitalisasi sekolah, peningkatan kualitas guru, penguatan karakter melalui budaya sekolah, hingga pemerataan akses pendidikan, sejatinya bergerak dalam orbit yang sama: membangun manusia Indonesia seutuhnya. Bahkan penguatan mindset, mental, dan misi sebagai fondasi perubahan menunjukkan bahwa pendidikan tidak bisa hanya mengandalkan sistem, tetapi juga kesadaran kolektif.

Namun, semua itu hanya akan menjadi deretan program jika tidak disertai semangat bersama. Pendidikan membutuhkan partisipasi semesta, sebagaimana tema Hardiknas tahun ini. Ia membutuhkan keterlibatan semua pihak, dari ruang keluarga hingga ruang publik, dari desa hingga kota, dari kebijakan hingga praktik nyata.

Pendidikan adalah cermin peradaban yang akan menentukan seperti apa bangsa ini akan berdiri di masa depan. Apakah menjadi bangsa yang hanya cerdas secara teknologi, atau juga matang secara moral dan spiritual.

Dari Ki Hajar Dewantara kita belajar tentang kemerdekaan berpikir. Dari KH. Ahmad Dahlan kita belajar tentang keberanian berinovasi dan memadukan nilai. Dan dari realitas hari ini, kita belajar bahwa pendidikan adalah pekerjaan yang tak pernah selesai.

Hari Pendidikan Nasional bukanlah sekadar penutup seremoni tahunan, melainkan titik awal kesadaran baru. Kesadaran bahwa belajar tidak dibatasi ruang dan waktu, setiap tempat adalah sekolah, setiap orang adalah guru, dan setiap detik adalah peluang untuk bertumbuh. Dari semangat itulah, masa depan Indonesia yang cerdas, berkarakter, dan bermartabat mulai dirajut perlahan, melalui kesungguhan, kolaborasi, dan harapan yang terus menyala. (*)