Home Nusantara Tadabbur Alam & Life Skill Education

Tadabbur Alam & Life Skill Education

Pulih, Berkarya & Bersama Menumbuhkan Harapan

41
0
SHARE
Tadabbur Alam & Life Skill Education

Keterangan Gambar : Yayasan Mutiara Semesta Abadi bekerja sama dengan Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) menyelenggarakan kegiatan Tadabbur Alam & Life Skill Education di Pondok Ilmu Kuta Bambu, Megamendung, Bogor, pada 8–9 Agustus 2026.

MEGAMENDUNG, BOGOR,Parahyangan Post — Yayasan Mutiara Semesta Abadi bekerja sama dengan Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) menyelenggarakan kegiatan Tadabbur Alam & Life Skill Education di Pondok Ilmu Kuta Bambu, Megamendung, Bogor, pada 8–9 Agustus 2026.

Mengusung tema “Pulih, Berkarya & Bersama Menumbuhkan Harapan”, kegiatan ini dirancang sebagai ruang pembelajaran, pemulihan, dan pemberdayaan bagi para penyintas skizofrenia.

Peserta tidak hanya diajak menikmati suasana alam, tetapi juga belajar membangun kemandirian, kedisiplinan, kemampuan bersosialisasi, mengelola emosi, serta memahami kembali realitas kehidupan sehari-hari.

Kegiatan dibuka secara resmi oleh Dityaningsih Juliawati (Dita) selaku Pembina Yayasan Mutiara Semesta Abadi. Dalam sambutannya, Dita menegaskan bahwa setiap penyintas memiliki kesempatan untuk pulih, hidup bermartabat, dan kembali produktif apabila mendapatkan dukungan serta pendampingan yang tepat.

“Pemulihan bukan hanya tentang mengurangi gejala, tetapi juga mengembalikan harapan, martabat, dan kesempatan untuk berkarya,” ujarnya.

Ketua KPSI , Bagus Utomo dalam sambutannya mengajak masyarakat untuk menghilangkan stigma terhadap penyintas gangguan kesehatan jiwa. Menurutnya, penyintas bukanlah orang yang harus dijauhi, melainkan bagian dari masyarakat yang membutuhkan penerimaan dan kesempatan untuk menunjukkan kemampuan mereka.

Belajar dari Alam, Berkarya melalui Taman dan Berkebun

Selama dua hari, peserta mengikuti rangkaian kegiatan yang meliputi tadabbur alam, membuat taman, berkebun, olahraga, permainan kelompok, malam keakraban, shalat berjamaah, tausyiah, serta sesi berbagi pengalaman dan motivasi.

Dalam kegiatan tadabbur alam, peserta diajak menikmati ciptaan Allah, melakukan refleksi, dan berbagi rasa syukur. Sementara kegiatan membuat taman dan berkebun menjadi salah satu aktivitas yang paling berkesan.

Para peserta terlibat langsung dalam menata taman, menanam, dan merawat tanaman serta mengecat pagar pagar dan bebatuan. Mereka bekerja dalam kelompok, saling membantu, dan menyelesaikan pekerjaan bersama. Hasilnya adalah taman yang terlihat lebih rapi, asri, dan indah.

Kegiatan tersebut menjadi gambaran sederhana bahwa sesuatu yang baik membutuhkan proses. Tanaman tidak langsung tumbuh besar, begitu pula proses pemulihan. Dibutuhkan kesabaran, perawatan, lingkungan yang baik, serta dukungan dari orang-orang di sekitarnya.

Selain keterampilan dan kebersamaan, kegiatan ini juga memberikan pembelajaran penting tentang perjuangan dan realitas kehidupan.

Melalui berbagai permainan, kegiatan kelompok, hingga lomba membuat taman, peserta diajak memahami bahwa dalam kehidupan nyata selalu ada keberhasilan dan kegagalan, kelebihan dan keterbatasan, menang dan kalah, serta pengalaman yang menyenangkan maupun yang tidak sesuai dengan harapan.

Pembelajaran tersebut menjadi penting karena sebagian peserta masih menghadapi tantangan ketika berhadapan dengan situasi yang tidak sesuai dengan pemikiran atau harapan mereka. Perbedaan prestasi, pengalaman masa lalu, maupun situasi kompetitif terkadang dapat memunculkan rasa sedih, marah, kecewa, atau menjadi pemicu emosional.

Karena itu, melalui pendampingan mentor, psikolog, dan panitia, setiap situasi tersebut tidak dibiarkan berkembang menjadi hal negatif. Peserta diajak belajar menerima kenyataan, mengelola emosi, menghargai kelebihan dan keterbatasan diri maupun orang lain, serta memahami bahwa kalah bukan berarti gagal sebagai manusia dan memiliki keterbatasan bukan berarti tidak memiliki nilai.

Pesan yang ingin dibangun adalah bahwa kehidupan memang merupakan perjuangan. Setiap orang memiliki perjalanan dan kemampuan yang berbeda. Yang terpenting adalah terus berusaha, belajar, berkembang, dan menemukan cara untuk menghadapi tantangan secara sehat.

Dalam kegiatan tersebut, beberapa peserta sempat mengalami trigger emosional ketika mengingat pengalaman masa lalu, menghadapi perbedaan, persaingan atau menemukan situasi yang tidak sesuai dengan harapan mereka seperti pada saat pemberian apresiasi terhadap yang berprestasi

Hal ini justru menjadi pembelajaran penting bagi seluruh panitia bahwa proses pemulihan membutuhkan pendampingan yang konsisten dan memberikan pengertian.     Oleh  karena itu Mentor dan panitia berusaha hadir dalam setiap kegiatan, termasuk ketika peserta mengikuti permainan, berkebun, makan bersama, beribadah, maupun mengikuti kegiatan lainnya.

Dengan demikian, peserta tidak hanya mengikuti kegiatan, tetapi juga belajar bagaimana menghadapi situasi nyata dengan dukungan yang aman.

Kegiatan ini juga memberikan pengalaman hidup yang lebih teratur. Peserta mengikuti jadwal bersama, mulai dari bangun, shalat berjamaah, makan bersama, olahraga, berkebun, permainan, hingga waktu istirahat.

Rutinitas tersebut menjadi pengalaman penting karena dalam kehidupan sehari-hari sebagian peserta terbiasa menjalani aktivitas dengan lebih bebas tanpa jadwal yang terstruktur. Melalui kegiatan bersama ini, mereka belajar mengenai disiplin, tanggung jawab, kebersamaan, dan kemampuan mengikuti aturan

Ketua panitia sekaligus psikolog, Etna Maria, mengungkapkan rasa tertarik, haru, dan kekagumannya terhadap kegiatan tersebut.

Menurut Etna Maria, jika melihat kondisi penyintas sekitar 35 tahun lalu, situasinya sangat berbeda dengan kondisi saat ini. Kesempatan bagi penyintas skizofrenia untuk pulih, bersosialisasi, bekerja, dan berkarya dahulu jauh lebih terbatas.

Kini, ia melihat perkembangan yang sangat menggembirakan. Para penyintas mampu mengikuti kegiatan bersama, beribadah, bekerja sama, berkebun, mengikuti permainan, berbagi pengalaman, dan menunjukkan kemampuan mereka.

Etna Maria mengaku memiliki rasa ingin tahu yang besar terhadap perkembangan para penyintas sehingga selama kegiatan ia berusaha mendampingi dan mengamati berbagai aktivitas peserta.

Menurutnya, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa dengan pendampingan dan lingkungan yang tepat, penyintas dapat menjalani kehidupan dan berkarya sebagaimana anggota masyarakat lainnya.

Para peserta yang mengikuti kegiatan ini memiliki latar belakang yang beragam. Di antaranya ada lulusan SMP,  SMA, SMK, D3 bahkan beberapa lulusan S1 , serta peserta yang bekerja sebagai office boy, driver online, wirausaha, karyawan swasta , bekerja paruh waktu hingga pelaku usaha online

Keberagaman tersebut menjadi bukti bahwa perjalanan hidup penyintas tidak berhenti pada diagnosis atau kondisi yang pernah mereka alami. Mereka memiliki pendidikan, pengalaman kerja, keterampilan, dan kemampuan yang dapat terus dikembangkan.

Melalui kegiatan seperti ini, mereka mendapatkan ruang untuk kembali membangun kepercayaan diri dan menyadari bahwa mereka tetap memiliki kesempatan untuk berkarya dan berkontribusi.

Pada sesi penutupan, para peserta menyampaikan kesan dan pesan yang positif. Mereka merasakan kebersamaan, mendapatkan pengalaman baru, serta memperoleh kesempatan untuk belajar menghadapi diri sendiri dan lingkungan.

Sebagian peserta juga menyampaikan harapan agar kegiatan seperti ini tidak berhenti hanya sampai dua hari kegiatan, tetapi dapat dilanjutkan dengan pendampingan dan kegiatan berikutnya.

Harapan tersebut menjadi catatan penting bahwa proses pemulihan membutuhkan kesinambungan. Kegiatan dua hari dapat menjadi pemantik semangat, tetapi proses untuk membangun kemandirian, kemampuan bersosialisasi, mengelola emosi, dan kembali produktif membutuhkan pendampingan yang terus-menerus.

Menanggapi harapan para peserta, Dita menegaskan bahwa kegiatan ini bukanlah akhir, melainkan awal dari sebuah upaya pembinaan yang berkelanjutan.

Yayasan Mutiara Semesta Abadi berharap kegiatan seperti ini dapat terus dikembangkan bersama keluarga, tenaga kesehatan, komunitas, dunia usaha, masyarakat, dan terutama mendapatkan perhatian serta dukungan dari pemerintah.

Menurut Dita, penyintas skizofrenia bukanlah beban masyarakat. Mereka adalah bagian dari masyarakat yang memiliki hak, potensi, dan kesempatan untuk hidup mandiri serta produktif apabila mendapatkan pembinaan dan pendampingan yang tepat.

“Kami berharap kegiatan ini tidak berhenti sebagai sebuah kegiatan sosial, tetapi menjadi awal dari perhatian dan langkah nyata yang berkelanjutan. 

Kami mengajak pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah, untuk melihat bahwa para penyintas skizofrenia adalah bagian dari masyarakat yang memiliki potensi untuk pulih, mandiri, bekerja, dan berkarya,” ujar Dita.

Ia berharap dukungan pemerintah dapat diwujudkan melalui program yang berkelanjutan, termasuk pendampingan, pemberdayaan, pelatihan keterampilan, serta ruang bagi para penyintas untuk mengembangkan potensi dan berkontribusi di masyarakat.

“Mereka tidak membutuhkan belas kasihan semata. Mereka membutuhkan kesempatan, kepercayaan, pembinaan, pendampingan, dan ruang untuk berkarya. Kami berharap pemerintah dapat hadir lebih nyata melalui kebijakan dan program yang berkelanjutan, sehingga proses pemulihan tidak berhenti ketika sebuah kegiatan selesai. Jangan biarkan mereka berjalan sendiri. 

Berikan kesempatan, hadirkan pendampingan, dan bukakan ruang untuk berkarya. Karena ketika para penyintas diberi kesempatan untuk pulih dan produktif, mereka bukan menjadi beban, tetapi menjadi bagian dari solusi bagi keluarga, masyarakat, dan bangsa.”

Melalui Tadabbur Alam & Life Skill Education, Yayasan Mutiara Semesta Abadi 

bersama KPSI berharap semakin banyak pihak memahami bahwa pemulihan bukan hanya tentang kembali sehat, tetapi juga tentang kembali memiliki harapan, kepercayaan diri, kesempatan untuk berkarya, dan tempat yang layak di tengah masyarakat.

“Pulih, Berkarya & Bersama Menumbuhkan Harapan” bukanh sekadar tema, tetapi sebuah ajakan untuk bergerak Bersama agar tidak ada penyintas yang berjalan sendirian dalam proses pemulihannya. - (rd/pp)